Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Patah Hati


__ADS_3

"Dev."


Maria masih terduduk di taman dan menangis. Banyak orang melihat ke arahnya.


"Hei, cewek itu kenapa sih? Sejak di tinggal cowok tadi cewek itu menangis." bisik salah satu perempuan disana


"Mungkin cewek itu hamil terus cowoknya tidak mau tanggung jawab." bisik perempuan yang lain


Maria lantas segera pergi dari taman itu. Dia pulang naik taksi, didalam dia masih menangis, meratapi nasibnya di tinggal pergi oleh lelaki yang sangat dia cintai.


***


Rumah Jo


Maria sampai di kediaman suaminya. Wajahnya sembab, airmata masih berlinangan membasahi pipinya. Sementara sang suami diam-diam menunggu kepulangannya dari lantai atas. Dia bisa melihat air muka istrinya yang tampak tidak baik-baik saja.


Maria terduduk lemas di sofa ruang tamu dan menangis. Ingin sekali sang suami memeluknya, namun hal itu sangat tidak mungkin. Dia hanya bisa melihat kesedihan istrinya dari jauh. Setidaknya itu lebih baik, daripada harus menerima cacian dan membuat istrinya semakin membencinya jika dia berusaha mendekatinya.


"Maria."


***


Rumah Dev


Dev masuk ke kamarnya sepulang dari taman. Dia terduduk lemas di sisi ranjang. Tak henti-hentinya dia merutuki dirinya sendiri. Dia merasa seperti orang bodoh karena telah menjaga hatinya untuk wanita yang telah menghianatinya. Berkali-kali dia mengacak rambutnya. Menyadari apa yang telah dia lakukan selama ini sia-sia.


Aku juga menyukai kakak. Kakak sangat mengagumkan.


Sekelabat ingatan muncul dalam lamunannya, ketika Maria membalas perasaannya.


Maria, maukah kamu menungguku sampai aku kembali?


Iya, aku akan menunggumu. Tapi berjanjilah, kamu tidak akan mencari perempuan lain disana.


Lalu, bayangan ketika mereka saling mengucapkan janji di acara festival kembang api. Juga pertama kali ketika mereka berciuman.


"Maria, bisa-bisanya kau menghianatiku." ujar Dev disela isakannya "Aku seperti orang bodoh yang sudah percaya dan menjaga hatiku demi dirimu. Tapi apa yang ku dapat?" Dev menitikkan airmata. Dia lantas mengeluarkan ponselnya, menatap foto dirinya bersama kekasihnya.


"Maria, mungkin hatiku tidak akan terlalu sakit bila orang lain yang memilikimu. Tapi, kenapa harus dia? Dia sudah seperti saudaraku." Dev menggenggam ponselnya semakin kuat sebelum dia lempar ke dinding.


***

__ADS_1


Rumah Jo


Mau sampai kapan dia menangis. Matanya bisa bengkak dan sekarang sudah larut. Aku ingin sekali merengkuhnya. Dev, betapa beruntungnya dirimu mendapatkan cinta darinya. Dan aku sudah merusak hubungan kalian. Apakah selama ini aku melakukan kesalahan. Apakah aku salah jika aku mencintai istriku. Maria, aku berharap suatu saat nanti kamu bisa menerimaku. Aku akan menunggu, sampai hari itu tiba.


Setelah cukup lama Maria menangis, akhirnya dia membaringkan tubuhnya di sofa. Kelopak matanya terasa berat. Akhirnya dia pun tertidur. Jo yang melihatnya dari lantai atas, segera memasuki kamarnya mengambil selimut lalu berjalan menuruni tangga mendekat ke ruang tamu.


Dia melangkahkan kakinya pelan-pelan, takut sang istri terbangun. Dia lantas menyelimuti istrinya dengan hati-hati. Kemudian mendudukkan dirinya di lantai, menatap lekat wajah istrinya yang sudah tertidur lelap.


"Kasihan sekali kamu Maria. Maaf, gara-gara aku semua ini terjadi. Jika aku bisa mengendalikan diriku saat itu, kamu tidak akan menderita seperti sekarang." Jo menatap lekat wajah Maria, lalu mengecup puncak kepalanya dengan penuh cinta.


