
sekitar pukul enam pagi Ariena terbangun dia merenggangkan tubuhnya yang sakit. dia tidur dengan posisi seperti tadi malam rasanya badan remuk semua.
"ya ampun aku ketiduran. apa mas Ilan tidak menemui ku" ucap Ariena melihat sekeliling tak melihat keberadaan Ilan
"seperti benar mas Ilan tak menemui ku. lebih baik aku cari di rumah mungkin dia lupa atau mungkin dia lagi memiliki pekerjaan yang penting. lebih baik aku pulang saja" ucap Ariena berjalan membawa tas yang hanya berisi kartu identitas dan handphone
√-√-√-
Di rumah
sesampainya di depan rumah Ariena langsung turun dari ojek. setelah selesai membayar Ariena bergegas berjalan masuk ke rumah menuju kamar mencari keberadaan Ilan. tapi sayang dia tak melihatnya.
"Fin Fin! Fin" ucap Ariena mengetuk pintu membangunkan Effin
karena tak sabar akhirnya Ariena masuk kekamar Effin. Ariena menarik paksa tangan Effin sampai badannya jatuh kelantai dan kakinya masih ada di ranjang.
"aduh kak ada apa! kenapa banguni aku kasar banget. sakit kepala ku ni di cium lantai" ucapnya
"ya habisnya di banguni gak bangun bangun" ucap Ariena kesal
"bukanya kakak tadi malam lagi dineer sama bang Ilan dan kata bang Ilan gak pulang malam ini" ucap Effin
"ini udah pagi dan ya itu juga mau kakak tanya kamu liat mas Ilan gak?" ucap Ariena
"lah bukanya sama kakak ya kok mala tanya aku" ucap Effin bingung
"kakak juga gak tau tadi malam dia tidak datang kakak telpon juga nomor nya enggak aktif" ucap Ariena
"coba tanya sama bang Difan dia kan asisten pribadinya mungkin dia tau bang Ilan dimana" ucap Effin
__ADS_1
"oh iya ya kok bisa gak kepikiran. emang kalau lagi kacau pikiran ini mangkin tambah o'on" ucapnya mengomel pada dirinya sendiri
"ya udah kakak mau hubungi Difan dulu" ucap Ariena berjalan pergi meninggalkan Effin menuju kamarnya mengambil handphone di tasnya
"hallo" ucap Ariena saat sudah tersambung
"iya kakak ipar ada apa?" ucap Difan
"kamu tau gak mas Ilan ada di mana" ucap Ariena
"loh bukannya dia lagi pergi sama kakak ipar" ucap Difan
"pergi kemana? ini aku lagi ada di rumah" ucap Ariena bingung
"saya gak tau tapi bos mengirim email tadi malam sekitar jam sepuluh malam. dia bilang untuk sementara ini saya yang akan menangani perusahaan karena ia ingin berlibur. jadi saya pikir berlibur bareng kakak ipar" ucap Difan
"hallo kakak ipar. apa kakak mendengar kan ku" ucap Difan
"hm ya udah Fan kalau gitu terimakasih" ucapnya langsung mematikan telponnya
Ariena membuka lemari tapi semua pakaian Ilan masih utuh tidak ada yang berkurang. membuat Ariena frustasi memikirkan apa yang terjadi pada Ilan sebenarnya. saat ingin duduk di ranjang dia melihat box di atas nakas
Ariena berjalan mengambil kotak box berukuran sedang itu dan membukanya. memperlihatkan sepucuk surat dengan beberapa album dan aksesoris Bangtan. tentu saja itu membuat dia sangat senang mendapat hadiah itu. karena sebagia fans jika kita mendapatkan sesuatu yang berhubungan dengan idol kita itu akan menjadi kebahagiaan sendiri dalam diri kita apa lagi di beri langsung dari orang terpenting dalam hidup kita kebahagiaan akan berkali kali lipat.
setelah puas melihat isi box itu Ariena membaca surat yang di pegang nya
dear Ariena Asifa
...mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi. aku minta maaf karena tak bisa menemui mu untuk berpamitan. aku terlalu pengecut untuk menemui mu, maafkan aku yang terlalu egois ingin melikimu. padahal aku sudah tau kamu memiliki kekasih tapi aku tak peduli dan tidak mau tau menganggap semuanya hanya kebohongan dan bodohnya lagi aku tak mencari tau siapa pacar mu. aku benar-benar egois naif hanya karena aku mencintaimu aku ingin menjadi kan mu milikku tanpa bertanya apa yang kamu inginkan. tapi sekarang aku sadar seharusnya aku tak jadi duri dalam hubungan kalian berdua dan membiarkan kalian bahagia bersama. aku akan segera mengurus perceraian kita. semoga kamu dan Nandra bahagia selamanya....
__ADS_1
...selamat ulang tahun my heart :) dan semoga kamu suka dengan hadiah yang aku berikan....
^^^Ilan Mahendra^^^
^^^^_^^^^
Ariena menangis sejadi-jadinya dia menjatuhkan box yang di pegangnya membuat semua isi dalam box itu berserakan . dari mana Ilan mengetahui hubungannya dan Nandra itulah yang terus berputar putar di pikirannya.
"kenapa kamu pergi tanpa mendengar kan penjelasan dari ku terlebih dahulu mas, apa aku tak berhak menjelaskan semuanya kepada mu" ucap Ariena di tengah isak tangisannya
"kebahagiaan ku itu kamu mas. tolong kembali lah aku gak bisa hidup tanpa mu"
"ya ampun kak Na kenapa kakak menangis?" ucap Effin menghampiri Ariena yang duduk di lantai dengan memegang kertas di tangannya
"Fin ini cuma mimpi kan? tolong bangunkan kakak dari mimpi ini. ini sangat mengerikan kakak takut Fin" ucap Ariena di pelukan Effin
"mas Ilan gak mungkin kan ninggalin aku. aku gak mau pisah dengannya Fin" ucap Ariena terus menangis
"sudah kak jangan menangis. mungkin bang Ilan hanya membutuhkan waktu kakak tenangkan diri mu kakak harus kuat. wanitanya hobi harus kuat gak boleh cengeng" ucap Effin mengelus rambut panjang bergelombang kakaknya setelah membaca surat yang ada di tangan Ariena
"mas Ilan ninggalin aku Fin" ucapnya "lebih baik aku m**i aja" ucap Ariena memberontak agar Effin melepaskan pelukannya
"kak jangan bicara seperti itu. bang Ilan pergi untuk menenangkan pikiran dan hatinya dia gak ninggalin kak kok" ucap Effin memberi pengertian
"kakak mau ke rumah mamah. kakak mau cari mas Ilan di rumah orang tuanya" ucap Ariena menghapus air matanya yang mengalir
"ya udah biar Effin antar" ucapnya
"gak usah. kakak bisa sendiri kamu lebih baik sekolah biar ini jadi urusan ku" ucap Ariena pergi kekamar mandi meninggalkan Effin yang diam melihat Ariena masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
__ADS_1