
Arini berada di kamar Tirta, termenung menatap seluruh isi dalam ruangan. Menduduk kan tubuhnya di pinggir ranjang, memikirkan tentang apa saja yang baru dia alami. Pengakuan cinta yang di terima dari Tirta, serta mempertegas statusnya sebagai istri dari idola Dilan Magika. Semua serasa mimpi, dia tidak pernah menyangka hubungannya bersama idolanya bisa sejauh dan sedalam ini. Dia pun tidak tahu bagaimana isi hatinya pada suaminya? Apa dia bisa membuang perasaannya pada Andra?
“Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Tirta membuat Arini tersentak dari lamunannya, tersadar jika pemuda yang baru saja mandi ini telah duduk di sampingnya mengenakan pakaian tidur.
“Tidak ada,” kilah Arini gelagapan kemudian berdiri melangkah ke arah meja rias.
“Mau ke mana?” tanya Tirta menatap heran.
“Mengambil skin care Kakak? sebelum tidur harus pakai skincare kan,” Kata Arini meraih kotak perawatan wajah yang di miliki sang artis tahu kebiasaan Tirta dan ingat pada tugasnya saat tinggal bersama idola yang sangat peduli akan penampilan.
Tirta tersenyum melihat tingkah Arini masih saja peduli pada perawatan wajahnya. Pemuda ini sangat bahagia kini mereka kembali bersama dalam kamar ini seperti dulu Arini yang akan mengantarnya ke alam mimpi dengan mengusap wajahnya.
Suasana terasa canggung saat Tirta berbaring dan Arini mengusap lembut wajahnya dengan kapas, debaran jantung mereka menggila. Arini seakan tidak bisa bernapas saat Tirta terus menatapnya tanpa berkedip seakan terbius akan wajahnya. Arini begitu gugup menatap wajah suami idolanya.
“Terima kasih karena telah memilih tinggal bersamaku,” ucap Tirta dengan nada rendah masih tidak menyangka Arini memilihnya sebagai suami.
Arini hanya tersenyum tipis. “Kakak bertengkar lagi ya sama ayah?” Arini mengoles cream wajah dengan jari telunjuk. Tahu hubungan ayah dan anak ini memang buruk.
Tirta hanya mengangguk mengiyakan.
“Karena apa kak?” tanya Arini penasaran.
Pemuda ini terdiam tidak mungkin dia mengatakan jika karena kematian Andra. Arini pasti sedih jika tahu Andra telah tiada dari dua tahun yang lalu dan selama ini berkubang dalam penantian semu. karenanya Tirta lebih memilih merahasiakannya.
“Hanya sedikit masalah,” ucap Tirta setelahnya tidak ada pembicaraan lagi.
“Apa sudah selesai?” tanya Tirta saat Arini telah berhenti mengusap wajah tampannya.
“Sudah kak.” Arini beranjak menyimpan kembali kotak skincare ke meja hias kemudian berbalik mengarahkan manik matanya ke arah ranjang.
“Ayo tidur,” kata Tirta menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Arini berbaring di sampingnya.
Arini berdiri menelan salivanya kelat, mulai malam ini, sebagai istri setiap malam dia akan tidur di samping idolanya bukan ralat suaminya. Ah dia pasti tidak akan bisa tidur nyenyak dalam dekapan idolanya.
“Ayo naik. Atau kamu mau aku menggendongmu!” Tirta bangun menyibak selimutnya hendak turun, membuat Arini gelagapan, jangan sampai suaminya benar menggendongnya. Ia pun naik ke atas tempat tidur.
Arini meluruskan punggungnya di kasur yang nyaman, berbaring menatap langit-langit kamar. Tanpa kata Tirta lalu bergeser mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Arini lalu mendaratkan ciuman lembut di pipi istrinya, dari tadi Tirta memang menahan diri tidak meluapkan cintanya.
__ADS_1
Arini tersentak jantungnya semakin bergemuru dengan perlakuan Tirta.
Arini mengarahkan pandangannya pada Tirta sejenak manik mata mereka bertemu.
“Aku merindukanmu!” ucap Tirta dengan senyum menghiasi wajah tampannya, membuat Arini terbius dengan pesona sang artis. Arini menarik napas panjang, menahannya sebentar kemudian berbalik berganti posisi memunggungi Tirta, jiwa norak artis itu kembali datang. Duh mengapa sangat sulit untuk Arini melihat jika lelaki idola ini sebagai suaminya.
Tirta menghela napas saat melihat tingkah Arini pasti gadis ini melihatnya lagi sebagai artis idola. Membuatnya gemas sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak mencumbuinya. Ini adalah waktu yang sangat di nantikan kembali memadu kasih dengan wanita yang di cintainya.
