Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Ibu Maria yang sedari tadi diam saja, akhirnya buka suara. Dia menatap menantunya yang tak mampu berkata apapun, takut salah bicara. Dan Maria yang dingin, karena amarah yang di pendamnya.


"Pernikahan kalian baru berjalan kurang lebih tiga minggu. Kalian tidak mungkin bisa berpisah. Kalian hanya akan disuruh menunggu selama beberapa bulan untuk bisa mengajukan perceraian." ibu Maria buka suara


Jo merasa lega, setidaknya dia punya harapan untuk memperbaiki hubungan, dan menumbuhkan cinta istrinya dalam kurun waktu itu.


Rapat keluarga selesai. Jo dan Maria mengantar orang tua mereka sampai di depan pintu. Sebelum pergi, ibu Maria mengusap bahu Jo seraya tersenyum hangat, memberi menantunya kekuatan untuk menghadapi cobaan yang menimpanya.


"Nak, bersabarlah. Ibu yakin suatu saat Maria akan menerimamu. Tidak hanya dari raganya, tapi juga dari hatinya."


Jo tersentuh mendengar ucapan ibu mertuanya. Airmatanya mengalir, dia bisa merasakan kasih sayang wanita itu sangat tulus.


"Terima kasih ibu. Ibu sudah mempercayakan putri ibu kepadaku. Aku berjanji, aku akan menjadi suami yang baik untuknya." ucap Jo lembut


"Iya nak, ibu percaya padamu."


Setelah mengatakan itu, ibu Maria masuk ke mobil. Maria kembali masuk ke rumah setelah kedua orang tuanya sudah pergi.


"Maria." Jo mengikuti Maria yang berjalan cepat di depannya


"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Maria menepis tangannya


"Maria, aku harus bagaimana? Tolong katakan. Aku benar-benar bodoh. Aku sangat menyesal. Kumohon, beri aku kesempatan." Jo memohon dengan terisak


"Cukup! Aku tidak mau dengar apapun lagi darimu." Maria masuk ke kamar, mengemasi pakaiannya lalu ia pindahkan ke kamar lain.


Jo yang melihatnya hanya bisa diam dengan merasakan sesak di dadanya. Sesakit inikah pisah ranjang?


Maria menangis di dalam kamarnya, dia mengunci pintu. Sedangkan di luar pintu ada sang suami yang mendengar suara tangisan istrinya dari dalam. Perasaannya hancur, malam pertama yang di dambakan semua pasangan pengantin baru, seharusnya menjadi malam yang indah, saling memadu kasih, dan menikmati keindahan cinta mereka. Tetapi tidak untuk mereka berdua, rumah tangga mereka terancam mengalami kehancuran setelah malam itu. Seandainya Jo bisa kembali memutar waktu, dia akan mengurungkan niatnya. Melakukan sesuatu yang membuat istrinya teramat membencinya. Meskipun dia berhak untuk mendapatkannya.


Ceklek


Maria keluar dari dalam kamar, dia bisa melihat kelopak mata suaminya yang memerah. Sudah lama suaminya duduk menangis di depan pintu, sejak dia mengunci pintunya dari dalam.


"Kamu mau kemana?" tanya Jo yang melihat Maria sangat rapi dengan riasan make up untuk menutup bekas air matanya

__ADS_1


"Aku mau pergi. Jangan ikuti aku." jawab Maria acuh


Dia pun pergi meninggalkan suaminya yang masih terisak. Di luar, sudah ada taksi yang menunggu.


"Dev, aku akan segera datang."


Taksi itu melaju membawa Maria pergi ke sebuah taman yang terletak di pinggir kota. Tempatnya bersama sang kekasih biasa ketemuan.


Tak lama kemudian, taksi itu pun sampai di tempat tujuan. Seketika jantung Maria berdetak kencang, pipinya terasa panas, dia akan mengatakan semuanya pada kekasihnya malam ini. Tak ada lagi yang dia tutupi. Meskipun dia harus kehilangan cintanya, Maria sudah menyiapkan hatinya untuk keputusan yang tersulit.


