
Jo masih terpaku dengan apa yang dialaminya barusan. Dengan langkah buru-buru dia masuk ke kamar mandi. Mencuci muka di wastafel dengan air sebersih-bersihnya. Dia juga menuangkan antiseptik untuk membersihkan pipinya dari bekas ciuman Jessica.
"Sial! Bisa-bisanya dia menciumku! Aish!" Jo bergumam kesal sambil menggosok pipinya
***
Sore Hari
"Hari ini anak-anak Daddy tidak nangis kan?" tanya Jo kepada kedua putrinya
"Tidak." jawab Rachel
"Syeina juga tidak nangis." sahut Syeina
"Anak-anak Daddy memang pintar."
Ting Tong
Suara bel pintu menginterupsi kebersamaan Jo dan kedua putrinya. Saat seorang pelayan membuka pintu, nampaklah seorang tamu tak diundang yang datang merusak suasana.
"Jessica."
Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum ke arah Jo di ruang tamu.
"Gwen!! Mau apa kau kesini? Dad! Suruh dia pergi!! Cepat!!" Syeina terus meronta sambil menggenggam ujung baju ayahnya
Jo yang resah dengan situasi ini, dia pun memanggil pelayan untuk membawa kedua putrinya masuk ke kamar.
"Ikut aku!" Jo menarik tangan Jessica keluar rumah "Mau apa kau kesini ha! Hubungan kita sudah lama berakhir. Dan aku sudah berkeluarga."
"Jo.."
"Jangan sentuh aku!" Jo menepis tangan Jessica saat mau mengusap pipinya
__ADS_1
"Please, beri aku kesempatan. Jadi istrimu yang kedua juga tidak masalah."
"Aku tidak butuh!"
"Ya sudah, aku akan tetap datang kesini setiap hari. Biar saja istrimu marah."
Jo mengepalkan tangannya, kali ini dia sudah hampir tak bisa menahan dirinya.
"Cepatlah pergi sebelum kesabaranku habis. Atau."
"Atau apa?"
Jo menatap Jessica tajam kemudian mengeluarkan ponselnya menunjukkan sebuah rekaman.
"Kau lihat video ini? Bagaimana jika aku sebarkan? Video saat kau membawaku pergi dari restoran waktu itu."
"Itu bukan video apa-apa. Semua orang akan berpikir kalau aku membantumu pergi karena kepalamu pusing."
"Semua orang tidak akan percaya begitu saja. Kau bisa saja membayar pelayan itu untuk kesaksian palsu."
Jo tersenyum licik.
"Mungkin iya. Tapi kelakuanmu di kantorku hari ini memperlihatkan bahwa, kau sangat menginginkanku. Kau memaksa masuk dan menggodaku." Jo menyeringai
"Jadi itu alasannya kau diam saja?"
Jo terkekeh membuat Jessica merasa geram.
"Kau menjebakku Jonathan!"
Jo terdiam, sisa senyuman di wajahnya mendadak lenyap.
"Aku menjebakmu? Bukannya kau yang memulainya duluan? Kau memberiku obat perangsang lalu membawaku pergi ke apartmenmu. Siapa yang menjebak?"
__ADS_1
Jessica tertohok.
"Sebenarnya apa tujuanmu Jess? Masih banyak pria di luar sana, kenapa kau masih saja mengejarku?"
"Jo, aku.."
"Cukup. Selagi aku masih berbaik hati, pergilah dari hidupku, jangan merusak rumah tanggaku. Kalau kau masih tetap nekad datang menemuiku, kau akan tahu akibatnya."
Jessica menelan ludahnya kasar, baru kali ini dia melihat Jo yang begitu marah dan menakutkan.
"Kau seorang CEO kan? Status yang sangat kau bangga-banggakan. Tapi bagaimana jika kedokmu ini terbongkar? Kau akan kehilangan nama baik di mata ayahmu, para rekan bisnismu, dan semua orang. Reputasimu akan hancur dalam sekejab. Dan perusahaan ayahmu akan bangkrut."
"Tidak Jo, please jangan sebarkan video itu. Aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tolong maafkan aku atas sikapku selama ini."
"Kalau begitu cepat pergi! Jangan muncul lagi di hadapanku!!"
Jessica pun melangkah masuk kedalam mobil yang terparkir dihalaman rumah Jo dan melenggang pergi dari sana.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya sang asisten ketika melihat Jessica melamun dalam perjalanan
"Iya, aku baik-baik saja." jawab Jessica
Selama dalam perjalanan dia terus termenung. Mungkin dia merasa takut karena ancaman Jo padanya.
"Louis?"
"Iya nona?"
"Sayang sekali kucing imutku lepas. Tapi aku harus mengikhlaskannya bukan."
"Anda benar nona."
Bersambung
__ADS_1