Suami KeduaKu Artis Idola

Suami KeduaKu Artis Idola
fans


__ADS_3

Arini duduk bersandar nyaman di punggung sofa. Sudah hampir seharian dia duduk menunggu sang artis melakukan perawatan seluruh tubuh dari ujung kepala hingga kaki. Hanya karena jerawat satu di kening semua menjadi berantakan Tirta bahkan tidak melakukan syuting dan si sinilah Arini menunggu. Rasa jenuh menerpa benar menunggu adalah hal yang paling membosankan, namun tidak ada yang bisa dia lakukan. sebenarnya Tirta juga mengajak Arini untuk melakukan hal yang sama seperti yang Tirta lakukan namun Arini menolak dia tidak terbiasa dengan semua itu. Arini meraih ponsel memutuskan membunuh kejenuhan dengan menghubungi mertuanya yang jauh di sana.


Arini mengarahkan benda persegi itu di telinga. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terdengar suara.


“Hallo.”


“Ibu.”


“Arini, kamu dan Tirta baik-baik saja kan sayang?”


“Ia, bu kami baik-baik saja.” Arini


“Ibu apa kabar? Bagaimana dengan nenek?” tanya Arini.


“Kami semua baik-baik saja di sini? Nenek sudah baikkan dan mungkin kami akan pulang dalam beberapa hari lagi.” Ana.


“Benarkah bu?”


“Ia, sayang.


“Arini akan menunggu. Arini sudah kangen banget dan tidak sabar untuk bertemu.”


“Sabar sayang, nanti ibu beri kabar lagi.”


“Ia, kalian sehat-sehat di sana salam sama ayah dan nenek.


Panggilan terputus Arini memasukkan ponselnya  kembali ke tas. Ia menarik napas lega tidak lama lagi mertuanya kembali itu berarti dia juga akan segera pergi dari rumah Tirta, mengurangi beban si artis yang selama ini menjaganya.


“Ayo pergi,” ajak Tirta ternyata telah berdiri menjulang di hadapan Arini. Wajahnya tampannya terlihat semakin berseri setelah menerima perawatan dari dokter kecantikan. Tirta pun melangkah keluar yang di ikuti oleh Arini.


“Aku lapar. Kita makan dulu, baru pulang,” ucap Tirta berjalan ke arah mobil yang terparkir.


Arini hanya setia mengekori tanpa satu kata pun. ia pun juga merasakan lapar sama yang di rasakan oleh Tirta. bagaimana tidak telah berjam-jam dia menunggu, mengabaikan rasa lapar demi perawatan wajah sang artis tampan.


Tak beberapa lama mengendarai, mobil menepi di depan sebuah restoran mewah bernuansa jepang. Deru mesin pun sudah tidak terdengar.


“Ayo turun,” ajak Tirta menatap Arini yang celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.


“Ayo turun.” Nada suara Tirta terdengar tegas.


“Kak ini restoran mewah. Saya ngak biasa. Makanan di sini ngak cocok dengan lidah saya,” ujar Arini yang enggak bergerak dari tempat duduknya. “Kakak saja yang turun, saya tunggu di sini, saya makan nanti saja di rumah,” jelas Arini.


Tirta menghembuskan napas berat memutar bola mata malas dengan pendapat Arini. “Masa aku sendirian, kamu pikir aku tega! Makan sendirian!” Tirta berdecak.


“Jadi kamu mau makan apa?” tanyanya.


Arini hanya mengendikan bahunya, dia juga tidak mengerti makanan apa yang harus direkomendasikan, yang jelas makanan itu harus ada nasinya. Dan pilihannya itu adalah makanan yang perpantangan bagi Tirta yang menjaga berat badan.


Tirta kembali menghidupkan mesin mobilnya, membela jalan mencari sebuah tempat makan yang bisa untuk Arini dan dia yang seleranya bersimpangan.


Setelah berpacu mobil Tirta terhenti di sebuah rumah makan sederhana yang terlihat begitu ramai.


“Di sini saja. Aku dan Rian dulu suka makan di tempat ini,” ujar Tirta terdengar tidak punya pilihan lain, mengenang masa bersama Rian. “Di sini makanannya terkenal dengan bebek penyet yang sambalnya ada level kepedasannya,” jelas Tirta mematikan mesin mobil.


Arini menautkan Alisnya, menatap Tirta. “Kak ini menunya nasi dan makanan di sini pasti berlemak,” tutur Arini mengingatkan jika ini bukan kesukaan si artis.


