
"gimana ya aku pun bingung Ariena tapi jika kamu tak memberitahunya, masalah akan semakin rumit jangan sampai hubungan mu dengan Nandra jadi bumerang dalam rumah tangga mu Na" ucap Naya
"Kau salah nay justru pernikahan ku lah yang jadi bumerang dalam hidup ku, kenapa takdir ku seperti ini" Ucapnya
"Astagfirullah Ariena kamu gak boleh bicara seperti itu, mungkin sekarang kamu tak menyukainya takdir yang kamu jalani sekarang. tapi kitakan gak tau kedepannya, Allah maha membolak-balik hati, aku tau pasti sulit menerima semua ini tapi ini sudah takdir yang harus kamu jalani dengan ikhlas" ucap Naya memegang bahunya
"Puyang, ayo Puyang Deli mau Puyang" ucap Deri menghentikan obrolan Ariena dan Naya
"Iya-iya ini kita pulang" ucap Ariena lembut
"Nay aku pulang Luan ya Deri udah mulai rewel ni" ucap Ariena
"Iya, dada Deri ,uumaah, pokoknya Lo harus pikirkan kembali perkataan ku" ucap Naya mencium pipi gembul Deri
"Assalamualaikum" Ucapnya
"Waalaikumsalam" jawab Naya
'di rumah'
Pukul 13:00
'tok tok tok' suara pintu di ketuk. Ilan membuka pintu kamarnya
"Iya bunda" ucap Ilan
"Apa Ariena sudah pulang" ucap bunda
"Belum Bun ada apa ya" tanya Alan
__ADS_1
"Bunda cuma mau tanya kamu mau makan tidak, karena Ariena belum pulang biar bunda yang ambilkan" ucap Bunda
"Nanti saja Bun Ilan belum lapar" Ucapnya
"Baiklah jika kamu lapar bilang saja biar bunda ambilkan" ucap bunda
"Iya Bun" ucap Ilan
"sial, padahal aku sangat lapar perutku sakit. gara-gara tangan ini aku jadi gak bisa makan" batinnya
jarak warung ke rumah sekitar 5 menit sesampai di rumah Ariena langsung memakirkan kendaraannya di halaman rumah. Ariena langsung menggenggam tangan deri .
"Nenek"
"Nenek"
"Di mana ya nenek" ucap Ariena seolah oleh sedang bertanya kepada Deri
Bunda memeluk cucunya itu dan menggendong membawanya ke ruang keluarga.
"Wiiii apa ini banyak kali jajannya minta nenek satu ya" ucap Bunda
"Gak oyeh ini punya Deli" ucap Deri
"Sini nenek bukakan es krimnya " Ucapnya membuka lalu memberikannya kepada Deri
"Na kamu kok lama banget ke tempat kakak, katanya sebentar, Ilan belum makan itu tadi bunda tanya dia bilang nanti saja tapi dia belum makan dari tadi pagi sepertinya dia segan ingin memintanya dari bunda, jadi lebih baik kamu urus suami mu dulu tangannyakan masih sakit" ucap bunda
"Iya" Ariena langsung pergi meninggalkan cucu dan nenek itu
__ADS_1
Ariena membuka pintu dan terlihat Ilan duduk di kursi balkon menatap langit yang cerah. "Anda mau makan" ucap Ariena membuat Ilan tersadar dari lamunannya
"Ha" Ucapnya bingung
"Anda pasti belum makankan jadi apa mau saya ambilkan" tanya Ariena lembut
Ilan hanya mengangguk karena perutnya sudah sangat lapar, beberapa menit kemudian Ariena membawa makanan dan segera air putih untuk Ilan dan menaruhnya di meja dekat kursi Ilan.
"Ini" Ucapnya
"Terimakasih" ucap Ilan
Ariena melihat Ilan memegang sendok dengan tangannya yang sakit, karena terasa sakit dia menggunakan tangan kirinya. tak terbiasa dengan tangan kiri membuat dia kesulitan untuk makan.
"Sini aku suapin" ucap Ariena spontan
Ilan melihat Ariena sedikit menaikan alisnya dan itu membuatnya sangat malu "dasar ni mulut ya asal nyerocos aja" batin Ariena kesal
Dengan cepat Ariena langsung mengambil sendok yang di pegang Ilan, sudah telanjur malu Ariena dengan cepat menyuapi Ilan, sedangkan Ilan hanya diam tanpa ekspresi menatap Ariena membuat Ariena mangkin salah tingkah.
"Biasa aja kali liatnya" ucap Ariena
"Kenapa suka-suka saya lah mata-mata saya kenapa rupanya" Ucapnya datar
"Kalau liat yang lain ya silahkan tapi ini kan wajah ku jadi aku berhak dong memberi ijin siapa yang boleh liat wajah ku" ucap Ariena tak mau kalah
"Oh ya sudah kamu tutup saja wajah kamu dengan ini koran" ucap Ilan menuju koran di meja
"Ih lama-lama ni orang ngeselin banget sih, ku terjunkan dari balkon seru kali ya" gumangnya pelan
__ADS_1
"Apa kamu bilang" ucap Ilan pura-pura tak dengar
"Bu'bukan apa-apa aku bilang cepat habiskan makan nya. aku mau bantu bunda masak" ucap Ariena ngeles. Tanpa Ariena sadari Ilan tersenyum melihat Ariena yang kebingungan mencari alasan.