
Pukul 10 pagi Ariena dan Ilan sudah siap untuk pergi.
"Bunda ikut ya tinggal sama Ariena, Ariena gak bisa tinggal jauh dari bunda gimana kalok Ariena sakit, kesepian atau sedih, ikut Ariena tinggal di sana ya" Ucapnya menangis
"Nak gak mungkin bunda tinggal bersama mu ayah di sini siapa yang akan ngurus" ucap Bunda
"Ayah juga ikut sama kita Bun hiks hiks hiks" ucap Ariena memeluk bunda, Ilan hanya tersenyum melihat Ariena yang begitu imut saat bermanja pada bunda.
"Nak gak mungkin lah ayah dan bunda tinggal bersama mu nanti siapa yang akan mengurus perkebunan Kita di sini" ucap ayah tepat di belakang bunda mengelus rambut panjang Ariena
"Kan ayah bisa nyuruh orang untuk mantau perkebunan kita" ucap Ariena yang masih setia di dalam pelukan bunda
"Na kamu harus bisa mandiri jangan manja jalani hidup mu tanpa kami kamu sudah menikah nak, kamu bukan tanggung jawab kami lagi kamu harus mengerti ini kamu sudah menikah, bukan ayah tidak mau tinggal bersama mu nak tapi ayah lebih nyaman di kampung ini udaranya masih asri jika di kota pasti banyak polusi udaranya kurang bagus untuk kesehatan" ucap ayah menjelaskan
"Tapi yah" Ucapnya terpotong
"Sudahlah Ariena apa yang di ucapkan ayah itu benar" bunda menghapus air mata Ariena "tuan putri gak boleh nangis liat itu langitnya mendung bentar lagi hujan lah ini" goda Bunda
"Ih bunda" Ariena tersenyum
"Nah gini kan enak liatnya" ucap bunda
__ADS_1
"Yah Bun saya pamit ya" ucap Ilan
"Iya nak, hati-hati di jalan dan tolong jaga baik-baik tuan putri ayah memang dia manja tapi jika di beri sedikit pengertian dia akan mengerti nak" ucap ayah
"Iya yah saya janji akan jaga Ariena sebaik mungkin sekarang dia adalah tanggung jawab saya" ucap Ilan memeluk ayah setelah itu mencium tangan bunda.
Ariena memeluk ayah dan bunda berganti "sampaikan salam Ariena pada Effin Bun, karena sekolah aku belum berpamitan padanya"
"Iya nanti bunda sampaikan pada adik mu" ucap Bunda
"Jaga dirimu baik-baik di sana ya nak" ucap ayah memeluk Ariena
"Iya yah"
"Assalamualaikum" ucap Ariena
"Waalaikumsalam" jawab ayah bunda bersama
"Pak Mano tolong hati-hati ya bawak mobilnya" ucap bunda
Pak Mano adalah supir pribadi keluarga Syahputra pak mano di tugaskan untuk mengatar menantu dan anaknya. Bukan karena Ilan tak bawa mobil tapi tanganya masih sakit jadi terpaksa ia harus menggunakan supir.
__ADS_1
"Iya buk, saya permisi dulu pak buk assalamualaikum" ucap Mano
"Waalaikumsalam"
Ilan masuk ke dalam mobil di ikuti Ariena duduk di samping Ilan.
30 menit di perjalanan Ariena mulai pusing mual dia memejamkan mata menyenderkan kepalanya di bangku mobil.
"ni anak kenapa baru juga beberapa menit udah tidur. apa tadi malam di kurang tidur?" melirik Ariena "ah bomat lah" batinnya lalu melanjutkan pekerjaannya memeriksa file yang di kirim asistennya.
"Pak mano bawak minyak kayu putih gak" tanya Ariena dengan suara lemas
"Bawa kok, ini nak minyaknya" Ucapnya memberikannya pada Ariena
Saat Ariena ingin mengangkat bajunya sedikit untuk memberi minyak ke perutnya Ilan dengan cepat menahannya.
"Pak tolong spionnya di arahkan ke atas" ucap Ilan entah mengapa dia tak ingin ada yang melihat tubuh istrinya itu.
"Baik" ucap Mano
"Sini biar saya bantu" ucap Ilan.
__ADS_1
Ariena tak sanggup menolak kepalanya sudah sangat pusing Ilan langsung memberikan minyak kayu putihnya pada Ilan.
Author tau apa yg di rasakan Ariena saat ini kepala pusing sangat pusing bahkan untuk membuka mata saja rasanya tak sanggup, mana perut mual apa lagi setiap mobilnya mengerem rasanya isi di dalam perut ingin keluar semua. cara terbaik saat ini adalah tidur agak tak terlalu merasakan pusing.