
"Ugh…"
Marco membuka matanya perlahan sambil memegangi kepalanya yang begitu pusing. Dia tidak sadar betapa banyak minuman yang dia tenggak tadi malam, yang setidaknya dia ingat adalah ketika dia menemani Agnez untuk minum. Dia tersentak mendapati perempuan yang tertidur lelap disampingnya, yang tak lain adalah Agnez.
"Apa yang terjadi? Kenapa kami tidur di ranjang?" Marco bergumam cukup keras yang membuat Agnez perlahan terbangun dari tidurnya
"Sssttt kepalaku.." Dahi Agnez mengernyit merasakan pusing sambil memegang kepalanya "Aaaa!! Apa yang kau lakukan?" Agnez teriak panik sambil meraba tubuhnya, lalu bernafas lega karena pakaiannya masih melekat ditubuhnya.
"Aku sendiri juga bingung. Kenapa kita bisa tidur bersama? Semalam kita minum didepan tv kan?" tanya Marco dengan panik
Mata Agnez mengerjap mengamati Marco.
"Kenapa kau tidak memakai bajumu? Semalam apa yang sudah kau lakukan padaku?" Agnez beringsut mundur sambil menyilangkan tangannya didadanya
Marco tampak kebingungan. Barulah dia sadar bahwa dirinya tidak memakai baju.
"Apa yang sudah kulakukan. Apa semalam aku hampir menyentuh Agnez." batin Marco dalam hati
"Apa yang sudah kau lakukan padaku? Jangan-jangan semalam kau yang melepas bajuku ya?" tanya Marco sambil menyilangkan tangannya didadanya
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku melakukan itu." sangkal Agnez
Tanpa menghiraukan perkataan Agnez, Marco beranjak dari ranjang dengan susah payah.
"Kau mau kemana?" tanya Agnez
"Aku mau mandi. Hari ini aku ada meeting dengan klien." jawab Marco tanpa memandang Agnez
Melirik jam yang bertengger di atas meja, sudah pukul delapan lebih. Marco berjalan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Merenung dibawah guyuran air shower yang dingin. Hampir saja dia melakukan kesalahan fatal.
***
Marco sudah rapi dengan jas hitam dan sepatu yang sudah terpasang di kakinya. Dia manatap sekeliling sambil membenarkan dasinya. Agnez dari arah dapur, membawa nampan berisi roti bakar dan segelas susu untuknya.
Marco terdiam dengan perlakuan Agnez. Entah angin apa yang membuat gadis itu bersikap manis padanya. Agnez sudah membasuh wajah dan menyikat giginya, kemudian mengusapkan wajahnya pada handuk kering yang tersampir di dekat wastafel. Kemudian menyiapkan sarapan untuk Marco selagi dia masih didalam kamar mandi tadi.
"Kalau begitu aku pulang." ketika Agnez hendak melangkah pergi, dengan sigap Marco mencekal lengannya.
"Aku antar."
__ADS_1
"Tidak perlu. Kau bisa terlambat ke kantor, apartemenku jaraknya jauh dari sini. Aku bisa pulang naik taksi." sahut Agnez, perlahan Marco melepaskan genggamannya dari lengan Agnez dan membiarkannya pergi berlalu.
***
Terlihat beberapa orang dewasa sedang berdiri gelisah di depan ruang bersalin. Ya. Mereka adalah orang tua Jo dan Maria. Tadi pagi tepatnya pukul 08.15 Maria mengeluh sakit pada bagian perutnya dan tentu dengan segera Jo membawa sang istri ke rumah sakit, mengingat bulan ini adalah bulan ke-9 untuk kehamilan istrinya.
Setelah satu jam menunggu Maria melahirkan, kini mereka yang menunggu diluar ruangan dapat tersenyum senang karena sudah terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin Maria, dan 15 menit kemudian Jo keluar dari ruang bersalin itu karena dia menemani sang istri selama persalinan berlangsung. Senyum bahagia tak bisa Jo sembunyikan saat dirinya keluar dari ruang bersalin itu. Kedua orang tua dan mertuanya pun segera menghampirinya dan menyerbu bapak tiga orang anak itu dengan berbagai pertanyaan.
"Nak Jo, bagaimana keadaan Maria dan bayimu?" tanya ibu Maria
"Jo, bayimu laki-laki atau perempuan?" tanya ayah Jo, dan pertanyaan lainnya pun telah Jo dengar.
Setelah Maria sudah dipindahkan keruang rawat biasa kini keluarga sudah bebas untuk melihat keadaan wanita yang sudah mempunyai tiga anak ini. Dan tentu Jo dengan setia duduk di samping ranjang Maria sambil menggenggam tangannya.
Sementara disisi lain, Agnez sedang termenung di kamar apartemennya. Lalu seaat kemudian suara notif pesan masuk menyadarkan dirinya dari lamunannya.
"Agnez, Maria sudah melahirkan. Tiga hari lagi datanglah ke rumah kami." ~ Jo
Seketika senyuman tersungging di bibir Agnez beriringan dengan airmata yang turun setelahnya.
__ADS_1
"Waktuku tinggal sebentar rupanya."
Bersambung