
MATURE CONTENT !!!
Yang merasa masih dibawah usia 18 tahun, sebaiknya SKIP part ini.
Dan bagi yang tidak sanggup/tidak suka MATURE CONTENT boleh langsung SKIP saja.
Malam harinya...
Jo tampak sibuk dengan laptopnya di ruang tengah. Maria yang berjalan dari arah dapur menghampirinya dan mendudukkan dirinya disamping Jo sambil membawa teh hangat yang ia letakkan di atas meja.
"Jo."
"Hmm?"
"Tiba-tiba aku teringat Agnez. Bagaimana ya kabarnya sekarang?"
"Iya ya."
"Harusnya dia datang di acara pesta pernikahan kita.."
"Aku sudah berusaha menghubunginya tapi akunnya sudah tidak aktif, emailnya juga. Bahkan aku sudah mencari ke rumahnya, tapi tidak ada orang disana."
"Kira-kira dia dimana Jo?"
"Aku jadi merasa bersalah. Terakhir kami bertemu, sikapku acuh padanya." Jo menghela nafas panjang
"Tapi sudahlah. Lebih baik kita fokus dengan hubungan kita." Jo tersenyum kepada Maria sambil menggenggam tangannya. "Sayang, bagaimana kalau kita bulan madu?"
"Bulan madu?"
Jo membalas dengan menaikkan alisnya dengan senyuman.
***
Tiga hari setelah persiapan selesai, Jo membawa Maria ke sebuah pulau pribadi dengan kapal pesiar. Mereka dilayani bak raja dan ratu, lengkap dengan berbagai fasilitas mewah. Sambil mengarungi lautan luas, seorang pelayan menyuguhkan coklat dan bunga untuk diberikan kepada pasangan. Di kamar mereka berdua juga ada balkon untuk memandang dan menikmati indahnya laut.
"Kita bisa saja naik jet pribadi, tapi aku ingin menghabiskan waktu yang lama denganmu Maria."
"Apapun itu, aku merasa senang Jo. Kamu meluangkan waktu disela kesibukanmu untuk berdua bersamaku."
__ADS_1
Jo tersenyum lantas melingkarkan kedua lengannya ke perut Maria.
"Sejak kita menikah, dan setelah semua yang kita lalui, aku ingin melewati saat-saat yang indah bersamamu. Dulu aku takut sekali, aku pikir pada akhirnya kita berpisah. Tapi aku berterima kasih pada mereka."
"Mereka? Siapa yang kamu maksud?"
"Anak-anak kita. Karena mereka telah mempersatukan kita."
Maria tersenyum.
"Iya, kamu benar."
Saat ini mereka tengah berdiri di balkon menikmati pemandangan laut. Kedua tangan Jo tak pernah lepas memeluk Maria dari belakang. Sesekali mencium tengkuk Maria membuat darah Maria berdesir, mengingat bahwa mereka pernah bergumul di atas ranjang.
"Ini pertama kalinya aku naik kapal pesiar." ucap Maria mengalihkan rasa canggung
"Anggap saja kita berada diatas kapal titanic."
Maria tertawa keras mendengar ucapan Jo yang sangat konyol.
"Tapi kamu tidak setampan Leonardo DiCaprio."
"Bayangkan saja aku setampan dia."
"Kenapa? Karena aku lebih tampan?"
"Huh, dasar narsis."
"Karena aku lebih tampan. Sudahlah akui saja ketampananku."
"Iya, alien tampan."
"Dasar marmut nakal."
Siang itu mereka bercanda dengan riang, walaupun mereka saling mengejek satu sama lain, atau bahkan memperdebatkan hal kecil yang sangat konyol.
Mereka berlibur di sebuah pulau dengan hamparan pasir putih yang cantik dan jernihnya air laut berwarna turquoise. Setibanya disana, mereka disambut oleh penginapan utama yang megah dan antik. Dengan ruang keluarga serta ruang makan luas, dan master suits bedroom. Juga tersedia pilihan hidangan Timur dan Barat.
Saat senja atau malam, mereka menghabiskan waktu romantis dengan menikmati hembusan angin pantai di paviliun sambil meneguk minuman hangat. Jo juga membawa kamera untuk mengabadikan momen romantisnya bersama Maria dikala momen sunrise dan sunset.
__ADS_1
Diatas tempat tidur, Jo dan Maria saling menatap satu sama lain. Jo mengusap pipi Maria dengan lembut, menatap lekat-lekat dengan senyum hangatnya. Netranya tak lepas menatap manik madu Maria. Membuat jantung Maria berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Maria, apakah kamu mengizinkan aku untuk menyentuhmu malam ini? Menyentuhmu seutuhnya?" Jo bertanya dengan mata teduhnya, namun Maria tak langsung menjawab.
"Tapi jika kamu belum siap, aku akan sabar menantikannya. Sampai kamu siap untuk menerimaku." Lanjutnya dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya
"Jo, suamiku. Lelaki yang sangat aku cintai. Malam ini aku bersedia menyerahkan diriku seutuhnya untukmu."
