
Seorang gadis berambut panjang bergelombang sedang berdiri di depan sebuah cermin, menatap pantulan dirinya yang mengenakan sebuah dress warna hitam sambil menenteng sebuah topeng berwarna emas. Sedangkan pikirannya terbang jauh ke masa yang lain. Mungkin dia akan berbaring di atas kasur sekarang kalau saja ketiga sahabatnya tidak memaksanya untuk datang ke acara prom ini. Maria sudah mencoba berbagai alasan agar dia tidak datang ke acara tersebut, tetapi ketiga sahabatnya itu lebih hebat lagi untuk memaksanya datang.
Acara Prom di kampusnya kali ini bertema pesta topeng dan setiap siswa yang datang diwajibkan untuk memakai topeng. Maria segera memasang topengnya setelah suara klakson dari mobil di luar rumahnya berbunyi tiga kali. Nancy telah menjemputnya dan Maria bisa menebak kalau di mobil itu tidak hanya ada Nancy seorang, ada Sasha dan Jeni juga di mobil itu karena mereka pasti akan ikut memastikan apakah dia akan ikut ke Prom malam ini. Tanpa berlama-lama lagi Maria pun segera menghampiri ketiga sahabatnya. Maria segera membuka pintu mobil dan duduk di kursi bagian depan karena kedua sahabatnya telah menempati kursi di belakang.
***
Suara musik mengisi seluruh penjuru Ballroom Universitas seperti layaknya pesta Prom lainnya. Keempat gadis telah berdiri didepan pintu ballroom dengan senyum di bibir yang tidak pernah lepas dari wajah mereka masing-masing. Jeni tersenyum bangga dengan hasil kerja kerasnya bersama panitia lainnya untuk membuat ballroom itu menjadi tempat yang indah. Dia berhasil karena nyatanya ketiga sahabatnya terpaku menatap ruangan itu yang tidak lagi terlihat seperti ballroom universitas mereka, ruangan itu kini terlihat seperti ruangan di sebuah hotel mahal. Mereka berempat pun melangkahkan kaki mereka masuk, berbaur bersama siswa lainnya yang juga menggunakan topeng. Tidak ada yang dapat mereka kenali disini, semua tampak misterius dengan topeng yang mereka kenakan. Mungkin mereka juga tidak akan saling mengenali jika tidak mengingat baju yang mereka pakai. Mereka akan saling berpencar dan mencari pasangan dansa masing-masing.
Maria tengah duduk sendirian di pojok ruangan. Dia tampaknya enggan untuk mencari pasangan dansanya. Dia tidak begitu peduli dengan acara malam ini karena dia memang tidak berniat datang awalnya. Dia hanya terdiam menatap penjuru ruangan, memperhatikan para siswa yang tengah berdansa dan dari sana dia bisa menemukan ketiga sahabatnya yang tengah berdansa dengan masing-masing pasangan mereka.
Di tempat yang sama, seorang pria misterius baru saja memasuki ruangan ballroom tempat acara prom night berlangsung.
Pria itu adalah Jonathan. Dia terus berjalan ke tengah ruangan, memperhatikan satu per satu gadis bertopeng yang ada di ruangan itu. Mencari gadis berambut panjang bergelombang dengan mata madunya yang indah. Dia terus mencari sampai pada matanya yang terjatuh pada seorang gadis yang tengah duduk sendirian di pojok ruangan.
"Sendirian saja?" tanya Jo kepada Maria yang tersenyum di hadapannya
"Aku sedang tidak mood."
"Kamu seharusnya menikmati acara ini. Mau dansa denganku?" Jo mengulurkan tangannya kepada Maria
"Tentu saja, dengan senang hati." Maria pun menerima uluran tangan Jo dan mereka pun segera bergabung dengan pasangan lainnya, berdansa mengikuti alunan musik yang tengah berputar.
Maria berdansa bersama pria misterius itu sambil terus menatap ke arah matanya. Mata hazel. Kemudian beralih menatap ke arah bibir pria itu, bibir yang terus tersenyum ke arahnya. Maria bertanya-tanya, siapa pria misterius itu? Dia merasa mengenalnya, tapi dia juga tidak yakin. Setelah lama tenggelam dalam pikirannya sendiri dia pun mulai membuka suaranya.
"Kamu mahasiswa dari jurusan apa?" tanya Maria pada pria misterius yang sedang berdansa dengannya
"Jurusan yang sama denganmu." Jo tersenyum manis
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Iya, mungkin satu kali. Dan aku sangat senang mendengar kamu menyanyi, suaramu sangat indah."
"Kamu melihatku di kelas musik?"
__ADS_1
"Kebetulan aku sedang melewati kelasmu saat kamu sedang bernyanyi."
"...."
"Kamu sangat cantik." Jo memuji Maria setelah hening yang terjadi beberapa saat
"Terima kasih."
Tiba-tiba musik yang mengiringi dansa berhenti dan suara mic terdengar dari atas panggung. Semua mata langsung tertuju kesana, menatap MC yang berdiri di panggung, tidak terkecuali Maria dan pria misterius itu. Sekarang mereka berdiri bersebelahan dengan tangan Jo yang masih memegang pinggang Maria.
