
2 jam sebelumnya...
Setelah cukup lama Maria terduduk sambil menangis di pinggir jalan, akhirnya dia berdiri. Dia terus berjalan tanpa arah, hingga dia sampai di sebuah jembatan. Dia menatap air sungai dan merenung, meratapi nasibnya.
"Tuhan, kenapa sekarang hidupku jadi begini. Apa salahku? Kenapa kau hukum aku dengan penderitaan semacam ini." Maria menghela nafas kasar
"Dev, maafkan aku. Aku tidak bisa mempertahankan cinta kita. Aku tidak bisa mempertahankan kesetiaanku padamu." Maria diam sesaat seiring airmata yang mengalir membasahi pipinya
"Ibu, ayah, maafkan aku. Aku telah mengecewakan kalian. Sekarang hidupku sudah tidak ada gunanya. Semuanya, maafkan aku. Aku akan pergi meninggalkan kalian semua. Selamat tinggal."
***
"Apa kau yakin Maria bisa mencintaimu, hmm?" tanya Dev dengan senyum sinis
"Aku tidak yakin, tapi bukan bearti aku akan menyerah begitu saja. Aku akan memperjuangkan cintaku, aku akan mempertahankan rumah tanggaku. Mungkin aku sudah melakukan kesalahan. Karena aku sudah merebut kekasihmu. Tapi sekarang Maria adalah istriku. Dan aku berhak atas dirinya." Jo menjawab dengan tenang
Dev tersenyum simpul.
"Kalau begitu berjuanglah. Aku ingin tahu sebesar apa cintamu padanya. Tapi perlu kau ingat." Dev maju selangkah mendekat pada Jo "Aku tidak akan membiarkannya." Dev menyeringai
Jo menatapnya tajam dan berusaha menahan amarahnya yang bergejolak, tangannya mengepal kuat, tapi dia masih sadar bahwa mencari keberadaan istrinya adalah hal yang lebih penting saat ini.
Tanpa mengucap sepatah kata, dia berbalik badan meninggalkan Dev yang masih berdiri menatapnya.
"Bagaimana?" tanya Ramon dari dalam mobil
Melihat ekspresi Jo yang terdiam, Ramon sudah tahu apa yang terjadi. Dia pun membanting setir melajukan kendaraannya pergi dari sana. Sementara Dev masih berdiri memandang kepergian mereka.
"Kita lihat saja nanti, sampai kapan kau akan bertahan."
***
Ibu Maria tak henti-hentinya menangis, dia masih merasa bersalah akan perbuatannya, yang membuat putri semata wayangnya pergi entah kemana. Sementara sang suami terus berusaha menenangkannya sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
Beberapa menit kemudian mobil Ramon datang. Jo turun dari mobil kemudian masuk ke rumah mertuanya. Melihat kedatangan sang menantu, ayah dan ibu Maria segera beranjak dari kursi dan menghampirinya di luar pintu.
"Nak, bagaimana? Apa kau berhasil menemukannya?" tanya ibu Maria
Jo tertunduk lesu. "Aku minta maaf ibu, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi aku tidak menemukannya."
Ibu Maria terdiam.
"Tapi aku akan tetap berusaha ibu, ibu jangan terlalu khawatir."
Setelah menyampaikan hal itu, Jo berlalu meninggalkan rumah mertuanya.
"Tolong antar aku pulang. Kepalaku pusing sekali." pinta Jo sambil mengusap kepalanya frustasi
"Setelah ini apa yang akan kau lakukan?" tanya Ramon
__ADS_1
"Aku akan tetap mencarinya dan membawanya kembali bersamaku. Aku yakin, dia tidak pergi jauh."
***
2 jam sebelumnya...
Maria menangis, wajahnya bercucuran airmata. Dia memandang aliran air sungai, lalu beralih menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Kemudian melepas cincin itu lalu menjatuhkannya ke sungai.
Sesaat kemudian taksi datang menjemput dan berhenti di depannya. Maria segera menghapus airmatanya, dia lantas segera masuk ke dalam taksi dan melenggang pergi dari sana.
