Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
hampa


__ADS_3

Malam telah larut berjuta bintang menguasai langit. Hari lelah kembali telah berlalu bagi pemuda tampan yang hampir menghabiskan seluruh waktunya dengan bekerja sebagai pemain peran.


Tirta turun dari mobil mewahnya menyeret langkah kaki yang terasa berat masuk ke dalam rumah. Tirta menghembuskan napas berat saat netra hitamnya mengarah pada sofa kosong tempat gadis cantik yang dulu duduk setiap malam menunggunya dengan banyak bungkus camilan di meja. Kini sudah tidak ada lagi Arini yang menyambutnya dengan senyuman merekah yang dapat mengurangi sedikit penatnya. Kosong dan sepi itulah yang saat ini dia rasakan.


Tirta duduk di sofa tempat biasa Arini menunggunya. “Ternyata ngak ada dia, rumah ini menjadi sangat sepi,” gumam pemuda ini kemudian bangkit menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Lagi dan lagi kenangan bersama Arini terus terlintas menari-nari di pikiran saat pemuda ini duduk di meja hias mengusap wajahnya sendiri dengan skincare perawatan wajah sebelum tidur.


“Kenapa aku selalu memikirkannya,” gerutu Tirta mengusap wajahnya dengan kapas sambil memberengut. “Mungkin ini hanya karena aku bergantung padanya. Ini hanya sementara, beberapa hari juga akan terbiasa, besok aku akan panggil kembali semua asisten rumah tanggaku, agar rumah menjadi ramai dan aku tidak mengingatnya lagi,” batin Tirta setelah itu beranjak tidur mengistirahatkan tubuhnya.


******


Mentari pagi menyambut Tirta telah siap menjalani hari seperti biasa. Kini dia berada di ruang makan menyantap selembar roti gandum sambil menatap nanar kursi tempat biasanya Arini duduki. Rasa sepi, kosong kini di rasakan oleh hatinya, mengingat jika dia suka diam-diam menatap Arini saat makan bersama dengannya terlihat sangat nikmat dan menggiurkan. Tirta bertanya-tanya di dalam lubuk hati tentang apa yang sedang dilakukan Arini yang jauh di sana.


Suara bel pintu membuat lamunan Tirta buyar seketika. Dengan langkah tak bersemangat dia berjalan untuk membuka pintu.


Rian berdiri menjulang diambang pintu setelah tadi Tirta menelepon untuk menjemputnya.

__ADS_1


“Arini mana?” tanya Rian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ketika masuk ke dalam rumah dan tidak mendapati gadis cantik yang selalu dia ajak berbincang mengenai tanda tangan artis.


“Sudah pulang,” jawabnya singkat kemudian duduk di ruang depan. Tirta menghubungi sahabatnya karena kini Rianlah yang menggantikan tugas Arini untuk menyiapkan keperluan syuting.


“Pulang? Kapan?” tanya Rian dengan wajah sedikit kecewa karena tidak mengucapkan selamat tinggal pada Arini.


“Kemarin.”


“Sayang sekali. Aku belum mengucapkan selamat tinggal,” sesal Rian. Tirta hanya diam mengendikan bahunya.


“Aku pasti akan merindukannya. Ngak ada dia ngak seru!” ujar Rian.


*****


Malam telah larut sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pelataran rumah. Tirta telah kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu seharian dengan kesibukannya di dunia keartisan.


Pemuda tampan ini turun dari mobil dengan pintu yang di buka kan oleh supir pribadinya kemudian melangkah kakinya.

__ADS_1


“Selamat malam mas,” sapa beberapa lelaki paruh baya menyambut kepulangan Tirta dia adalah penjaga rumah.


“Malam,” jawabnya singkat kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Tirta juga di sambut oleh beberapa asisten rumah tangga yang dari menunggunya siap menjalankan tugas.


“Selamat malam mas,” sapa perempuan paruh baya bernama Bi mina dengan senyum tipis menyambut Tirta di ambang pintu menjalankan tugas sama yang seperti Arini lakukan dulu.


“Malam,” balas Tirta, setelahnya menerobos masuk ke dalam namun langkahnya terhenti sesaat. Manik matanya lagi-lagi menatap kosong tempat duduk di mana Arini selalu duduk menunggunya, menyambutnya dengan senyum merekah. Sudut hatinya terasa hampa gadis itu benar-benar telah membuatnya menggila dan terus merindukannya. Setiap sudut ruangan semua terkenang olehnya, ruang depan, dapur, ruang makan, kamar semua terniang Arini.


Tirta kemudian meneruskan langkahnya masuk ke dalam kamar seraya menatap beberapa asisten rumah tangga yang menyapanya dan masih lalu lalang untuk mengurus keperluannya seharusnya dia tidak kesepian melihat semua itu nyata tidak.


Sudah beberapa hari Arini pulang ke rumah Abraham, hati Tirta masih juga di selimuti rasa sepi. Ia mengira jika rumah ramai kembali dengan pembantu, semua akan baik-baik saja nyatanya tidak, dia masih saja memikirkan Arini. Seolah bayangan seorang Arini tidak menggantikan seluruh orang yang berada dalam rumah mewahnya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2