“Ngak apa-apa, hari ini aku mengalah aku akan mengikutimu,” ucapnya dengan malas.


“Ayo turun.” paksa Tirta yang menatap Arini yang belum juga bergerak di tempat.

__ADS_1


“Kak di sini ramai sekali bagaimana nanti kalau kakak di serang fans minta tanda tangan?” tanya Arini terlihat khawatir dengan keadaan Tirta.


Tirta meraih topi berwarna putih serta kaca mata hitam yang memang selalu siap di mobilnya.


“Kamu tenang saja, ngak akan ada yang mengenali aku.” Tirta memakai atribut penyamarannya.


“Apalagi ayo turun.”


Arini pun mengikuti langkah Tirta, mereka masuk dan memilih tempat paling pojok menghadap dinding agar tidak ada yang mengenali Tirta.


Pelayan pun menghampiri membawa catatan. Tirta mulai memesan makan sedangkan Arini hanya terdiam baginya yang penting nasi.


Arini menggelengkan kepala saat mendengar begitu banyaknya jenis makanan yang di pesan Tirta bukan itu saja Arini membulat mata saat Tirta menyebutkan pesanannya. “level sambalnya pedas mampu mas,” kata Tirta diakhir pesanan.


“Kak,” protes Arini dia juga pecinta pedas, tapi dia tahu berapa jumlah cabe yang akan di masukkan ke dalam makanan mereka nanti.


“Biar kamu tahu kalau aku kuat dan suka makanan pedas.” Cibir Tirta dengan nada sinis seolah mengingatkan Arini tentang kejadian semalam dan Arini hanya tersenyum kaku.


Tak beberapa lama menunggu pesanan akhirnya datang juga. Mereka mulai menyantap makanan masing-masing, seperti biasa Tirta akan mencuri pandang saat Arini yang makan dengan lahap bak host dalam sebuah acara kuliner yang terlihat begitu menggiurkan.


“Bagaimana?” tanya Tirta menatap Arini sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Makanannya enak kak,” jawab Arini sambil mengunyah sesekali menghisap udara akibat sensasi pedas yang melekat di lidahnya.


“Kamu kuat?” tanya Tirta lagi.


Arini hanya mengangguk karena mulutnya yang mengunyah. setelah meloloskan makanan dari tenggorokan barulah dia bisa bersuara. “Pedas banget kak, rasanya mau mampus. Telingaku sampai terasa tuli,” seru Arini membuat Tirta menarik sudut bibirnya mendengar pendapat Arini. Wajah gadis ini memerah terlihat mengemaskan dengan bulir keringat mulai turun membasahi pelipis terlihat sangat tersiksa namun menikmatinya.


“Payah,” ledeknya akan kemampuan Arini.


Arini mendongak menatap Tirta yang gurat wajahnya bisa saja bahkan Tirta tidak berkeringat sedikit pun. “Kakak hebat,” puji Arini.


Tirta meraih tisu di meja lalu mengarahkan ke wajah Arini. “Sampai keringat gini. Kalau ngak sanggup udah berhenti,” ucap Tirta terlihat cemas mengusap kening Arini lembut dengan tisu.


“Makanannya Enak kakak, walaupun mau mampus tapi nagih ngak bisa berhenti,” ujarnya Arini semakin mengarahkan wajahnya pada Tirta agar pemuda itu mengusap seluruh keringat yang membasahi wajahnya sementara ia asyik mengunyah.


Deg ... deg ....


Jantung Tirta kembali berpacu dengan kencang saat wajah Arini semakin dekat dengannya. Sejenak dia terpaku menatap wajah cantik Arini, di tambah gadis ini tersenyum dengan perlakuan Tirta padanya membuat Tirta semakin terpesona. Tangan Tirta masih menggantung memegang tisu sedangkan wajah Arini sudah kembali menunduk menatap piring makan.


Tirta menyudahi makanannya saat tersadar dengan apa yang dia lakukan. Selera makannya menghilang, tertutupi oleh perasaan yang dirasakan yaitu detak jantung yang bergemuruh seakan ingin jatuh saat dekat dengan Arini.


Mereka telah selesai mengisi perut kini waktunya untuk pulang. Tirta berjalan lebih dulu sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya di ikut Arini dari belakang namun ternyata ada saja yang mengenali. Walau dia sudah mengenakan topi dan kacamata hitam bagaimana tidak tubuh tinggi atletis yang mencolok dengan pakaian yang stylis terlihat keren membuat orang dengan mudah mengenalinya.


