
Mentari pagi menyambut, bias sinarnya masuk melalui celah jendela menyilaukan mata pemuda yang sedang terlelap bergelung memeluk erat tubuh gadis yang juga terlelap di sampingnya. Tirta menyipitkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk, saat hendak meregangkan badan untuk mengumpulkan separuh jiwanya, dia tersadar jika saat ini tangannya melingkar di pinggang Arini yang masih memunggunginya.
Tirta menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum lucu menatap posisi tidur Arini yang masih sama seperti semalam memunggunginya. Bagaimana tidak istrinya itu terlalu tegang akan setiap sentuhan yang di berikan oleh Tirta. Membuat pemuda ini menjadi gemas untuk menerkamnya namun ia masih harus menahan diri membuat Arini terbiasa dengan dirinya.
Perlahan Tirta melepaskan uluran tangannya di pinggang Arini. Menarik bahu gadis itu pelan agar merubah posisi menjadi telentang, tidak ingin tubuh Arini merasakan pegal karena semalaman tidak berganti posisi, bahkan tidak bergerak sama sekali dan entah jam berapa Arini terlelap dari pola tidurnya yang belum terbangun gadis ini pasti baru saja tertidur hingga matahari telah menyambut Arini belum juga bangun sungguh bukan kebiasaan Arini.
“Aku baru memelukmu kamu sudah tidak bisa bergerak, bagaimana jika aku meminta hakku,” gumam Tirta berbaring miring, seraya tangannya rapikan rambut yang menutupi wajah cantik Arini dengan lembut diselingi senyum lucu.
Puas menikmati wajah cantik Arini yang terlelap, Tirta kemudian bangun. Ia harus kembali tidak ingin orang tahu jika dia datang tengah malam hanya untuk bertemu Arini.
“Aku pergi dulu,” kata Tirta mengecup sekilas bibir Arini lalu mengusapnya bibir ranum itu dengan ibu jari.
“Malam ini kamu lolos, lain kali aku akan mempertegas bahwa kamu adalah istriku. Aku bukan idolamu, tapi aku suami yang menginginkanmu,” batin Tirta dengan senyum menyeringai membingkai wajah tampannya.
Setelah membersihkan diri Tirta pun meninggalkan kamar dengan wajah penuh ceria menyambut hari, setelah tidur mendekap orang yang di cintai semalaman.
Tirta berjalan pelan mengendap-endap melalui ruang tengah, menatap pelayan yang telah memulai hari dengan membersihkan rumah ibarat pencuri dia adalah maling yang kesiangan karena terlambat bangun dan pergi.
“Tirta!” sapaan itu terdengar di telinga membuat pemuda ini terjengkit bak terciduk oleh pemilik suara yang ia tahu adalah perempuan yang telah melahirkannya.
Tirta menarik napas panjang lalu berbalik menatap ibunya.
“Ibu!” pemuda ini menarik paksa sudut bibirnya.
“Kamu di sini? Sejak kapan?”
“Emm ... Semalam aku datang untuk menemui nenek tapi ternyata dia sudah tidur,” alibi pemuda tinggi gengsi ini dengan tergagap, dia tidak mungkin mengakui jika ingin menemui Arini.
“Tirta ada sesuatu penting yang ingin ibu bicarakan padamu,” jelas Ana melangkah mendekat ke arah Tirta lalu menggiring putranya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Kini mereka telah duduk berdamping.
“Ada apa Bu?” tanya Tirta.
“Masalah Arini.” Ana mencengkeram erat tangannya, cemas jika pembahasannya ini akan menyinggung putranya yang baru saja kembali.
Tirta mengarahkan sorot mata datar pada ibunya.
“Ibu tahu kamu ngak bisa menerimanya, karena dia mantan istri kakakmu,” ujar Ana hati-hati. Apalagi saat Tirta menghembuskan napas panjang terkesan jengah.
Ana menggenggam tangan Tirta tertunduk. “Tirta ibu mohon tolong sedikit saja, buka mata dan hati kamu. Lihat Arini, dia gadis yang baik kamu sangat beruntung memiliki di sebagai istrimu," ucap Ana dengan permohonan di sertai bulir bening jatuh membasahi pipi.
Tirta hanya diam lidahnya keluh. Tak bisa mengungkap perasaannya jika dia telah menyadari kebaikan Arini dan mencintainya.
“Ibu.” Tirta mengangkat wajah ibunya agar menatapnya sungguh hatinya perih melihat tangisan ibunya.
“Tolong mulailah ubah perlakuanmu pada Arini, dia sangat baik jangan memperlakukannya lagi seperti asisten rumah tanggamu, dia istrimu,” jelas Ana beralih memeluk tubuh putranya.
“Ibu tahu,” batin Tirta.
“Saat itu ibu berkunjung ke rumah kamu, ibu melihat Arini mengerjakan semua perkerjaan rumah.” Jelasnya.
“Maaf Bu, saat itu aku tidak bermaksud seperti itu,” lirih Tirta mengurai pelukannya, menyesali perbuatannya saat itu cinta belum tersemat di hati, andai waktu bisa di putar dia akan memperlakukan Arini dengan baik.
Ana menyandarkan kepalanya di pundak Tirta.
“Tolong terima dia.”
Pembicaraan itu terhenti saat suara berat terdengar.
__ADS_1
“Apa Bu!” sentaknya membuat Ana membulatkan mata lalu bergegas berdiri menata Hasan yang ternyata mendengar pembicaraan mereka dan sekarang murka mendengar perlakuan Tirta pada Arini.
“Ayah!” ucap Ana pelan.
Ana berjalan beberapa langkah untuk menghadap tubuh Hasan.
“Jadi seperti itu perlakuannya pada Arini! Selama kita tidak ada!” hardik hasan menatap dengan mata menyala marah.
Tirta hanya duduk terdiam menerima kemarahan ayahnya, ia memang pantas mendapatkan semua itu.
"Ayah sudah,” bujuk Ana.
“Kita memang salah telah menitipkan Arini padanya!” bentak Hasan.
“Ayah tahan emosi aja, jangan memarahinya,”
“Dia memang tidak bisa diandalkan tidak seperti ....”
“Ayah!” potong Ana dengan suara meninggi mengingatkan Hasan jika ucapannya itu akan kembali membuat jarak pada Tirta.
Wajah Tirta seketika mengeras menahan amarah, tangannya terkepal erat seakan ingin meledak. Seketika berdiri, menatap tajam pada ayahnya.
“Kenapa diam? Ayah mau bilang jika aku tidak sebaik Andra. aku memang anak tidak sama dengan putra kesayanganmu itu!” hardik Tirta meluapkan amarahnya kini Hasan yang terdiam menyadari ucapannya.
“Tirta, tidak seperti itu Nak.” Suara Ana terdengar bergetar.
Tirta tersenyum miring lalu memutuskan untuk pergi membawa amarahnya.
“Tirta tunggu! Ayahmu tidak bermaksud seperti itu," kejar Ana mencekal pergelangan tangan Tirta.
__ADS_1
"Sudahlah Bu, aku pulang.”
Dengan penuh emosi Tirta meninggalkan rumah. Entah mengapa bahkan Andra menghilang namun ia masih hidup bayang-bayang kakaknya itu.