
Sore Hari
Mobil Ramon tiba memasuki gerbang dan perlahan melambatkan lajunya ketika sampai di halaman. Disana Maria sudah berdiri menyambut kepulangan suaminya dengan seulas senyum di wajahnya.
"Selamat sore suamiku.. selamat sore tuan Ramon.." sambut Maria dengan menatap mereka bergantian
"Sore juga nona Maria." sahut Ramon
Hanya Ramon yang membalas sambutan Maria, sedangkan Jo masih dengan muka kecutnya.
"Kalau begitu saya permisi nona." ujar Ramon dengan menunduk sopan sebelum kembali ke mobil
"Iya, hati-hati Tuan.."
Sesaat setelah mobil Ramon melenggang pergi, Jo melangkah masuk begitu saja kedalam rumah.
"Jo?" Maria mengikuti langkahnya terburu-buru
"Sebenarnya kamu ini kenapa sih? dari pagi sikapmu aneh tahu." tanya Maria kesal
"Kamu yang aneh. Semalam, kamu juga aneh." Jo berjalan menapaki anak tangga meninggalkan Maria di lantai satu
"Sebenarnya dia kenapa sih? apa aku melakukan kesalahan?" Maria bertanya-tanya lalu mendengus kesal
***
Malam harinya
Jo sudah mengganti baju dengan piyama, dari pintu yang terbuka, Maria melangkah mendekatinya dengan tersenyum manis.
"Jo?"
"Hmm?"
"Aku ingin.."
"Ingin apa?"
"Aku ingin sesuatu yang manis-manis."
Jo terbelalak ketika melihat Maria tersenyum ke arahnya dengan menjentikkan jari telunjuknya ke bibir.
"Aku mau siap-siap dulu."
__ADS_1
"Apa maksudmu Maria?"
Maria tak menjawab pertanyaan suaminya, dia masuk ke kamar mandi. Pada saat itu, Jo menggunakannya sebagai kesempatan untuk bersembunyi dari istrinya.
"Aduh, aku harus bersembunyi dimana ini?" Nafasnya tersengal sengal sambil mencari tempat untuk sembunyi
Maria yang sudah rapi dengan setelan minidress keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga mencari suaminya.
"Jo, kamu dimana?" teriak Maria
Jo sedang bersembunyi di bawah tangga, tak henti-hentinya dia berdoa.
Siapapun, tolong aku.
Maria terus mencarinya di seluruh ruangan. Pada saat itu, Jo segera menghubungi seseorang. Alvin yang saat ini sedang tertidur pulas pun terbangun setelah mendengar bunyi panggilan dari ponselnya.
"Hallo."
"Kak, tolong aku."
"Ada apa?"
"Istriku."
"Istriku kerasukan!"
"Apa!"
Sontak Alvin terduduk dari tidurnya.
"Tolong aku kak. Cepat kau panggil dukun, paranormal, pengusir setan atau yang semacamnya. Aku takut!"
"Tenang-tenang. Memang bagaimana gejalanya? Apa istrimu mengamuk? teriak-teriak? atau memecahkan perabotan rumah?"
"Bahkan lebih parah dari itu kak!"
"Memang apa yang dia lakukan?"
"Dia, dia, dia mau menyentuhku!"
Spontan raut wajah Alvin menjadi kesal, dan memutus panggilan telefon.
"Hallo! Hallo kak!"
__ADS_1
Tanpa Jo sadari, Maria sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan menusuk.
"Jadi begitu ya?"
Deg
Jo pun memberanikan diri menengok ke belakang.
"Aaaaaa!!!" teriaknya
"Jadi kamu berpikir kalau aku kerasukan? kamu, kamu tega sekali. Hikss."
"Maria. Dengarkan dulu penjelasanku."
Jo berusaha menarik tangan Maria namun ditepis. Maria mempercepat langkahnya masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya. Jo yang merasa panik dia pun mengetuk pintu berkali-kali dari luar.
"Maria, tolong buka pintunya."
"Tidur saja diluar!"
"Maria, aku mau bicara."
"Bicara saja pada tembok!"
"Istriku, jantung hatiku.."
"Sejak kapan hati punya jantung!"
Jo lelah sendiri mengetuk pintu dari luar. Dia pun tidur di kamar lain. Entah malam ini apakah dia bisa tidur. Sampai keesokan hari, dia pun bingung sendiri dengan sikap istrinya yang terus mengerucutkan bibir di depannya.
"Maria, tolong maafkan aku."
Maria menoleh menatap Jo dengan tajam.
"Tolong, jangan tatap aku seperti itu. Aku kan jadi takut."
"Bukankah kamu bilang istrimu ini sedang kerasukan?"
"Ya sudah. Sekarang katakan, kamu ingin apa?"
"Aku ingin ice cream Jo! Aku ingin ice cream!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like & komen ya😄