Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Peringatan


__ADS_3

"Tapi kenapa tadi Syeina memanggil tante itu Gwen?"


"Karena tante itu jahat. Kata Daddy, Gwen berasal dari luar angkasa dan dia menghilang sampai sekarang. Pasti Gwen menyamar jadi tante itu."


Maria tersenyum geli mendengar cerita Syeina. Putrinya ini begitu terobsesi dengan superhero. Tapi dia merasa senang karena putrinya sangat memahami perasaannya dan membelanya dari wanita sialan itu.


"Mom bangga sekali pada Syeina. Syeina anak yang pintar." Maria berjongkok dengan tangannya yang mengusap lembut pipi putrinya


"Oh iya, kita bisa terlambat. Hari ini hari pertama kalian masuk Tk. Ayo sayang, kita harus bersiap-siap." Maria menggenggam tangan Syeina dan mengajaknya masuk kedalam kamar


Tampak Rachel sudah rapi dengan setelan seragamnya. Dia berdiri dengan memakai tas punggung dan sepatu yang sudah terpasang di kaki kecilnya dengan dibantu oleh seorang pelayan.


Setelah selesai membantu Syeina bersiap-siap, mereka pun bergegas ke depan rumah. Nampak sang supir sudah menunggu mereka di teras. Maria dan kedua putrinya duduk dikursi belakang hingga mobil melaju dan melenggang keluar dari gerbang.


***


Hari Pertama di taman kanak-kanak tampak ramai. Anak-anak yang baru masuk TK diantarkan oleh orang tuanya. Meskipun di hari pertama, Syeina dan Rachel tidak rewel. Berkat karakter mereka yang periang, mereka bisa cepat beradaptasi dan mudah mendapatkan teman.


"Syeina, Rachel. Kalian jangan nakal ya." tutur Maria


"Iya mom." sahut Syeina dan Rachel serempak


Maria menunggu kedua putrinya di luar, disana dia bertemu dengan banyak wanita yang juga menunggu anak-anak mereka di hari pertama.


***


V Company


Jo sedang duduk di ruang kerjanya, termangu mempelajari berkas-berkas yang terdapat di map. Suara dering ponsel menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menekan ikon hijau lalu menempelkan benda persegi itu ke telinganya. Seketika senyuman terukir di bibirnya, mendengar suara sang istri tercinta dari seberang telefon.

__ADS_1


"Ada apa sayangku?"


"Apa kamu sedang meeting sayang?"


"Tidak sayang. Aku sedang mempelajari dokumen. Kamu kangen ya?"


"Jangan menggodaku sekarang. Aku masih menunggu anak-anak."


"Oh iya, bagaimana di hari pertama? Apa mereka rewel?"


"Tidak. Mereka sangat ceria dan langsung punya teman. Hmm, aku ingin minta izin."


"Apa sayang?"


"Nanti sepulang dari Tk, apa aku boleh mampir ke rumah Dev?"


"Boleh sayang. Kalau begitu sampaikan salamku."


"Iya sayang. Kalau begitu sudah dulu ya? Daahh."


Sambungan diputus.


Jo menyandarkan punggungnya ke dasbor kursi putar, sebelah tangannya mengusap dagunya. Matanya lurus kedepan, entah apa yang dipikirkannya saat ini. Lamunannya buyar setelah seorang pria masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf Bos saya mengganggu. Saya ingin memberitahu kalau ada seseorang yang ingin menemui anda."


Jo memutar mata, merubah posisi duduknya dengan gusar. "Siapa?"


"Seorang wanita bernama Jessica."

__ADS_1


Rahang Jo mengetat, wanita licik itu. "Suruh dia pergi."


"Sudah tapi dia memaksa tetap tinggal."


"Kalau begitu seret dia keluar." sahut Jo tegas


Pria itu mengangguk lalu membungkuk hormat kemudian melangkah keluar dari ruangan meninggalkan Jo yang tanpa ekspresi.


***


"Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah seorang presdir. Dan kau mau menyeretku keluar?" kata Jessica dengan angkuh


"Maaf nona. Saat ini Bos sedang sibuk. Saya mohon pengertian anda."


Jessica berdecak kesal. Tanpa mempedulikan tatapan semua orang yang memandang rendah dirinya, dia berjalan memasuki ruang kerja Jo dengan santai.


"Kenapa kau kemari?" Jo menatap tajam gadis di depannya, seakan merasa tak bersalah Jessica mendekat dan duduk diatas pangkuannya, melingkarkan tangannya pada lehernya.


"Jo, aku sangat merindukanmu." bisik Jessica tepat di telinga Jo dengan nada sensual, ia pikir akan menaikkan nafsu primitifnya, namun pria itu masih bergeming tanpa melakukan apapun.


"Aku ingin tidur lagi denganmu Jo." goda Jessica, tapi tetap tak membuat Jo tergoda sama sekali. Dia justru sedang menahan amarah yang ditahannya sejak tadi.


"Aku tidak pernah tertarik padamu, kau tahu itu." Jo menurunkan gadis itu dari pangkuannya.


Bukan Jessica jika menyerah begitu saja, gadis keras kepala itu masih tetap berusaha untuk mendekatinya. Dia berpikiran untuk hamil anak Jo dan meminta pertanggung jawaban darinya, hingga dia tak lagi menolak untuk menikahinya. Rencana yang sempurna. Tapi rencananya gagal, Jo menolak mentah-mentah saat berada di apartmennya, sekalipun dalam keadaan bernafsu untuk bermain diatas ranjang.


"Nanti sore aku akan datang ke rumahmu." Jessica berujar sambil mengusap lembut dada bidang Jo. "Jadi tetap dirumah dan tunggu aku datang." lanjutnya dengan ciuman mendarat di pipi Jo yang diam terpaku karena ucapannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2