
"tidak usah saya akan pergi dengan Andro saja" ucapnya menolak secara halus
"Andro mau ngerjain tugas sama Effin, ya kan And" bukan Andro yang menjawab melainkan siren ibu dari Andro.
"Ha, a iya Andro baru ingat kalok Andro ada tugas kelompok sama Effin, Effin ayo kita ngerjain tugas di kamar mu" ucap andro
"tugas yang mana" ucap Effin bingung karena seingatnya tidak ada tugas kelompok yang di berikan oleh guru.
"itu loh yang di kasih pak ido kemarin yang tengah astronomi, ayo cepat ke kamar mu biar ku tunjukkan bukunya pasti Lo lupa" ucap Andro menari Effin untuk ikut dengannya ke kamar
"semuanya kami permisi dulu" ucap Effin
"iya nak" ucap bunda
"Nah kan Andro gak bisa nemenin biar Ariena saja" ucap papa
"Ayo Ariena temani Ilan" ucap ayah
"ma,pa, semuanya kami pergi dulu" ucap Ilan
Dengan malas Ariena bangun dari duduknya dan berpamitan kepada semuanya.
Ilan sudah siap mengendarai motor dengan Ariena yang duduk di belakang Ilan.
Banyak pasang mata yang melihat mereka seperti bertanya meminta jawaban kepada Ariena.
Kita juga tau hidup di kota dan di desa itu jauh berbeda. jika di kota mereka memilih memikirkan diri sendiri di banding harus mengurusi urusan yang tak ada hubungannya dengannya.
Sedangkan di desa kekeluargaannya lebih terasa sehingga rasa akan ingin tau mereka Sangat tinggi satu sama lain, lebih tepatnya kepo wkwkwk.
"Ehem, apa kita bisa bicara" ucap Ilan
"berhenti di warung itu" ucap Ariena menunjuk warung di pinggir lapangan bola kaki
Ilan meminggirkan motornya tepat di dekat warung. "Saya ingin bicara kok malah berhenti di sini" tanya Ilan bingung
__ADS_1
"Anda ingin bicarakan, ya sudah ayo kita bicara di sini" ucap Ariena berjalan masuk ke warung langganannya
Mereka duduk di bangku yang cukup jauh dari pembeli lainnya.
"Anda mau pesan apa" Tanyanya riena
"Samakan saja" Ucapnya
Riena mendatangi penjual bakso tersebut. "Bang, bakso kosong spesial 2 sama bakso bakar 4 tusuk dan minumnya es tehnya 2 bang" ucapnya
"Oke neng, ngiming-ngiming siapa itu neng cakep bener" Ucapnya
"Temen bang, gitu kok di bilang cakep sih bang, cakep lagi hobi" ucap Ariena
"Hobi apa yang cakep" Ucapnya bingung
"Itu loh j-hope,Jung hoseok,hobi, boyband kesuksesan arien" Ucapnya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang dalam
"Owalah kamu ini eneng-eneng wae" Ucapnya
"Iyooo Ariena"
Ariena kembali duduk bersama Ilan setelah memesan makanan.
"Apa yang ingin anda bicara tadi" tanya Ariena
"saya hanya mau tanya kenapa kamu menerima lamaran ini?" Ucap Ilan
"Oh itu, ya gimana lagi saya tak bisa menolak permintaan orang tua saya" Ucapnya
"Apa kamu tak akan menyesal menerima pernikahan ini" tanya nya lagi
"Menyesal......, Entah lah saya tak tau" Ucap Ariena menunduk
"Jika kamu tak setuju kamukan bisa menolaknya?" Ucap Ilan
__ADS_1
"Saya tak bisa menolaknya karena ayah saya sudah memberi kesempatan untuk pacar saya bicara kepada ayah tapi dia tak bisa di hubungi, jadi saya mau tak mau harus menerima pernikahan ini" Ucapnya
"Kamu memiliki pacar" ucap Ilan
"Iya, kenapa?" Ucapnya
"Tak ada saya hanya bertanya" ucap Ilan
"lalu kenapa Anda menerima perjodohan ini?" Tanya riena
"Saya sudah menolak tapi apa lah daya, saya tak bisa melihat orang tua saya bersedih" Ucapnya
Tak lama pesanan yang di pesan pun datang "ini neng bakso pesanannya" ucap pedagang bakso
"Makasih bang" ucap Ariena
"Iya silahkan di makan" Ucapnya lalu pergi mengantarkan pesanan untuk pelanggan lainnya
Ariena langsung mengambil dan memasukkan saus sambal begitu banyak di bakso miliknya sampai warna kua bewarna merah.
"Kamu mau mati ya" ucap Ilan terkejut melihat Ariena menuangkan saus begitu banyak
"Kenapa? Aku sudah biasa kok makan seperti ini, kalo tak ada saus rasanya tidak enak" ucap riena
"Terserah lah" ucap Ilan
"Hm" riena hanya berdehem tanpa ingin menjawab rasa malas sekali menjawabnya
Tak terasa sudah semakin sore merek pun bergegas untuk pulang.
"Bang ini uangnya,dan kembaliannya ambil saja" ucap Ilan
"Wah beneran ni" Ucapnya antusias "terimakasih ya pacar Ariena" ucapnya
"iya bang" ucap Ilan setelah itu mereka pergi dari warung itu.
__ADS_1
sedangkan Ariena tak mendengarnya karena dia sudah lebih dulu berjalan keluar, menyender di motor menunggu Ilan membayar makanannya.