***
Hari demi hari terlewati. Tak terasa sudah dua bulan lebih Maria menghilang entah kemana. Jo sudah berusaha mencarinya, bahkan di universitas tempat istrinya menempuh pendidikan. Dia sering datang ke lokasi kampus ketika jam berangkat juga pada jam pulang. Namun dia tidak pernah mendapati istrinya disana.
"Maria, rumah ini terasa sepi tanpamu." Jo melangkah pelan seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Dulu, kamu sering bermain piano dan menyanyi saat kamu sendirian." ucapnya terhenti, lalu menyentuh piano tersebut. "Aku rindu suaramu, Maria."
Kemudian ia kembali melangkah ke kamarnya, dia membuka pintu, lalu berjalan mendekat ke tepi ranjang dengan lesu. Sekelebat ingatan muncul dalam lamunannya ketika dia dan istrinya tidur bersama dan saling memeluk satu sama lain.
"Maria, kamu ada dimana? Aku sangat merindukanmu."
Flashback
"Nona, anda mau kemana?" tanya supir taksi
"Antar saya ke Tora Cafe." pinta Maria
"Kamu sudah datang." sapa seorang pria di seberang sana
"Marco." Maria segera menghampiri pria itu, yang tak lain adalah teman masa kecilnya. Namun langkahnya terhenti saat teman kecilnya itu merentangkan tangannya.
Marco : "Ada apa? Kenapa kamu melototiku?"
Maria : "...."
Marco : "Apa kamu tidak merindukanku? Ayo kita berpelukan."
"Ugh dasar." gemas Maria mencubit pipi teman kecilnya
Marco : "Kalau kuperhatikan, kamu semakin berisi saja."
Maria : "Enak saja. Kamu harus periksa mata ke dokter."
"Haha. Ayo kita duduk." Marco mengajak Maria duduk di kursi depan kafe
"Jadi, apa yang bisa ku bantu?" tanya Marco memulai percakapan
__ADS_1
"Aku, baru pergi dari rumah." jawab Maria lirih
Marco : "What!!"
Maria : "Aduh jantungku, jangan berteriak!"
Marco : "Memang kenapa kamu pergi dari rumah?"
Marco yang melihat Maria tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca dia mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya.
Marco : "Lalu kamu mau tinggal dimana?"
Maria : "Entahlah."
Marco : "Kalau begitu tinggalah di rumahku."
Maria : "Ha! Apa kamu sudah gila?"
Marco : "Setidaknya itu lebih baik dari pada harus mencari kontrakan. Memangnya kamu punya uang?"
"Oh iya ya. Aku lupa bawa uang waktu pergi dari rumah, dan sekarang uangku tinggal satu lembar setelah aku bayar taksi tadi." Maria menunjukkan selembar uangnya, itu pun jatah dari suaminya.
"Maria, kalau kamu mau pergi, harusnya kamu bawa persiapan. Hahaha." Marco terkekeh
Maria memutar bola matanya kesal dengan bibir cemberut.
"Ya sudah." Marco berdiri dari duduk. "Ayo." dia mengulurkan tangannya pada Maria
"Kemana?"
"Mencari tempat tinggal untukmu."
Tanpa pikir panjang, Maria menyambut telapak tangan Marco. Mereka lantas segera pergi dari kafe itu, Marco membuka pintu mobilnya untuk Maria, lalu dia pun masuk ke mobil dan melajukan mobilnya melenggang pergi dari sana.
"Kita mau kemana?" tanya Maria dalam perjalanan
"Kamu ini bawel ya. Sudahlah, menurut saja."
Akhirnya Maria terdiam, dalam perjalanan suasana hening. Maria melempar pandangannya keluar jendela. Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan.
"Selamat datang di apartemenku." sambut Marco di depan pintu
Mereka melangkah masuk, Maria mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Marco : "Mari, ku tunjukkan kamar kita."
Maria : "Apa maksudmu kamar kita?"
Marco : "Aku hanya bercanda tuan putri, jangan ngambek dong."
__ADS_1
Bersambung