SUAMI PERJODOHAN

SUAMI PERJODOHAN
Eps 65


__ADS_3

-√-√-√


Di Sekolah


Effin nampak cemas dia terus memikirkan Ariena hatinya sangat tak tenang.


"kenapa tadi aku tak menemani kak Na ke rumah mertuanya bodoh sekali aku! membiarkan kak Na pergi kesana sendiri padahal aku tau masalah ini pasti akan membuat mertuanya sangat marah. bodoh kau Effin bodoh!" ucap Effin terus mengumpat membodoh bodohkan dirinya sendiri


"lebih baik aku pulang saja perasaan ku beneran gak tenang" gumangnya memakai tas ransel di mejanya


"woy Fin mau kemana Lo! bentar lagi bel masuk" ucap Danil tapi tak di hiraukan Effin


"kenapa dia kuda Nil kok bawa bawa tas?" ucap Lani yang baru masuk kelas


"kuda Nil,kuda Nil gue ini manusia bukan hewan" ucap Danil sewot


"iya Lo manusia tapi kelakuan kaya hewan" ucap Lani tertawa puas


"wah ni anak ya ngajak ribut pagi pagi" ucap Danil menatap Lani tajam


"becanda,becanda,selow,selow,woles. kalem bos" ucap Lani tersenyum


"Effin kenapa pergi sebentar lagi kan masuk" ucap Lani


"tah gue gak tau, tu anak kenapa dari tadi pun dia diam aja" ucap Danil


-√-√-√


Effin sudah sampai di pagar rumah Rendra Mahendra. Effin turun dari ojek dan langsung menghampiri post satpam.


"maaf pak apa kak Ariena ada di sini?" ucap Effin

__ADS_1


"non Ariena tadi udah pulang den sekitar setengah jam yang lalu" ucapnya


"oh gitu. terimakasih kasih pak kalau gitu saya permisi" ucap Effin


"loh den Effin gak mau masuk dulu" ucap satpam yang memang sudah mengenali Effin adalah adik ipar dari anak majikannya


"tidak usah pak. sampaikan saja salam saya pada paman dan bibi" ucap Effin bergegas pergi menaiki motor ojek itu


-√-√-√


di rumah


sesampainya di halaman rumah Effin langsung berjalan cepat mencari Ariena. dia sangat khawatir karena Ariena sebelumnya juga memiliki mental yang kurang baik. dia cenderung tak bisa mengendalikan diri dan akan menyakiti diri sendiri atau berteriak histeris karena trauma di masa lalunya. semua itu akan terjadi jika dia tertekan atau kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidupnya.


dan benar saja saat Effin sudah sampai di kamar kakaknya. dia melihat bantal selimut baju bajunya sudah berserakan di lantai. sedangkan Ariena duduk di sudut kamar itu dengan memegang kertas di tangannya.


"ya Allah. kak Ariena kenapa semua berantakan begini" ucap Effin berjalan mendekati Ariena


"semua orang meninggalkan ku" ucap Ariena di sertai dengan tangisannya


"kau bohong semua orang meninggalkan ku bunda ayah mama papa dan mas Ilan mereka semua jahat mereka gak sayang sama ku" ucap Ariena


"ssstttt, jangan bicara seperti itu kak. tidak ada yang meninggalkan kakak sendiri buktinya liat Effin di sini. kami semua sayang sama kakak, mereka hanya sedikit marah besok juga pasti mereka akan baik baik saja dan pasti mereka akan melupakan segalanya" ucap Effin menghapus lembut air mata di pipi kakaknya


"sudah kak jangan menangis lagi. kakak jelek banget kalau lagi nangis. kalau jhope tau pasti dia sedih banget ngeliat pacar Halunya gak cantik lagi" ucap Effin sambil membantu Ariena untuk duduk di ranjang


ternyata ucapan Effin sangat manjur. Ariena langsung berhenti menangis meski masih terdengar suara senggugukan.


"kak Na pasti belum makan biar Effin buatkan makanan untuk kakak" ucap Effin keluar kamar tanpa jawaban dari Ariena yang hanya diam menatap Poto pernikahannya yang cukup besar di dinding yang berhadapan langsung dengan ranjangnya.


pukul delapan malam Effin masuk ke kamar untuk melihat keadaan Ariena. terlihat piring berisi makanan yang masih utuh dan air yang tampan tak tersentuh. sejak pagi tadi sampai malam Ariena hanya membersihkan diri dan mengganti pakaiannya

__ADS_1


"kak... kenapa belum di makan kak. nanti kakak sakit" ucapnya


Ariena hanya diam tanpa mau menjawab atau pun melihat effin. matanya terus saja menatap Poto pernikahannya


"ya udah kalau gitu biar Effin suapin ya kak" ucap Effin mengambil piring dan menyuapi Ariena tapi lagi lagi Ariena tak merespon bahkan saat sendok sudah tertempel di bibirnya pun Ariena tak bergeming. dia malah mengubah posisi tidurnya memunggungi Effin.


Effin membuang nafas kasar dia pasrah tak tau lagi harus bagaimana. bahkan cara jitu dengan membawa nama Bangtan pun sudah tidak berpengaruh apa pun untuk Ariena dia sudah seperti m**i rasa bagaikan raga tanpa jiwa.


"ya udah kakak istirahat, Effin mau ke bawa dulu" ucap Effin menyelimuti Ariena sampai menutupi lehernya


Effin beranjak dari duduknya berjalan keluar dari kamar Ariena. sebenarnya dia bingung harus bagaimana karena di kota yang baru ini mereka tak punya kenalan selain keluar Ilan. apalagi melihat keadaan Ariena yang seperti ini membuatnya semakin kebingungan harus berbuat apa.


malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam Effin kembali lagi ke kamar untuk melihat keadaan Ariena. saat sampai Effin melihat Ariena sudah menggigil di balik selimut.


"kak badan kamu panas. ayo kita ke rumah sakit" ucap Effin memeriksa kening Ariena yang begitu panas


Ariena menggeleng dia tak mau pergi ataupun keluar dari kamar walau hanya semenit saja.


"badan kakak panas banget kalau gak di periksa dokter takutnya mangkin parah" ucap Effin. lagi lagi Ariena hanya menggeleng air matanya kembali membasahi pipinya


Effin sudah kehilangan akal dan akhirnya dia menelepon Difan untuk memanggil dokter agar datang ke rumah memeriksa Ariena.


"gimana kondisi kakak saya dok?" ucap Effin


"tubuh kakak anda sangat lemah dan demamnya sangat tinggi. lebih baik kakak anda di bawa ke RS agar mendapat perawatan intensif" ucap dokter keluarga Mahendra


"sudah saya bujuk tapi dia menolak dok. apa bisa kakak saya di rawat di rumah saja dok" ucap Effin


"bisa saja tapi tolong selalu awasi sampai panasnya turun. tapi jika sampai subuh panasnya tidak turun juga kita harus membawanya ke RS. untuk sekarang saya hanya memberikan infus penambahan tenaga dan nutrisi karena nona Ariena yang tak mau makan. tapi tolong di bujuk lagi agar dia mau makan" ucap dokter


"baik dok kami akan usahakan membujuknya agar kakak mau makan, dan terimakasih dok maaf sudah mengganggu istirahat anda" ucap Difan

__ADS_1


"tidak papa ini memang sudah tugas saya sebagai dokter. jika terjadi sesuatu hubungi saya." ucapnya mereka hanya mengangguk paham. "baiklah kalau begitu saya permisi" ucap dokter


"ayo dok akan saya antar sampai depan" ucap Difan


__ADS_2