
saat sekretaris itu pergi Ariena memandang wajah Ilan yang menatap kepergian sekertaris itu.
"Apa yang mas liat. tertarik dengannya? Apa mau aku colok mata mas!" ucap Ariena sinis
"Aku tidak melihatnya aku juga tak tertarik dengan wanita seperti itu, aku cuma mau liat dia menutup pintu atau tidak" ucap Ilan santai
"Bulsit sejak kapan kamu peduli dengan pintu tertutup atau tidak. dasar lelaki mata keranjang" ucap Ariena dengan kedua tangan di lipat kedada
"Aiihhh mulutnya ya asal jeplak aja" ucap Ilan berdiri dari duduknya mencubit pipinya "kan udah ku bilang aku gak tertarik dengannya. Aku sudah memiliki istri sesempurna kamu aku tidak akan pernah menduakan kamu my heart" ucap Ilan memeluk Ariena
Bagaimana tersengat listrik tegangan tinggi Ariena diam mematung entah karena di panggil my heart atau kata-kata menduakan membuat ia tertampar. Atau dua-duanya entah lah.
dua kata itu membuat hati dan batinnya tercabik-cabik sedih bahagia dua kata itu berkumpul menjadi satu.
"Jangan marah-marah lagi ya. Hm" ucap Ilan mengelus pipi chubby Ariena
Sedangkan Ariena masih diam mematung dengan pikirannya.
"Na. Ariena. he!" Ucap Ilan menyadarkannya
"Hm iya" ucapnya
"Iya. Apanya yang iya?" Ucap Ilan
"Anu itu emm" ucapnya bingung
"Apanya itu anu apa? Kamu ini kenapa sih kok bengong" ucapnya "baiklah aku minta maaf tadi aku beneran gak bermaksud melihat dia. Jangan marah lagi ya Na" ucap Ilan melihat wajah Ariena dengan dekat
"iya. Udah yok kita makan nanti masakan ku keburu dingin" ucap Ariena menarik tangan Ilan untuk duduk di sofa
Sekitar 5 menit akhirnya mereka selesai makan.
"Hm... mas boleh tanya?" ucap Ariena
"Boleh" ucap Ilan sambil sedikit melonggarkan dasi yang di kenakan
"sih Linda sekertaris kamu di mana kenapa aku gak pernah liat dia lagi" ucap Ariena
"Mas pecat" Ucap dingin
"Kenapa?" Tanya Ariena penasaran
"Mas rasa kamu sudah tau alasannya. Jadi mas tak perlu lagi menjelaskannya" ucap Ilan menyandarkan tubuhnya di sofa
__ADS_1
"Tapi aku mau dengar sendiri dari mulut mas" ucap Ariena
"Hm.. baiklah" ucap Ilan membuang nafas
Setelah Ilan menjelaskan semuanya mata Ariena berbinar-binar terharu senang bahagia dan sedih karena satu kantor harus lembur karena ulahnya itu yang dia rasakan. Tanpa di duga Ariena mencium pipi Ilan.
"Terimakasih, dan maaf membuat mu malu dengan sikap ku di depan para karyawan mu" ucap Ariena menunduk malu karena kelakuan spontannya. Ariena langsung mengambil tasnya di meja dan membawa rantang yang iya bawa tadi
baru jalan ************ Ilan langsung menariknya membuat Ariena jatuh di pangkuannya. sedangkan rantang yang dia bawa jatuh berantakan di lantai.
"Ih mas kenapa narik aku kuat banget tangan aku sakit dan liat tantangannya jatuh jadi berserakan" protes Ariena menutup kegugupannya
"Maaf aku gak sengaja" ucap Ilan mengelus tangan yang dia tarik 'cup,cup,cup' Ilan mencium tangan Ariena beberapa kali
"Gimana masih sakit" ucap Ilan memandang wajah Ariena
Ariena hanya menggeleng karena tarikan Ilan tidak begitu sakit tadi dia hanya terkejut saat Ilan menarik dirinya.
