
Rumah Dev
Dev sudah pulang dengan membawa martabak manis untuk Maria.
"Dev, bibirmu kenapa terluka?" tanya Maria khawatir
"Tadi tiba-tiba ada orang gila menyerangku di jalan." Dev berbohong
Malam itu, Dev mengatakan semuanya kepada Maria. Akhirnya Maria kembali menangis.
"Jadi, kamu hanya berpura-pura? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Dev?"
"Aku minta maaf Maria. Aku terpaksa melakukannya. Kamu pergi dari rumah juga gara-gara aku."
"Tidak. Ini semua salahku. Harusnya aku jujur padamu dari awal kalau aku sudah menikah. Dengan begitu masalahnya tidak akan serumit ini."
"Sebenarnya aku tidak masalah dengan keadaanmu Maria. Aku tetap mau menerimamu. Tapi kita tidak boleh egois. Hubungan kita akan menyakiti semua orang." tutur Dev yang membuat Maria semakin berlinangan airmata
"Maria, kamu mau kan kembali bersama suamimu?" tanya Dev penuh harap
Maria terdiam sejenak. "Dev, aku lelah. Aku ingin tidur."
"Ya sudah, selamat malam Maria." Dev menyelimuti Maria sebelum keluar dari kamar
***
Keesokan Pagi
Dev sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar Maria namun tak ada jawaban. Akhirnya dia pun membuka pintu tapi kosong.
Maria pergi dari rumah Dev pagi-pagi sekali, dia pulang ke rumah orang tuanya. Dan kebetulan ibu Maria baru selesai menyapu halaman.
__ADS_1
"Ibu."
"Maria?"
Seketika Maria memeluk ibunya dan terisak. "Ibu, maafkan aku."
"Iya-iya, ayo kita masuk kedalam."
***
"Ibu, maafkan aku. Aku sudah mengecewakan ibu."
"Iya Maria, ibu sudah memaaafkanmu. Sudah, jangan menangis lagi." ujar sang ibu sambil mengusap lembut bahu Maria
Jarak belasan menit, mobil Jo datang ke rumah Maria. Jo merasa lega mendapati istrinya yang ternyata ada di rumah mertuanya. Dia langsung bergegas mencari Maria setelah Dev menelfonnya.
"Nak Jo, silahkan duduk."
"Ibu, tolong izinkan aku untuk membawa Maria pulang bersamaku." pinta Jo dengan lembut
"Maria?" tanya sang ibu
"Tapi ibu.." dalam hati Maria merasa takut, dia tahu pasti suaminya marah besar kepadanya saat ini.
"Maria, statusmu masih sah sebagai seorang istri. Jadi kau harus menuruti apa kata suamimu."
Maria pun terdiam.
"Kalau begitu aku bawa Maria pulang ibu."
Jo dengan sebisa mungkin berusaha menutupi amarahnya di depan sang ibu mertua. Dia tetap tersenyum dan bersikap lembut kepada Maria.
__ADS_1
***
Sesampainya di rumah
"Minah!" teriak Jo pada pelayannya
"Iya tuan." seorang pelayan muncul dari arah dapur
"Bawa koper nona ke kamarnya."
"Baik tuan."
Setelah pelayan itu berlalu, Jo kembali menatap Maria dengan tatapan mengintimidasi. Sementara Maria, jantungnya berdegup kencang melihat suaminya yang menatapnya dengan tajam.
"Apa benar kamu mau menggugurkan anak kita?"
"A aku.."
"Bagaimana kamu bisa punya niat melakukan itu Maria. Karena kebencianmu padaku, sampai-sampai anak kita mau kamu lenyapkan."
Maria tidak bisa berkata-kata melihat aura Jo yang begitu dingin dan penuh amarah terhadapnya.
"Kalau kamu membenciku, benci aku saja. Jangan libatkan anak kita!"
"Aku minta maaf." jawab Maria sedikit terisak
Jo mengacak rambutnya frustasi.
"Maria, kamu jangan berpikir aku membawamu kembali karena untuk mempertahankan rumah tangga kita. Aku akan bertanggung jawab sampai anak kita lahir, setelah itu kita berpisah."
Setelah mengucapkan itu, Jo berlalu meninggalkan Maria. Sudah tidak ada lagi kehangatan di matanya. Dia kembali seperti orang asing dan acuh kepada Maria.
__ADS_1
Bersambung