Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Sensasi


__ADS_3

Sinar matahari pagi sudah memasuki celah-celah jendela kamar. Waktu yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi itu tidak membuat seorang wanita cantik lekas bergegas bangun dari ranjang yang ditempatinya. Maria lebih memilih untuk tetap berdiam di ranjang besar yang menjadi tempat tubuhnya berbaring. Tatapan matanya terfokus pada maha karya Tuhan yang ada disampingnya. Sosok tampan yang masih tidur disampingnya itu membuat wanita berusia 26 tahun itu terpaku ditempatnya melihat wajah damai pria tampan yang sudah enam tahun ini menjadi suaminya.


Maria memiringkan tubuhnya dan maju sedikit agar bisa melihat wajah tampan milik suaminya dengan jelas. Mata jernihnya menyusuri satu persatu bagian wajah suaminya yang terlihat begitu sempurna di matanya. Mulai dari keningnya, alisnya yang tebal, mata hazel dan tajam yang tengah terpejam, hidung mancung dan juga bibir indahnya membuat Maria selalu mengucap syukur disetiap pagi ketika ia membuka mata. Tangan halusnya bergerak menuju wajah pria 28 tahun itu yang masih sangat terlelap dalam tidurnya. Menyentuh halus keningnya dan mengusap halus pipinya dengan lembut membuat wanita cantik itu tersenyum dengan perasaan haru.


Sebuah pernikahan atas nama perjodohan dan hal itulah yang dialami oleh Maria. Perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya dan kedua orang tua suaminya enam tahun silam. Sebuah pernikahan yang tidak dilandasi cinta dulunya membuat Maria merasa ragu. Namun setelah ia menyadari bahwa pria bernama Jonathan itu sudah mengambil hatinya sejak lama adalah sosok yang sangat ia kagumi, perasaan itu tumbuh dalam hatinya karena suara pria itu yang mampu menggetarkan jiwanya. Memang benar kata orang, cinta itu buta.


Di kecupnya pipi suaminya dengan penuh cinta, pria itu pun membuka mata dan tatapannya langsung tertuju kepada sang istri tercinta.


"Selamat pagi suamiku." sapa Maria dengan seulas senyum


"Enghhh." Jo mengerjapkan mata lalu duduk diikuti oleh Maria


Menghela nafas lelah, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.


"Sayang, kamu berhutang penjelasan padaku." kata Maria mengingatkan


"Jadi kemarin sore aku bertemu dengan klien. Awalnya kami mengobrol, tiba-tiba aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku setelah aku meminum minumanku. Tubuhku terasa panas, aku seperti kehilangan kendali. Dan klien ku membawaku pergi ke apartemennya. Ternyata aku dijebak."


Spontan mata Maria membelalak.


"Kamu melakukan itu dengan klien mu Jo?"


"Tidak Maria. Aku berusaha mati-matian menahan hasratku. Walaupun tubuhku dikuasai obat perangsang, namun akal sehatku harus tetap berjalan. Kalau aku tidak boleh menyentuh wanita selain dirimu." tegas Jo


Ucapannya membuat mata Maria berkaca-kaca, hatinya tersentuh dengan pernyataan tulus suaminya. Sungguh, ia masih merutuki kebodohannya di masa lalu hingga saat ini. Mengingat bahwa dulu dirinya berkeinginan kuat untuk berpisah dari pria yang begitu setia dan mencintainya. Airmata pun lolos di pipinya, hingga jemari Jo terulur mengusap lembut airmatanya dengan syahdu.


"Ada satu hal yang selama ini aku rahasiakan darimu Maria."

__ADS_1


"Rahasia?"