Pemuda ini, lalu ini menarik lembut bahu Arini untuk berganti posisi, berbaring miring menatapnya. “Lihat aku!” Tirta mempertemukan pandangannya lalu
Cup
Tirta mengecup lembut bibir ranum Arini hingga membuatnya tertegun, debaran jantungnya semakin menggila.
“Itu tanda bibir, jika kamu melihat aku lagi sebagai idolamu maka aku akan memberikan tanda bibir agar kamu ingat kalau aku suamimu!” jelas Tirta mengingatkan bukan tanda tangan untuk Arini tapi tanda bibir dari suaminya.
Tatapan syahdu penuh damba terpancar dari sorot mata Tirta. Ia merapikan surai rambut yang menutupi wajah merona Arini. “Aku menginginkanmu sayang,” ucap Tirta dengan nada serak mata telah berkabut gairah, deru napas menggelora menerpa wajah Arini.
Sayang. Ah, kata sayang membuat jantung Arini semakin terpompa, wajahnya telah memanas semerah tomat. Sungguh dia tidak sanggup, belum sempat Arini bergerak menghindar Tirta lalu mengulur tangannya mengunci tengkuk leher Arini hingga tidak bisa bergerak. Tirta lalu menempelkan bibirnya, memanggut bibir manis itu. Arini terkesiap akan serang yang di terima, namun ia tidak bisa menolak, suaminya sedang menginginkannya.
Kecupan beralih ke seluruh bagian wajah Arini meluapkan perasaan cinta dan rindu yang membuncah. Perlahan Tirta mulai bergerak naik mengukung tubuh istrinya, bertumpu dengan kedua tangan, kini mereka akan kembali mengulang malam yang indah.
Kecupan-kecupan lembut turun menyusuri tulang rahang hingga ceruk leher. “Eugh,” Arini meleguh menahan rasa geli saat Tirta memberi jilatan, sesapan menandai kulit putih itu dengan tanda kemerahan.
Tangan Tirta tidak tinggal diam, mulai menerobos masuk ke dalam piyama Arini, meremass bagian bongkahan dada. “Ahh.” Arini mendesah nikmat membuat Tirta semakin terbakar gairah, menyusuri setiap inci tubuh istrinya, melepaskan setiap helai pelindung yang menutupi tubuh mulus itu.
“Ahh.” Kembali Arini mendesah, tubuhnya menggelinjang saat Tirta memainkan bukit kembarnya menghisap, menjilat memberikan sensasi nikmat seakan jiwanya melayang. Nafsu Tirta semakin menggelora.
Napas mereka telah terasa berat, tubuh pasangan ini telah panas terbakar oleh gairah, Tirta sudah tidak dapat menahan diri kemudian melepas pakaian yang ia kenakan. Mencium seluruh bawah Arini kemudian mulai memposisikan diri.
“Jangan tegang! Aku akan melakukannya perlahan,” bisik Tirta, ini adalah penyatuhan yang ke dua bagi Arini jadi wajar saja jika dia masih tegang dan teringat rasa sakit saat malam pertamanya.
Arini menarik napas panjang, memejamkan mata tanda jika ia telah siap menunjukkan bakti pada suaminya.
Arini mencengkeram punggung Tirta sambil menggigit bibir bawahnya. Saat Tirta mulai menyatuhkan miliknya ternyata masih sulit sangat dan sempit, namun dengan sekali sentakan mereka telah menyatu.
Tirta mulai menggerakkan pinggulnya pelan mengantarkan gelenyar kenikmatan yang menciptakan leguhan, desahan dari kedua. Dibawa kungkungan Tirta Arini memasrahkan tubuhnya, berpacu mengejar kenikmatan puncak. Menikmati awal malam panjang yang akan melahirkan malam indah berikutnya sebagai suami istri yang tidak akan terpisahkan lagi oleh jarak. Arini akan belajar menerima sentuhan Tirta sebagai suaminya bukan sebagai idola.
__ADS_1
Stopppppp ..... Skip dulu ....
jeng kunti: Yaelah ganggu aja ini ....
Bentar dulu aku lagi salfoknya bukan ke adegannya, tapi sayang banget skincarenya, Tirta kan sudah pakai perawatan wajah ngak lengket itu di muka dan badan Arini.
jeng kunti:Yaelah thor itu skincare Tirta mahal kagak lengketlah, bukan kaya author yang pakai cream kelly sama bedak viva nomor 4.
Buset Yaelah dia tahu aja ......
maaf ya kelamaan libur aku lagi ketempelan jeng kunti julid, jutek lagi....
__ADS_1