Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Tegar


__ADS_3

"Agnez! Kenapa kau masuk seenaknya!" bentak Maria


Agnez memutar matanya jengah kemudian memutar langkahnya ke hadapan Maria.


"Memangnya kenapa kalau aku masuk seenaknya? Toh rumah ini akan jadi milikku. Mungkin sekarang kau bebas menikmati hidupmu di rumah mewah ini. Tapi sebentar lagi, akulah yang akan menjadi, Nyonya Nathan."


Suasana hening beberapa saat. Sampai suara high heel Agnez terdengar menggema ruangan dan melangkah mendekati Maria yang diam terpaku memandangnya.


"Hei? dimana rasa percaya dirimu tadi? Kenapa kau mendadak diam? Apa kau baru menyadari posisimu?" tanya Agnez dengan bersedekap


"Akulah yang lebih pantas bersanding dengan suamimu." ucap Agnez dengan tersenyum sinis kepada Maria


"Oh iya, aku lupa. Bukan Suami. Tapi, calon - mantan - suamimu." Agnez terkekeh


Maria sudah hampir tak kuasa menahan airmata. Sedari tadi ia berusaha menguatkan hatinya mendengar semua ucapan menyakitkan dari mulut Agnez terhadapnya.


"Astaga.. aku benar-benar tidak mengerti, bagaimana Jo bisa melakukan kesalahan fatal. Menikahi gadis sepertimu yang tidak tahu diri dan berpaling darinya. Seharusnya dari dulu aku yang bersamanya. Dengan begitu hidupnya sekarang pasti bahagia." Agnez berceloteh dengan berjalan memutari Maria


"Kau tahu wanita yang dia inginkan?" tanyanya lagi yang membuat Maria ingin menangis


"Aku." Agnez kini berdiri di hadapan Maria dengan angkuh


"Dia membutuhkan seseorang yang bisa menerima kekurangannya, yang selalu ada di sisinya. Bukan wanita yang menghianatinya."


Airmata Maria kini turun dengan sendirinya. Dia tak mampu berkata-kata, mengingat kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalu.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya di duakan? Sakit tidak?" tanya Agnez dengan sedikit mendekatkan wajahnya di hadapan Maria


Dia tersenyum sinis di belakang Maria sebelum pergi keluar pintu. Kini airmata Maria semakin mengalir deras. Dadanya terasa sesak, hatinya seperti di sayat-sayat. Semua ucapan Agnez membuat perasaannya terguncang. Dia kemudian masuk kedalam kamarnya, mendudukkan dirinya di tempat tidur.



"Aku harusnya tidak menangis. Semua yang di katakan Agnez memang benar. Selama ini aku sudah menghianati Jo. Jadi tidak ada salahnya jika dia berhubungan dengan wanita lain sekarang." Maria berusaha menghibur dirinya sendiri


"Cukup. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau calon anakku kenapa-napa." Maria menghapus airmatanya sembari mengusap perutnya "Maafkan ibu ya sayang. Lagi-lagi ibu menangis. Kau baik-baik ya disini. Kau satu-satunya alasan ibu untuk tetap bertahan." ucapnya dengan tersenyum


Melihat ke arah jam dinding, sudah hampir jam lima sore. Maria duduk di meja rias, memakai make up untuk menutup bekas airmatanya. Lalu duduk di ruang tamu menunggu kepulangan suaminya.


"Tumben, Jo belum pulang. Biasanya dia tidak telat." Maria menengok jam dinding, sudah jam 5 lebih 45 menit.


"Nona Maria, kenapa anda tidak makan?" tanya Minah dari arah dapur


"Aku tidak nafsu makan. Suamiku sampai sekarang belum pulang." jawab Maria lesu


"Mungkin tuan masih sibuk di kantor nona. Nanti juga pulang kalau sudah selesai." hibur Minah


Maria beranjak dari meja makan, berjalan keluar menuju teras.


"Nona, diluar dingin. Lebih baik kita menunggu saja didalam." bujuk Minah


"Selama kami tinggal bersama, dia belum pernah seperti ini. Apa mungkin.."

__ADS_1


Dia bersama Agnez.


Ucapan Agnez tadi sore sukses membuat Maria gelisah dan curiga. Namun sebisa mungkin dia tetap berpikir positif. Semua demi calon bayinya.


"Nona, ayo kita masuk. Nanti kalau tuan tahu, saya bisa di marahi." bujuk Minah dengan memegang lengan Maria


Akhirnya Maria menuruti kata pelayannya, dia duduk di ruang tamu menunggu kepulangan suaminya. Sampai akhirnya Maria memutuskan untuk menyerah kemudian merebahkan tubuhnya di dalam kamar.


***


Pukul 01 dini hari


Mobil Ramon tiba di halaman. Jo turun dari mobil dengan keadaan rambut acak-acakkan dengan bau alkohol bercampur aroma parfum wanita dari tubuhnya.


"Sebaiknya kau minta maaf pada istrimu. Sungguh, aku benar-benar kasihan padanya." tutur Ramon


"Ya Tuhan! Aku lupa, tadi pagi dia minta aku temani pergi." Jo mulai panik


"Apa kau tahu? Perasaan wanita itu sensitif saat hamil, istrimu tengah mengandung kan?" tutur Ramon


Jo berjalan cepat kedalam rumah, dia menapaki anak tangga dengan terburu-buru. Sampailah dia didepan pintu kamar Maria. Jo membuka pintu kamar Maria perlahan, dia mulai melangkah masuk mendekat ke ranjang. Posisi Maria berbaring memunggungi pintu kamar. Rasa bersalah dan menyesal timbul dalam hati Jo, dia duduk di tepi ranjang menatap istrinya lekat seraya membelai rambutnya dengan lembut.


"Maria, aku minta maaf. Aku tidak ingat, hari ini aku ada janji untuk menemanimu pergi. Maafkan aku." Jo menatap Maria sayu, kemudian mengecup pelipisnya. Dia lantas keluar dan menutup pintu. Tanpa ia sadari, istrinya masih terjaga dan sedetik kemudian airmata turun membasahi pipinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2