
"Dasar laki-laki aneh tadi katanya terserah mau panggil apa tapi aku gak mau panggil dia mas malah ngambek, dasar aneh" gumangnya
akhirnya mata Ariena mulai tak bisa di ajak kompromi dan mulai mengantuk dan akhirnya dia tertidur.
Tak lama Ilan selesai dengan pekerjaannya saat ingin menaruh laptop di meja hias, ia melihat jendela di dinding kamar Ariena yang menghubungkannya dengan kamar sebelah, ia tak tau itu kamar siapa karena jendelanya terkunci.
"Aneh sekali di kamar ada jendela" gumangnya bingung tak mau ambil pusing Ilan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
"jika di lihat sedekat ini dia cantik juga" Ucapnya. jarak di antara mereka hanya sekitar tujuh senti karena sangat mengantuk akhirnya Ilan ikut terlelap di samping Ariena.
Sinar mentari terpancar dari sela-sela tirai yang tak tertutup dengan rapat mulai mengusik tidurnya, Ariena terbangun saat ingin bangkit dengan mata yang masih tertutup Ariena merasa ada yang menimpa perutnya, Ariena membuka paksa dan melihat apa yang menimpa perutnya itu, Ariena melihat ternyata tangga seorang lelaki karena kaget dengan spontan Ariena menghempaskan tangan Ilan kuat sampai mengenai kayu pinggiran ranjang membuat si pemilik kesakitan.
Kurang lebih seperti ini tempat tidur Ariena
"Auuuu" ucap Ilan memegang tangannya
"Eh maaf-maaf aku tak sengaja aku kaget tadi ada tangan menimpa tubuh ku" ucap Ariena panik melihat lelaki di sampingnya kesakitan
Ilan menatap Ariena dengan tatapan tanpa tajam.
Ariena langsung buru-buru pergi ke bawa mengambil handuk dan es batu untuk mengompres tangan Ilan.
Ariena masuk kedalam kamar dengan membawa wadah berisi es dan handuk kecil lalu mengompres tangan Ilan.
__ADS_1
Tanpa sadar Ilan terus menatap Ariena yang sedang mengompres tangannya.
"Maaf ya aku tadi tak sengaja aku benar-benar kaget aku belum terbiasa tidur dengan orang asing" Ucapnya "lagian suruh siapa cari kesempatan dalam kesempitan, akukan jadi kaget" ucap Ariena pelan
"Aku bukan orang asing, saya suamimu dan ya soal itu oke saya yang salah tapi saya tak ada maksud mengambil kesempatan dalam kesempitan, saya pikir saya lagi memeluk guling, saya terbiasa tidur menggunakan guling" Ucapnya
"Ini kompres terus seperti ini, aku mau mandi" Ucap Ariena
Ilan mengambil alih handuk yang di pegang Ariena.
Setelah Ariena selesai mandi Ilan langsung masuk kekamar mandi, sebelum masuk kamar mandi di meminta Ariena untuk mengambilkan baju dari kopernya, karena tangannya yang sakit tidak bisa mengambil baju dalam kopernya.
"sebenarnya aku tidak mau, apa lagi harus mengambilkan ****** ********, aku merasa ah entahlah lah aku tidak tau rasanya canggung malu tapi apa boleh buat sengaja atau tidak aku sudah melukai tangannya, lagian jika bukan karena tangannya yang sakit cepat atau lambat aku harus terbiasa dengan statusku yang baru" gumangnya
setelah selesai menyiapkan pakaiannya Ariena membawa wadah yang di pakai Ilan untuk mengompres tangannya tadi ke dapur.
"Hmm tadi aku itu e.. abis ngompres Ilan Bun" Ucapnya gugup
"Kenapa dengan Ilan dia demam" tanya bunda khawatir
"Enggak Bun tadi tak sengaja tangannya kebentur sama pinggiran ranjang" ucap Ariana
"Kok bisa ngeri ah katanya tak mau nikah sama dia, tapi langsung begituan" ucap bunda senyum jahil
"Ih apaan sih bunda, Ariena gak ngelakui apa-apa" ucap Ariena sebal
__ADS_1
"Eh malu dia biasa aja kali nak namanya sudah menikah berhubungan itu biasa" ucap bunda tersenyum
"Au ah terserah bunda. apa yang bisa Ariena bantu ini Bun" ucap Ariena mengalihkan pembicaraan
"buatkan teh hangat untuk ayah dan suamimu sama susu untuk adik mu" ucap bunda
"Ok Bun" Ucapnya
Setelah selesai menyiapkan sarapan Ariena di suruh bunda memanggil seluruh keluarga untuk sarapan.
"anda di panggil bunda sarapan" ucap Ariena masuk kedalam kamar
Ariena melihat tangan Ilan yang memar dan sedikit bengkak membuat dia merasa bersalah.
"Hmm gimana tangannya apa masih sakit" tanya Ariena
"Masih" ucap Ilan datar
"Ayo kita ke bawah bunda dan ayah sudah menunggu" Ucap Ariena
Ariena dan Ilan turun ke bawah bergabung dengan ayah,bunda dan Effin yang sudah berkumpul di meja makan.
"Pagi yah" sapa Ariena
"Pagi juga nak" Ucapnya
__ADS_1
Ilan hanya tersenyum kepada bunda dan ayah, langsung ikut duduk di samping Ariena.
"Loh nak Ilan itu tangan kamu kenapa" tanya ayah yang melihatnya tangan Ilan bengkak dan memar biru kemerahan.