Entah mengapa kaki Maria terasa berat, ia melangkahkan kakinya pelan, disana terlihat kekasihnya yang sudah menunggu kedatangannya, senyuman dari bibir cery itu merekah dikala mengetahui kehadirannya.


Dia pun berdiri dari kursi taman lalu melangkahkan kakinya cepat menghampiri kekasihnya yang kini diam mematung menatap wajahnya dengan sayu.


"Maria."


Namun yang dipanggil tak bereaksi apapun.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Dev bingung melihat ekspresi Maria yang sedari tadi diam menatapnya, dia lantas memegang pundak Maria


"Hmm?"


"Ada yang ingin aku katakan. Rahasia yang selama ini aku sembunyikan darimu." ucap Maria dengan bibirnya yang mulai bergetar


"Rahasia?" alis Dev bertaut mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Maria.


Mereka diam sesaat.


"Dev.. aku.. aku.. sudah menikah."


Deg


Seketika tubuh Dev menjadi lemas, matanya terbelalak tak percaya, dia pun menarik kedua tangannya dari pundak Maria.


"Kamu.. kamu hanya bercanda kan?"

__ADS_1


Dev sungguh tak percaya, sementara airmata Maria mulai tumpah.


"Tidak Dev, aku bersungguh-sungguh." jawabnya sedikit sesenggukan


"Bagaimana, bagaimana bisa kamu.." ucapan Dev terjeda, seiring dengan airmata yang menetes di pipinya "kamu tega menghianatiku Maria."


Hati Maria terasa teriris, malam ini dia mendengar kata-kata yang menyakitkan dari lelaki yang sangat dia cintai.


"Dev." Maria hendak mengusap pipinya, namun kekasihnya menolak sentuhannya dan perlahan melangkahkan kakinya mundur.


"Sekarang jelaskan padaku. Mengapa kamu tega melakukan ini! Kalau kamu sudah menikah, kenapa kamu tidak beritahu aku! Apa kamu sengaja mempermainkanku?" tanya Dev penuh amarah


"Dev, aku terpaksa. Itu keinginan orang tuaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." sahut Maria di sela isakannya


"Katakan. Kapan kamu menikah?"


"Sudah dari 3 minggu yang lalu. Dan aku sudah di jodohkan sejak aku lulus SMA." Maria menangis tersedu-sedu


Dev ternganga, dia telah menjaga hatinya dalam beberapa tahun ini, sudah banyak gadis yang jatuh hati padanya, bahkan ada beberapa gadis secara terang-terangan menyatakan perasaan mereka, ingin menjadi wanitanya meskipun harus menjadi yang kedua atau yang ke berapa pun, ketika menempuh pendidikannya selama di luar negeri. Sementara kekasihnya, yang dia percaya selama ini ternyata diam-diam menikah dengan pria lain ketika jauh darinya.


"Katakan, siapa laki-laki yang menjadi suamimu." tanya Dev lirih, saat ini tenggorokannya terasa sakit, ditambah dengan hatinya yang hancur. Kebahagiaan yang dia bayangkan setelah kembali bersama kekasihnya lenyap begitu saja. Dia tidak tahu bagaimana menjalani hari setelah ini.


"Dia.. dia.. temanmu. Hiks.."


"Temanku? Siapa yang kamu maksud?"


Dev terkesiap, sementara Maria terus menangis sambil menunduk. Dia merasa rendah untuk menatapnya sekarang.


"Maria! Jawab!"


"Dia.." Maria menangis sesenggukan "Jo."


Dev terbungkam, mendengar nama itu jantungnya serasa mau berhenti.


"Dev, tolong maafkan aku." Maria berusaha meraih lengan Dev. Tapi dia justru menghindar. Dia berbalik badan, melangkahkan kakinya semakin menjauh. Tubuh Maria pun ambruk terduduk lemas, Dev tidak mempedulikannya yang terus menangis dan menyebut namanya. Dia pergi meninggalkan Maria dengan luka yang mendalam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2