
"Ugh, perutku."
Sesaat setelah Dev keluar dari kamar Maria, muncul rasa tidak enak di perutnya. Maria pun segera masuk ke kamar mandi.
"Kenapa tiba-tiba aku begini? Apa aku salah makan tadi?" Maria mengingat dirinya tidak makan apapun selama di pesta
Cukup lama Maria di kamar mandi mual-mual dan muntah-muntah. Dev yang masih duduk di sofa ruang tamu sambil menyesap kopi dan mengetik laptop, mendapati Maria berjalan menuruni tangga.
"Maria?" Dev berdiri mendekatinya "Kamu belum tidur."
"Dev, badanku tidak enak sekali. Sepertinya aku masuk angin."
"Masuk angin? Kalau begitu ayo kita ke dokter."
"Tidak usah Dev. Aku minum teh hangat saja nanti juga baikan."
"Tidak Maria, kamu harus ke dokter. Sebentar ya."
Dev bergegas ke lantai dua mengganti piyamanya dengan baju dan jaket. Tidak lupa mengambilkan jaket untuk Maria.
"Maria, pakailah."
Mereka pun bergegas masuk ke mobil, Dev dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
***
Rumah Sakit
"Selamat tuan, anda akan menjadi seorang ayah."
Deg
Dev tertegun. Sementara sang dokter wanita itu tersenyum kemudian memberikan surat hasil pemeriksaan Maria ke tangan Dev.
"Dev, apa kata dokter? Aku sakit apa?"
__ADS_1
Dev mengulas senyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Maria.
"Kamu hanya masuk angin, dan kamu tidak boleh kelelahan." Dev menjawab sembari mengusap lembut surai Maria
"Tuh kan. Ku bilang juga apa, aku hanya masuk angin Dev. Jadi tidak perlu ke dokter."
Dev tersenyum.
"Ayo kita pulang." Dev menggenggam tangan Maria dengan lembut
***
Keesokan pagi
"Dev, aku berangkat ya." Maria berpamitan kepada Dev usai sarapan
"Tunggu." Dev menghentikan langkah Maria yang hendak pergi dari meja makan
"Ada apa?"
"Mulai sekarang dan seterusnya kamu akan diantar oleh supir. Kemanapun kamu pergi."
"Kata dokter kamu tidak boleh kelelahan. Dan juga, kamu tidak boleh kerja mulai hari ini."
Refleks Maria mulai marah.
"Kenapa tiba-tiba kamu mengatur privasiku? Ya, kita memang pacaran. Tapi bukan bearti kamu melarangku untuk kerja kan?" protes Maria
"Maria.." Dev hendak memegang lengan Maria namun ditepis olehnya
"Kamu marah ya. Ya sudah, aku tidak akan melarangmu bekerja. Tapi kamu harus berhati-hati. Okey."
Maria tersenyum. "Kalau begitu aku berangkat ya. Daahh."
***
__ADS_1
Sore Hari
"Satu piring lagi." pinta Maria pada abang tukang rujak buah sepulang dari kampus
"Hei, kau sudah habis satu piring. Apa perutmu tidak sakit kalau nambah lagi." ujar Sasha heran pada Maria
"Ini enak sekali Sasha. Hmm." jawab Maria sambil melahap rujak buahnya dengan terburu-buru
"Kau ini seperti ibu-ibu yang lagi ngidam saja."
Maria tak menghiraukan ucapan Sasha, dia lebih menikmati rujak buahnya dengan lahap. Sampai abang tukang rujak buah itu memberikan satu piring lagi untuknya. Sasha pun hanya menggelengkan kepala.
***
J Company
Nampak, Dev sedang duduk menyandarkan kepalanya di kursi. Entah apa yang dia pikirkan. Yang pasti satu hal, kekasihnya.
"Bagaimana ini? Kenapa situasinya jadi rumit begini." Dev bergumam lalu menghela nafas lelah
***
Rumah Dev
"Aku pulang..."
Maria mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun hening. Dev belum pulang dari kantor. Tidak biasanya dia seperti ini. Kekasihnya itu selalu pulang tepat waktu. Padahal sudah jam lima lebih dua puluh menit. Akhirnya Maria berinisiatif mencarinya di kamar.
"Dev tidak ada."
Ketika Maria hendak menutup pintu, dia tidak sengaja menemukan secarik kertas putih yang tergeletak di bawah pintu.
"Apa ini?"
Tiga detik kemudian kertas itu jatuh dari tangannya. Maria terduduk di lantai dan menangis.
__ADS_1
"Dev, kenapa kamu sembunyikan ini dariku. Lalu sekarang aku harus bagaimana?"
Bersambung