Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Tidur


__ADS_3

Setelah momen mesra yang terjadi sesaat yang lalu, suasana menjadi canggung. Perasaan Maria antara bahagia dan malu. Bahagia karena bertemu kembali dengan kekasihnya. Malu karena dia seperti perempuan tidak tahu diri. Bisa-bisanya dia bertingkah begitu berani bercumbu dengan lelaki lain padahal dia masih berstatus sebagai istri orang. Dia sadar apa yang dia lakukan salah, tapi perasaan dalam hatinya tidak bisa di bendung bahwa dia sangat merindukan kekasihnya.


Dev tersenyum lembut memandang Maria menunduk dengan muka merona. Dia seakan kembali ke masa lalu. Dimana gadis itu juga bereaksi yang sama setelah mereka bercumbu mesra. Mengulurkan tangannya, mengangkat wajah Maria agar kembali menatap dirinya.


"Kamu kenapa?"


Tak langsung menjawab, Maria justru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku, tidak apa-apa."


"Ternyata kamu masih tetap sama seperti dulu ya Maria. Tapi itulah yang ku suka darimu."


Merasa tercengang dengan ucapan Dev, Maria kembali memandangnya.


"Aku suka melihatmu seperti itu. Disatu sisi kamu pemalu, tapi disisi lain kamu sangat pemberani."


Kedua alis Maria bertaut, berusaha mencerna ucapan kekasihnya yang tidak ia mengerti.


"Sudahlah, lupakan saja. Ada yang ingin aku tanyakan." Dev mulai tampak serius seiring dengan senyumnya yang mulai menghilang.


"Kamu ingin tanya apa?" tanya Maria, mendadak sikap Dev terlihat ragu-ragu. Membuka bibirnya kemudian mengatupkan bibirnya kembali.


"Sudah, sudah berapa kali kalian melakukan itu? Maksudku, sudah berapa kali dia melakukan itu padamu?" Dev bertanya dengan tak enak hati


"Satu kali." Maria menjawab sambil menunduk, kenangan itu seakan kembali terulang, disaat suaminya begitu menakutkan dan dengan kasar merenggut kehormatannya. Kedua tangan Maria tergenggam erat, dan sebisa mungkin ia menahan airmata yang ingin jatuh dari sudut matanya.


"Pada malam hari setelah acara reuni waktu itu. Dia sangat marah, dia cemburu melihat kita berciuman."


"Jadi begitu ya, pantas saja saat itu dia tidak menghiraukanku saat aku menyapanya."


"Aku minta maaf. Maaf sudah membuatmu jatuh cinta padaku. Aku benar-benar tidak tahu diri, sudah menyeretmu masuk kedalam hidupku Dev."

__ADS_1


"Kamu bicara apa Maria? Bukan salahmu kalau aku jatuh cinta padamu. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Maaf, sudah menanyakan hal tadi. Bukan apa-apa, aku hanya ingin memastikan, setelah melewati hari-hari bersamanya, apa kamu tidak ada rasa untuknya?"


Pertanyaan Dev membuat Maria terkejut, refleks mengangkat wajahnya, melihat Dev yang menatapnya sendu.


"Itu tidak mungkin Dev. Selama ini aku menikah dengannya hanya untuk membantunya saja."


"Membantunya?"


"Dia insomnia, dia tidak bisa tidur jika tidak ada seseorang yang memeluknya. Jadi aku.."


Maria tidak meneruskan perkataannya, seolah-olah Dev sudah tahu apa yang ingin dia ucapkan.


"Sekarang aku sudah mengerti. Maaf, dulu aku tidak mendengarkan penjelasanmu."


"Tidak apa-apa Dev, semua sudah berlalu. Tapi, bagaimana kamu bisa tahu keberadaanku."


Flashback


"Apa aku telfon saja dia, tapi.."


Menghela nafas kasar, dia berjalan ke mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Dev mengendarai mobilnya dengan cepat menuju tempat tinggal sahabatnya.


Baru dia hampir sampai, sorot matanya menangkap mobil mewah milik sahabatnya keluar dari gerbang. Segera dia melajukan mobilnya dengan cepat mengikuti kemana mobil itu pergi.


Mobil itu berhenti di depan kafe. Dev semakin penasaran dia pun ikut masuk kedalam kafe itu. Hingga matanya terbelalak ketika mendapati kekasihnya yang berdiri dan menyanyi di atas panggung.


"Maria."


Namun perhatiannya beralih ke arah Jo yang duduk di meja cukup dekat dari panggung. Dev melihat sahabatnya yang terus tersenyum memandang ke arah kekasihnya yang tengah bernyanyi. Terlihat begitu bahagia, namun dia juga melihat kesedihan yang mendalam dari matanya.


Dev yang kebetulan memakai jaket hoodie segera menutup kepalanya dengan topi jaketnya. Beralih memandang kekasihnya yang masih menyanyi. Senyuman terukir di bibirnya, hatinya tersentuh mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh sang kekasih. Seolah lagu itu di khususkan untuk dirinya.

__ADS_1


"Aku harus segera pergi." Jo yang hafal jam pulang istrinya, dia bergegas pergi, namun sebelum dia beranjak, suara tepuk tangan terdengar keras mendominasi ruangan yang sejenak hening karena semua pengunjung menghayati lagu yang di nyanyikan Maria.


Jo yang penasaran oleh seseorang itu, dia berusaha mencari tahu, namun sayang pengunjung itu berdiri cukup jauh di sudut ruangan, terlebih wajahnya yang tidak terlihat jelas karena topi jaket yang menutupi kepalanya.


Jo pun bangkit dari kursi, berjalan keluar dari kafe itu. Tanpa ia sadari, seseorang memandang ke arahnya saat dia berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Flashback end


"Kamu tahu, yang tepuk tangan tadi aku."


"Jadi, itu kamu Dev."


Dev tersenyum simpul.


"Tapi kenapa kamu mencarinya?"


Mendadak senyuman Dev memudar.


"Ada yang ingin ku tanyakan padanya, tentang hubungan kalian. Tapi sepertinya lain kali saja, karena sekarang aku ingin menghabiskan waktu dengan pacarku." Dev kembali tersenyum sambil mencubit lembut ujung hidung Maria. "Sudah malam, sebaiknya kita tidur."


"Hmm.."


"Maria, apa aku boleh menginap?"


"Kamu, mau tidur disini? Tapi kamarnya kecil."


"Tidak masalah. Yang penting aku bisa bersamamu."


Maria berdiri, di ikuti oleh Dev di belakangnya. Mereka masuk kedalam kamar. Jantung Maria berdegup kencang, malam ini mereka akan tidur bersama.


Dev melepas jaketnya lalu ia gantung di gantungan baju. Sedangkan Maria sudah memakai piyama. Mereka membaringkan tubuh mereka di ranjang. Maria menyandarkan kepalanya di lengan kekasihnya yang terlentang. Dev seketika menarik Maria kedalam pelukannya. Tanpa ragu-ragu, Maria mengeratkan sebelah tangannya ke pinggang kekasihnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2