Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
kekacauan


__ADS_3

Pasangan ini masih berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Hening menguasai terdiam dalam pikiran masing-masing. Arini menatap ke luar kaca mobil menatap pemandangan yang mereka lalui. Isi pikirannya terus tertuju pada tanda cinta Tirta padanya.


Suara dering ponsel Tirta membuyarkan lamunan Arini. Ia pun menoleh pada Tirta yang telah mengapit gawainya di antara telinga dan pundak.


“Ya Ian.” Tirta.


“Kamu di mana?” Rian.


“Di jalan.”


“Hari ini jangan pulang ke rumahmu dulu.”


“Ada apa?”


“Rumahmu sedang di kepung wartawan. Fotomu bersama Arini tersebar media. Katanya kamu mengaku sudah menikahi Arini.”


“Baiklah aku mengerti. Aku akan menjelaskan nanti.”


Panggilan terputus Tirta menghela napas berat ternyata secepat itu berita tentangnya tersebar. Pemuda ini tak khawatir tentang kariernya. akan tetapi Arini pasti akan mendapatkan hujatan dari fans garis keras yang tak terima idolanya telah menikah.


Tirta memutar stir kemudi berbalik Arah membuat Arini mengerutkan dahi dalam.


“Ada apa kakak?” tanya Arini memasang wajah penasaran, Tirta berubah niat setelah menerima panggilan telepon.


“Tidak ada apa-apa, kita tidak jadi pulang,” ucap Tirta melengkungkan senyuman seolah tidak terjadi masalah sedikit pun.


Melihat senyum itu Arini sedikit tenang. Namun kini berganti ponselnya yang berada di tas berdering. Arini meraih benda persegi itu. Menautkan alis saat menatap nama kontak yang menghubunginya.


“Iya. Ayah.”

__ADS_1


Tirta mendelik ke arah Arini yang terlihat memasang wajah cemas menerima panggilan telepon.


Setelah beberapa saat panggilan terputus menyisahkan wajah cemas pada Arini.


“Kak saya harus pulang!” rengek Arini.


“Ada apa?” tanya Tirta juga ikut cemas.


“Ayah menyuruh saya pulang, katanya seluruh tv memberitakan pernikahan kita, kondisi nenek menurun melihat berita yang menyudutkan saya,” jelas Arini dengan mata berkaca-kaca masih mencoba menahan laju air mata itu, takut terjadi sesuatu pada nenek Nani.


“Baiklah aku akan mengantarmu pulang.” Tirta menambah kecepatan laju kendaraannya agar cepat sampai di kediaman Abraham. Dia juga khawatir dengan keadaan neneknya.


***


Tak membutuhkan waktu lama mereka telah sampai. Dengan langkah cepat Arini masuk ke dalam rumah, berjalan menuju kamar neneknya di ikuti oleh Tirta dari belakang. Di sana telah berada ayah dan ibu mertuanya duduk di pinggir tempat tidur.


“Arini!” suara isakan nenek Nani semakin lirih saat melihat cucu menantu yang malang.


Ana mundur memberi tempat untuk Arini. Gadis ini mendekap tubuh ringkih itu. “Arini mereka menghujatmu, katanya kamu menggoda Tirta,” keluh Nenek Nani air matanya semakin jatuh berderai membasahi baju Arini.


“Sudah nek jangan di pikirkan, saya baik saja.” Arini mengelus punggung neneknya dengan lembut.


“Memangnya kenapa kalau kamu menikah dengan Tirta!” keluh nenek Nani.


“Sudah Nek biakan saja mereka, yang pentingkan itu semua tidak benar,” Arini semakin mendekap neneknya.


Tirta yang berdiri di samping ayahnya hanya bisa diam, menatap dengan rasa bersalah, semua kekacauan ini adalah ulahnya. Akan tetapi cepat atau lambat rahasia ini juga akan terbongkar, Arini adalah perempuan yang di cintai, hanya dia yang akan menjadi pendamping hidup selamanya.


“Ayah ingin bicara denganmu,” ucap Hasan dengan nada dingin, raut wajahnya mengeras. Melangkah lebih dulu ke luar kamar nenek Nani.

__ADS_1


Tirta mengela napas berat mengikuti langkah ayahnya. Kali ini sudah di pastikan dia akan berdebat lagi. Arini adalah kesayangan mereka, tentu saja tidak akan tinggal diam menantu mereka di rendahkan semua orang.


Tirta melangkah gontai ke ruang tengah, di sana telah berdiri ayahnya dengan tangan bersedekap, menatapnya tajam.


“Aku tidak bermaksud membuat semua seperti ini.” Tirta membuka pembicaraan lebih dulu seraya tertunduk merasa bersalah. Sebenarnya bukan Arini saja yang mendapatkan imbas dari pengakuan ini. Dia pun sama kariernya sebagai bintang papan atas pasti akan meredup.


Hasan menghela napas mencoba menahan amarahnya. Melihat Tirta tertunduk tak menampakkan keangkuhannya. “Jauhi Arini! Jangan menghubunginya lagi. Kamu selalu menyakitinya!” titah Hasan.


“Aku tidak menyakitinya!” bantahnya tak terima.


“Tidak menyakitinya!” sambar Hasan tersenyum miring, menatap sinis pada Tirta. Teringat bagaimana Tirta selalu memperlakukan Arini sesuka hatinya. Hasan masih beranggapan Tirta hanya akan mempermainkan gadis baik hati itu.


“Lihatlah semua orang menghujatnya karenamu!” tuduh Hasan.


Tirta mengangkat pandangnya. “Aku hanya mengakuinya sebagai istriku. Apa itu salah!” sanggahnya, emosi Tirta mulai naik. Dia memang selalu salah di mata ayahnya.


Tatapan kilat amarah membungkus pandangan ayah dan anak ini. Selalu saja seperti ini jika mereka bicara, akan berakhir dengan emosi.


Hasan memilih mengalah tidak ingin membahas ini lebih jauh, jika di teruskan akan membuat kondisi ibunya semakin memburuk.


“Lebih baik kamu selesaikan saja kekacauan yang kamu buat! Jangan menemuinya lagi,” ucap Hasan kemudian melangkah pergi meninggalkan Tirta yang mematung mendengar ucapannya.


Tirta tersentak mendengar kini dia mendapatkan larangan untuk bertemu dengan Arini. Ah masalah apa lagi ini, dia sudah mengakui Arini sebagai istrinya, kenapa begitu banyak halangan membentang. Tirta berdecak kesal menarik ujung rambutnya.


“Kenapa semua menjadi kacau seperti ini,” sungut Tirta.


 


 

__ADS_1


__ADS_2