"Selamat tidur istriku."


***


Keesokan Pagi


Perlahan Maria membuka matanya. Masih terasa kelopak matanya yang berat dan perih karena menangis semalaman. Dia sedikit terkejut ketika begitu bangun dia melihat selimut yang membalut tubuhnya.


Terlihat sang suami tengah berjalan menuruni anak tangga. Sudah rapi dengan setelan jasnya, siap untuk berangkat ke kantor. Langkahnya terhenti saat Maria memandangnya. Tapi kemudian ia segera berlalu.


Hari ini dan seterusnya tidak ada makan bersama di meja makan. Mereka benar-benar seperti orang asing dan saling menjaga jarak.


"Hari ini kau tampak lesu." ujar Ramon


Jo diam sejenak "Ayo kita berangkat."


"Ok." balas Ramon lalu masuk ke mobil


***


Di ruang tamu, Maria akhirnya beranjak dari sofa. Dia menuju kedalam kamarnya, segera ia mandi, setelah selesai dia mengenakan baju santai dan celana jeans. Itu adalah gayanya sebelum dia menikah.


Dia kemudian mengemasi pakaiannya, lalu dia masukkan kedalam koper. Maria pergi begitu saja meskipun dihalaman ada satpam yang menatapnya.


***


Rumah Dev


Dev masih bersandar di sandaran tempat tidurnya. Lalu meraih ponsel di atas nakas.


"Hallo. Hari ini aku tidak ke kantor. Wakilkan aku untuk meeting hari ini. Terima kasih."

__ADS_1


Baru saja dia menelfon wakil direktur untuk menggantikan posisinya. Kondisi Dev saat ini juga tidak baik. Pikirannya kacau, setelah apa yang dia dengar dari bibir kekasihnya.


"Maria."


***


Rumah Maria


Maria sampai di depan rumah kedua orang tuanya. Terlihat sang ibu sedang menyirami tanaman di pekarangan rumah. Dia kemudian berjalan mendekat.


"Ibu." panggilnya lirih


"Maria." sang ibu terkejut saat melihatnya membawa koper.


"Ibu, tolong izinkan aku tinggal disini. Aku sudah tidak mau lagi tinggal bersamanya. Aku ingin berpisah darinya." kata Maria pelan


Saat ini Maria sangat membutuhkan pelukan hangat dari sang ibu. Dia ingin mencurahkan seluruh isi hati yang selama ini ia pendam.


Plak!!


Justru sebuah tamparan yang mendarat di pipinya.


"Kau.. benar-benar tidak punya perasaan. Suamimu sangat mencintaimu, tapi.." marah sang ibu sambil menunjuk ke arah Maria


"Ibu.." Maria refleks menyentuh pipinya sebelah kiri, airmata pun mengalir.


"Ibu tidak tahu lagi harus bagaimana. Tidak bisakah kau memberi suamimu kesempatan. Apa kau tidak bisa melihat ketulusan dari hatinya. Maria, pikirkan baik-baik sebelum kau menyesal suatu hari nanti."


"Ibu tega menamparku. Seumur hidup ibu tidak pernah memukulku apapun kesalahan yang ku perbuat. Aku datang kesini karena aku ingin mencurahkan isi hatiku. Aku tidak tahu harus cerita pada siapa. Tapi ternyata ibu membenciku. Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak bisa mengikuti keinginan ibu lagi. Aku minta maaf karena aku telah menjadi anak durhaka. Aku akan pergi."


Setelah mengatakan itu, Maria pergi meninggalkan rumah orang tuanya. Beberapa saat ibunya tersadar, dia melihat telapak tangannya.


"Apa yang sudah ku lakukan?" gumam ibu Maria


Dia pun segera mengalihkan pandangannya, tapi Maria sudah menghilang.


Di lain tempat Maria berjalan sambil menyeret kopernya. Kemudian mendudukkan dirinya di pinggir jalan dan tak hentinya dia menangis.


Aku harus pergi kemana? Semua orang membenciku. Aku sendirian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2