"Jangan bergerak biar begini" ucap Ilan saat Ariena memaksa tubuhnya untuk turun dari pangkuan Ilan
"Aku risih nanti ada yang liat gimana" ucap Ariena jantungnya berdetak tak karuan
"Tidak akan ada yang berani masuk karena ini jam istirahat" ucap Ilan
"Tadi kamu mencium ku jadi aku ingin di cium lagi" ucap Ilan
"Gak mau" ucap Ariena memundurkan kepalanya
"Bukanya kamu bilang terima kasih. Aku gak butuh ucapan terimakasih mu jika mau berterimakasih lakukan dengan ciuman seperti tadi" ucap Ilan
"Dasar mesum! mencari kesempatan dalam kesempitan. kalau aku gak mau gimana" ucap Ariena
"Ya udah tidak perlu berterima kasih" ucap Ilan membuang muka
sikap Ilan membuat hatinya jadi serba salah.
"apa mau melakukannya di sini? aku malu nanti ada yang liat " ucap Ariena dengan suara pelan
"Tidak perlu takut nikmati aja" ucap Ilan mengunci pintunya dengan remote control yang ada di meja sofa.
Jantung Ariena berdetak tak karuan saat Ilan memandangi nya. dengan malu-malu dia mencium pipi Ilan sekilas.
saat Ariena menunduk malu Ilan mengambil kesempatan untuk mencium bibir Ariena.
__ADS_1
Ariena hanya bisa terpejam saat bibirnya bersatu dengan Ilan dia hanya bisa pasrah menerima Sentuhan lembut itu. saat ciuman itu semakin dalam. suara dari handphone Ilan terus berdering mengganggu kesenangannya. dengan kesal dia mengangkat telponnya.
"Ada apa" ucapnya tegas
...
"Tunggu lima menit saya akan kesana" ucapnya langsung mematikan telpon
"Alhamdulillah untung aja ada yang telpon" batinnya bernafas lega
"Na, aku harus pergi ada meeting penting. kamu di sini aja ya?" ucap Ilan
"enggak ah aku pulang aja, di sini sendirian nunggu kamu bosen. mending di rumah tidur" ucap Ariena
"kamu ini ya tidur aja gak capek apa" ucap Ilan mencubit pipinya
"au sakit mas. jangan di cubit dong... sakit tau" ucap Ariena
"ya gimana abisnya pipi chubby kamu menantang kan jadi gemes aku liatnya" ucap Ilan sambil tersenyum
"ihhh udah lah aku mau pulang lama-lama di sini bisa bengkak ni pipi aku" ucap Ariena turun dari pangkuan Ilan mengumpulkan rantang yang berserakan tadi
"udah jangan di beresin biar office boy aja nanti yang bersihkan, kamu pulang aja nanti aku jemput kamu setelah meeting Selesai" ucap Ilan menarik tangan Ariena agar berdiri
"mau kemana rupanya?" tanya Ariena
"rahasia" ucap Ilan berbisik di telinganya
"ya baiklah terserah kamu aja" ucap Ariena berjalan menuju pintu saat ingin membuka pintu ternyata pintunya tidak bisa di buka
"kok gak bisa di buka ya" gumangnya
"kenapa belum keluar" tanya Ilan berjalan mendekati Ariena
"pintu nya gak bisa di buka sepertinya pintu ini macet mas" ucap Ariena
"bukan macet tapi ini terkunci kan tadi mas kunci" ucap Ilan
"ya udah kalau gitu buka pintunya aku mau keluar" ucap Ariena
Ilan mendekat kan wajahnya pada Ariena saat Ariena ingin mundur Ilan sudah menahannya dengan memeluk tubuhnya dengan erat dan menciumnya kembali melum** dengan ganas membuat Ariena melotot dan kewalahan mengatur nafasnya yang terhenti karena ulah sang suami.
"dasar mesum, cepat buka pintunya" ucap Ariena dengan wajah kesalnya saat Ilan Selesai menciumnya
__ADS_1
"terimakasih" ucapnya tersenyum "iya-iya ini aku buka pintunya" ucap Ilan mengusap bibir Ariena yang basa karena ulahnya dan langsung membuka pintunya dengan remote control yang di pegangnya. Ariena langsung bergegas keluar ruangan Ilan dengan wajah merona