"Dulu ayah selalu berusaha keras mencarikanku pasangan untuk dijadikan sebagai istri. Tapi itu sangat sulit, karena aku masih berumur 17 tahun tentu saja banyak orang tua yang belum siap jika putri mereka menikah terlalu dini. Lalu suatu hari, ada rekan bisnis ayah yang bersedia menyerahkan putrinya tapi ayah harus berjanji akan memberikan saham. Jadi pernikahan itu sama-sama menguntungkan bagi dua belah pihak. Dan aku baru ingat, klien ku adalah gadis yang pernah di jodohkan denganku di masa lalu. Tapi pernikahan itu tidak terjadi, karena aku tidak menyukai gadis itu." tutur Jo dengan sorot mata lelah


"Memangnya kenapa Jo?"


"Aku akui dia cantik. Tapi dia sangat posesif. Sampai-sampai dia nekad masuk ke kamarku saat ayah masih di kantor."


Lagi, Maria terkejut.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?"


"Kami tidur bersama." Jo tidak berani menatap wajah Maria saat menjawab pertanyaan ini.


"Tapi aku dalam keadaan tidak sadar Maria. Dia tiba-tiba masuk ke kamarku setelah aku minum obat. Tapi aku pastikan, dia tidak sampai berbuat lebih jauh." jelasnya dengan panik


"Iya, aku percaya padamu. Kamu tidak pernah menghianatiku." Maria mengusap pipi Jo, dan Jo menikmati sentuhan telapak tangan Maria.


"Kamu pasti sangat tersiksa ya sayang." lanjut Maria dengan mata teduhnya


"Saat itu yang ada dalam ingatanku hanya kamu sayang, dan aku bersyukur ketika aku pulang dan melihatmu." Jo menggenggam jemari tangan Maria lalu mengecupnya dengan lembut


"Yang penting sekarang semuanya sudah selesai." Jo kemudian menyingkap selimut mereka


"Kamu mau apa sayang?" tanya Maria kaget saat Jo menggendongnya dan berjalan ke kamar mandi


"Ngomong-ngomong kita sudah lama kan tidak bermesraan. Ini adalah waktu yang tepat untuk kita berdua." Jo menjawab sembari menurunkan tubuh Maria dengan hati-hati di dekat bathub "Aku akan memandikanmu."

__ADS_1


"Apa? Tidak usah Jo! Aku bisa sendiri." tolak Maria dengan muka merona


Jo tersenyum.


"Ya sudah, coba saja kalau bisa. Aku ingin lihat, apa kamu bisa berdiri dengan benar." Jo menantang Maria


Dan perkataannya pun tepat. Pangkal paha Maria masih terasa sakit dan nyeri sampai untuk berdiri pun sempoyongan.


"Ugh, bagaimana ini?"


Jo tersenyum. Dia menyadari bahwa istrinya tidak mungkin bisa berjalan dengan benar setelah aktivitas panas mereka semalam.


"Makanya aku menggendongmu, jadi diam dan menurutlah."


Jo mulai mengisi bathub dengan air dan sabun beserta aromatherapy favoritnya. Lantas mengangkat tubuh Maria perlahan ke dalam bathub lalu dia pun ikut masuk dan mendudukkan dirinya di hadapan Maria.


"Apa yang kamu lakukan Jo?"


"Memandikanmu."


Meskipun sudah beberapa tahun menikah, namun tetap saja perlakuan lembut dan istimewa dari suaminya membuat hati Maria berdebar-debar. Jo menggosok punggung Maria dengan lembut, lalu berhenti sesaat ketika bibir mereka berpagutan, saling beradu lidah, dan suara decapan lidah mereka terdengar menggema ruangan. Mata mereka terpejam, terhanyut dalam sensasi euphoria.


Sementara disisi lain, Ramon tengah menunggu bosnya di ruang tamu. Di temani oleh dua anak kembar yang duduk di sampingnya. Mengajaknya mengobrol tentang dua hal yang berbeda. Rachel duduk di sebelah kiri Ramon sambil membawa boneka beruangnya, sedangkan Syeina duduk di sebelah kanan Ramon dengan membawa mainan robot-robotannya.


Aduh, orang tua mereka dimana sih. Mereka tega sekali menelantarkan anak-anak mereka begini.


Bersambung

__ADS_1


Tinggalkan like & komen ya🤗


__ADS_2