
sekitar satu jam akhirnya Ilan selesai meeting. Ilan berjalan menuju ruangannya. saat dia sampai di ruangannya terlihat Ariena yang sedang berdiri menghadap kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang indah dari ruangan Ilan.
"Na ayo kita makan aku udah lapar" ucap Ilan berjalan mendekati Ariena
Ariena yang mendengar suara Ilan dari belakang langsung menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"ayo Arienaaaa cepat. nanti aku mau meeting lagi" ucap Ilan menarik tangannya
Ariana hanya mengikuti tanpa menolak Ilan yang terus menarik tangannya sampai duduk di sofa. Ariena menghindari tatapan Ilan dan langsung menyajikan makanan untuknya.
Ilan terus memperhatikan Ariena yang sedang menyediakan makanan. "mata kamu kenapa Na? kok sembab gitu kayak abis nangis" ucap Ilan yang menyadari wajah sendu Ariena
"enggak kok mas. ini tadi mataku kelilipan" ucap Ariena bohong
"beneran Na?. bukan karena aku yang lancang mencium mu. jika benar maaf kan aku" ucapnya dengan wajah penyesalan. "aku tak ada maksud apa-apa. maaf aku terlalu lancang maaf aku melewati batas. seharusnya aku gak melakukan itu. maaf aku hilap menyentuh mu tanpa meminta persetujuan dari mu" ucap Ilan
Ariena yang mendengar ucapan Ilan merasa tidak enak hati. bahkan pikiran Ariena tidak sampai kesan. dia tak pernah merasakan marah atau pun kesal dengan tindakan yang dilakukan Ilan padanya justru sebaliknya dia merasa bahagia.
"iya beneran aku gak papa mas. jangan berpikiran yang tidak-tidak. aku gak marah kok kamu melakukan itu. itu kan hak mu" ucap Ariena mencoba tersenyum
"berarti kalau mau lebih lama lagi boleh dong" ucap Ilan menggoda Ariena
skakmat Ariena merasa sangat bodoh bisa-bisanya mendorong dirinya sendiri untuk jadi santapan singa lapar.
"ah mati gue. bodoh banget sih! bukan ini yang ku maksud" batin Ariena
saat wajah Ilan dan Ariena hanya berjarak sekitar satu cm. Ariena langsung mendorong tubuh Ilan menjauh dari wajahnya.
__ADS_1
"jangan mesum deh" ucap Ariena langsung mengambil makanan untuk Ilan
"ah sial! padahal tinggal sedikit lagi" batin Ilan
Ilan langsung mengambil makanannya yang di berikan Ariena. sekitar 10 menit akhirnya acara makan pasutri selesai. kemudian Ariena pamit untuk pulang.
"ya udah aku mau pulang dulu" ucap Ariena
"kamu pulang naik motor seperti biasa kan?" ucap Ilan
"enggak. aku naik g*jek mas" ucap Ilan
"loh kenapa gak naik motor sendiri seperti biasa" ucap Ilan
"motornya bocor mas. tadinya mau nunggu pak satpam nempel ban di gang kompleks tapi lama jadi aku pesan g*jek aja biar cepat" ucap Ariena
"tidak usah mas. maskan Sebentar lagi ada meeting. tukang ojek nya juga udah nunggu di depan. kan kasian kalau aku cancel" ucap Ariena mencium tangan Ilan dan langsung melangkah pergi tanpa mendengar jawaban Ilan.
setelah Ariena pergi tak lama Difan masuk ke ruang Ilan dengan wajah panik.
"dimana kakak ipar gue" ucap Difan
"apa sih Lo gak jelas banget. datang-datang bukan ketok pintu dulu mala nyariin istri orang" ucap Ilan dingin
"lah gue juga tau kali dia istri orang bukan setannnnn. tapi dia kan kakak ipar gue" ucap Difan
"sejak kapan gue punya adik gelok kaya lo" ucap Ilan datar
__ADS_1
saat Difan ingin menjawab dia seperti sedang berpikir "seperti aku tadi mau menyampaikan sesuatu kok jadi berdebat dengan bos killer ini" batin Difan
"AAAaaaa... aku baru ingat tadi aku datang kemari cuma mau bilang sama bos. tadi waktu saya ingin ke pantry ada office boy sedang bergosip" ucap Difan
"berani sekali mereka bergosip di waktu jam kerja" ucap Ilan
"bos jangan main potong-potong dulu ucapan saya bukan itu inti dari masalah yang mau saya laporkan" ucap Difan
"oh benarkah, baiklah silahkan di lanjut dongengnya" ucap Ilan malas
"dongeng??? oke dengar kan dan lihat sampai akhir dongeng saya" ucap Difan kesal
"tadi aku tak sengaja dengar kalau ada keributan di kantor ini, yang buat saya terkejut ternyata keributan itu ada hubungannya dengan kakak ipar" ucap Difan
"keributan apa yang di buat Ariena" ucap Ilan penasaran
"lebih tepatnya sih bukan kak ipar tapi sekertaris anda. Linda lah yang memulai semuanya.bahkan kata mereka bukan kali ini saja di menjelekkan Ariena. sudah sering tapi kali ini perkataan yang di lontarkan Linda sudah sangat keterlaluan dan itu membuat Ariena melabrak Linda di depan semua orang" ucap Difan
"dan ini juga sengaja saya bawa rekaman cctv di ruang itu agar ada melihatnya langsung" ucap Difan memberikan laptop berisi rekaman Linda yang dari awal memanas-manasi sampai di mana Ariena melabrak dan pergi.
"kurang aja!!!" ucap Ilan melempar laptop dengan kasar Kedinding sampai menjadi beberapa keping
"laptop baru ku. baru juga semalam beli udah hancur" ucap Difan sedih melihat laptopnya yang sudah-sudah pecah di lantai terbelah menjadi beberapa keping
"cepat langsung kamu pecat dia dan temannya itu!!. jangan biarkan mereka muncul di hadapan ku dan istri ku. kalau mereka masih mau hidup" ucap Ilan menyilangkan tanganya di bawa dadanya dengan wajah datar menyeramkan miliknya
"dan ya. jangan ada yang pulang. semua karyawan hari ini wajib lembur" ucap Ilan duduk di kursi membelakangi Difan yang menghadap meja kerjanya
__ADS_1
"baru ini liat dia marah semarahnya. padahal waktu pernikahannya gagal dia gak seseram ini. udah lah mending aku pergi dari ruangan ini kalau masih sayang nyawa" ucap Difan langsung meninggalkan ruang ilan