Jo tersenyum bahagia sekaligus terharu mendengar jawaban dari istrinya. Dia mulai mencumbu bibir Maria, dan melucuti pakaian Maria tanpa melepas pagutannya. Sesaat dia menarik diri dari Maria untuk melepaskan pakaiannya. Kini tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Perlahan Jo membaringkan tubuh Maria dengan lembut.
Maria pasrah, ketika jari jemari Jo meraba-raba tubuhnya. Dia kembali menindih, memagutkan kedua bibir mereka. Kedua tangan Jo meremas pydra Maria bergantian sambil menghisap, memainkan dengan lidahnya membuat sensasi geli pada Maria. Jo memasukkan kejantanannya perlahan namun masih terasa sempit meskipun Maria sudah sangat basah. Mungkin karena mereka hanya baru satu kali melakukannya, itupun sudah sangat lama.
Jo menggerakkan pinggulnya perlahan tanpa melepaskan ciumannya. Dia menggeram dalam lum*tan bibirnya saat merasakan reaksi kewanitaan Maria berkedut saat dirinya mulai bergerak. Maria pun mendesah dalam ciuman mereka, masih terasa perih walaupun perlahan-lahan rasa sakit itu berubah menjadi sebuah kenikmatan yang tak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Jo masih mengatur temponya dengan lamban. Dia benar-benar berhati-hati dengan Maria. Namun perlahan-lahan ringisan yang menggema di ruangan itu berganti menjadi desah kenikmatan dari keduanya.
"Ahhh..!! Ahhh..!! Jo..!!"
Desahan Maria bagaikan nyanyian merdu yang mendorong Jo untuk terus memompa kenikmatan dari tubuh istrinya. Jo menurunkan bibirnya dan kembali bermain dengan p*ting Maria. Juga membuat bercak-bercak kemerahan di sekitar pydra Maria. Maria membusungkan dadanya menahan kenikmatan yang meluap-luap akibat sentuhan Jo. Dia sudah membuatnya kehilangan akal.
"Ahhh...!! Ahhh..!!
Suara Maria bagaikan melodi surgawi yang begitu menggairahkan di telinganya. Jo mempercepat gerakan kejantanannya, membuat Maria semakin histeris dibawah tubuhnya.
"Ahhh!! Ahhh!! Jo!!! Ahhh!!
Pinggul Maria bergerak mengikuti irama gerakan pinggul Jo. Bibirnya kembali menyambut bibir Jo dan jemarinya meremas rambut belakang Jo yang dibasahi keringat. Jo menyatukan telapak tangan mereka dan saling menggenggam selama keduanya terus bergerak. Mereka berbagi kecupan, saliva, keringat dan cairan bersama. Jo mampu memberikan sejuta sensasi baru untuknya.
"Ooohhhhh!!!
Maria meremas rambut Jo dengan begitu kuat saat dirinya kembali merasakan sensasi aneh yang mendesak bagian intim kewanitaannya. Org*sme selanjutnya, Maria tahu dirinya sebentar lagi akan klimaks. Jo menyadari hal itu dan semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Kejantanannya terus menusuk kedalam (v) Maria, mencari titik kenikmatan sampai Maria menjerit nikmat saat miliknya menyentuhnya. Erangan demi erangan, desahan demi desahan pun pecah di ruangan itu hingga akhirnya mereka berhasil menggapai puncak kenikmatan itu.
"Aaakkkkkhhhhhh!!"
Bersamaan dengan pekikan kenikmatan Maria dan geraman tertahan Jo di lehernya, mereka melakukan pelepasan bersama. Cairan hangat milik mereka berdua melebur jadi satu di rahim Maria, sebagian merembes ke atas sprei. Nafas mereka berdua tersengal-sengal karena klimaks yang begitu menakjubkan.
Maria mengerjabkan mata berkali-kali. Ini begitu luar biasa. Begitu pula dengan Jo yang masih membenamkan wajahnya di perpotongan leher Maria. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum kepuasan. Jo mengecup kulit leher Maria dengan lembut sementara Maria mengelus kepalanya. Jo menarik kembali kejantanannya dengan perlahan, membuat Maria mendesah rendah dibawahnya.
Maria menatap sayu "Jo.."
Jo mengangkat wajahnya hingga mata mereka bertemu. Senyuman kembali terpatri di wajah tampannya. Jo mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus pipi Maria yang memerah, dan kembali mengecup lembut bibirnya. Jo menggeser tubuhnya ke samping Maria, melingkarkan lengannya ke pinggang Maria dan merengkuhnya mendekat.
__ADS_1
Maria menjadikan lengan atas Jo sebagai bantal. Membuat jarak diantara mereka begitu dekat. Sesekali Jo mengecup dan mlumat bibir bawah Maria. Maria pun menyamakan posisinya di bahu Jo. Menyesap aroma tubuh suaminya yang begitu khas. Rasa lelah yang mulai memberatkan matanya membuat Maria tak sanggup menahan kantuk. Malam ini adalah malam yang begitu panjang baginya. Begitu pula dengan Jo yang merasakan seluruh tubuhnya merileks saat dia menarik selimut untuk mereka berdua.
Bersambung