“Dilan Magika ya? Artis itu?” sapa perempuan yang seumuran sekiranya dengan Arini, menghadang langkah Tirta. Arini berdiri di belakang Tirta hanya mengamati keadaan.


“Boleh minta foto,” pinta perempuan itu memegang ponsel.


Perempuan itu menutup mulutnya menahan teriakan saat Tirta mengangguk mempersilahkannya berfoto. Tirta sangat menghargai fans karena dia sadar, Dia tidak akan berada di titik tertinggi jika bukan karena dukungan fansnya.


“Tolong fotokan,” pinta perempuan itu menyodorkan ponselnya pada Arini. Yang Telah berdiri tegak di samping Tirta.


Arini yang tidak mengerti apa-apa, harus menjadi tukang foto, dia pun menerima ponsel perempuan itu lalu membidiknya.


“Satu lagi,” pintanya. Arini mengikuti saja setelahnya menyodorkan kembali ponselnya.


“Terima kasih kak,” ucapnya.


“Saya lagi,” ujar salah satu perempuan yang ternyata melihat si artis dan menyodorkan ponselnya pada Arini. Lagi gadis ini melakukannya.

__ADS_1


“Terima kasih kak,” ucap perempuan itu.


Tirta bergegas pergi tidak ingin jika semakin banyak lagi orang meminta fotonya. Tirta melanjutkan langkah ke mobil yang terparkir. Arini hanya mengekori dari belakang. Sejenak berpikir, jika dia juga fans Dilan Magika dan dia tidak memiliki tangan tangan artis idolanya dan apalagi foto bersama. Padahal tidak lama lagi dia akan pulang ke rumah mertua. Sebentar lagi Mereka akan berpisah yang entah kapan bertemu lagi.


“Kak Dilan!” panggil Arini membuat Tirta menghentikan langkah kemudian berbalik.


“Ada apa?” tanyanya


“Kak Dilan saya boleh minta foto juga kan? Saya kan fans kakak juga,” pinta Arini memasang wajah penuh pengharapan.


Tirta memutar bola mata, menatap malas.


“Kamu kan setiap hari bertemu denganku! Untuk apa?”


“Buat kenang-kenangan kak. Kalau saya juga ingin punya foto artis Dilan Magika,” jelas Arini ini adalah kesempatannya sebelum pulang.


Tirta tersenyum lucu dengan ucapan Arini, seorang istri minta foto bareng dengan suaminya.


“Baiklah sini!” panggil Tirta.


Arini menarik sudut bibirnya kemudian merogoh ponsel di tas. Setelah mengusap-usap layarnya. Arini pun telah siap dia mendekat ke arah Tirta


Mereka telah berdiri berdampingan dengan sedikit berjarak Arini sadar diri untuk tidak terlalu dekat dengan Tirta. Arini menggantung ponsel di tangan, mulai membidik mencari posisi yang pas untuk wajah mereka, namun Tirta mengambil alih ponsel Arini.


“Biar aku saja. Kalau kamu yang ada nanti kepalaku ke potong,” ujar Tirta yang memiliki tubuh tinggi.


Tubuh Arini oleng saat sebelah tangan Tirta terulur melingkar erat di pinggang Arini, menarik tubuh itu untuk semakin merapat tanpa cela dan badan Arini semakin menempel padanya. Kepala Arini menempel pada dada bidang Tirta. Suasana sedikit canggung untuk Arini, karena dia begitu dekat dengan idolanya. Membuatnya sedikit gugup.


“1 2 3.” Arini tersenyum kaku saat Tirta membidik dia belum siap.


“Lagi kak,” pinta Arini kali ini dia telah santai, berpose mengangkat jarinya membentuk huruf V, mengembangkan senyuman hingga gigi, putih ratanya terlihat, membuat Tirta menjadi gemas dengan tingkah Arini.


“Sekali lagi kak,” pinta Arini Tirta pun mengikuti ke ingin Arini pemuda ini membungkuk, mensejajarkan wajah mereka. Tirta menatap wajah Arini dan


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi mulus Arini membuat gadis ini tersentak, lalu berdiri terpaku menatap Tirta.


“Itu hadiah untuk penggemar spesialku,” ucap Tirta kemudian berlalu dengan senyum puas, ia juga tidak mengerti mengapa dia bisa melakukan itu, hanya karena dia sudah tidak tahan berdekatan dengan Arini, seakan tubuhnya bergerak sendiri mencium pipi mulus putih itu. Arini masih mematung dengan telapak tangan memegang pipi bekas ciuman dari Tirta. Rasanya bagaikan melayang saat Idolanya itu mencium pipinya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2