MC mulai membacakan serentetan acara yang akan di adakan setelah ini dan ada satu acara yang sangat di tunggu-tunggu oleh Jonathan. Jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Dia merasa gugup, tapi keputusannya sudah bulat. Dia gugup karena memikirkan bagaimana ekspresi Maria saat mengetahui siapa dia sebenarnya, tapi dia cukup bahagia karena gadis itu ternyata mengenalinya. Memang hanya sekedar merasa mengenalnya, tapi artinya dia tidak melupakannya sama sekali.
MC telah selesai membaca serentetan jadwal acara dan telah turun dari atas panggung. Acara setelah ini adalah acara sumbang lagu dari siswa jurusan musik atau jurusan lainnya yang memang mau bernyanyi di atas panggung. Jo tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya ke arah telinga Maria, membuat gadis itu menahan nafasnya saking kagetnya.
"Kamu akan tahu siapa aku setelah ini. Aku harap kamu tidak pergi kemana-mana karena aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu." Jo berbisik kemudian mencium pipi Maria dan pergi meninggalkannya yang terdiam kaku karena aksinya barusan.
Jo menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu sebelum melangkahkan kakinya ke atas panggung, lalu mendudukkan diri di atas bangku piano. Semua mata langsung memandang ke arahnya tidak terkecuali Maria. Jo tersenyum ke arah Maria dan meraih mic yang menempel diatas piano.
"Aku akan menyanyikan lagu spesial untuk seorang gadis yang berada dibawah sana, gadis yang berdansa denganku tadi." Jo mulai menggerakkan jarinya diatas piano, memainkan sebuah nada yang indah hingga akhirnya dia mulai menyanyi. (Hyun Bin_That Man ost. Secret Garden)
🎵Seorang pria mencintaimu
🎵Layaknya bayanganmu, dia mengikutimu setiap hari
🎵Pria itu tertawa meskipun sebenarnya dia menangis
🎵Seberapa lama, berapa lama lagi
🎵Dia harus menatapmu seorang diri
🎵Cinta ini begitu bearti, juga begitu menyedihkan
🎵Jika dia terus seperti ini, akankah kau mencintainya?
Maria terpaku menatap ke arah pria yang tengah menyanyi diatas panggung itu. Terpaku karena suaranya, terpaku karena permainan pianonya yang sangat indah, dan terpaku karena pria itu mengatakan bahwa lagu tersebut spesial untuknya. Maria benar-benar merasa mengenalnya terlebih lagi kata-kata yang di bisikkan padanya sebelum hendak naik ke atas panggung.
"Kamu akan tahu siapa aku setelah ini."
__ADS_1
Jo masih fokus memainkan piano di depannya dan menyanyikan lagunya hingga di pertengahan lagu, sesekali netranya melirik ke bawah panggung tempat Maria berdiri. Dia tersenyum begitu mengetahui kalau istrinya masih berdiri di tempat yang sama, bahkan mata Maria seakan tak pernah lepas memandangnya.
🎵Hanya sedikit lebih dekat, datanglah sedikit lebih dekat padaku
🎵Jika aku mengambil satu langkah mendekat padamu, kau mengambil dua langkah menjauh
🎵Aku mencintaimu, dan sekarang aku ada disisimu
🎵Pria itu pun hanya bisa menangis
Maria masih memandang pria misterius di atas panggung itu sambil mendengarkan baik-baik setiap lirik dari lagu yang di nyanyikan olehnya. Liriknya memiliki makna yang dalam. Lagu itu adalah lagu cinta yang bertepuk sebelah tangan. Lantas bagaimana pria itu bisa tiba-tiba jatuh cinta padanya. Cinta pada pandangan pertamakah? Tapi lagu itu sepertinya tidak menggambarkan hal itu. Ada beberapa lirik dari lagu yang di nyanyikan olehnya yang sedikit membuat Maria semakin bingung dan penasaran. Siapa sebenarnya pria itu?
🎵Seberapa lama, berapa lama lagi
🎵Aku harus menatapmu seorang diri
🎵Cinta ini begitu berarti, juga begitu menyedihkan
🎵Jika aku terus seperti ini, akankah kau mencintaiku?
🎵Hanya sedikit lebih dekat, datanglah sedikit lebih dekat padaku
🎵Jika aku mengambil satu langkah mendekat padamu, kau mengambil dua langkah menjauh
🎵Aku mencintaimu, dan sekarang aku ada disisimu
🎵Pria itu pun hanya bisa menangis
Jo telah menyelesaikan lagunya dan kini tepuk tangan mulai terdengar dari para siswa yang ada di ballroom. Jo tersenyum lalu turun dari panggung menghampiri Maria. Jo diam sesaat kemudian membuka topeng yang menghalangi wajahnya. Semua orang terkejut dan banyak gadis berteriak histeris begitu memandang wajah dibalik topeng itu yang sangat tampan. Ekspresi terkejut juga tampak di wajah Maria. Dia membelalakkan matanya saat melihat wajah dari pria misterius yang berdansa dengannya tadi. Maria membeku ditempat dengan terus menatap suaminya yang kini berdiri di hadapannya.
"Maria, aku datang kesini untuk mencurahkan seluruh isi hatiku padamu. Meskipun aku tahu kamu tidak bisa menerimaku, aku tetap ingin mengatakannya."
Airmata mulai mengalir membasahi pelupuk mata Maria. Dia masih terdiam membeku ditempatnya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali yang membuat airmatanya turut mengalir ke pipinya yang tertutup oleh topeng. Beberapa pasang mata kini telah menatap ke arahnya yang menangis, menatap dengan pandangan bingung, cemburu dan iri. Tidak sedetikpun mata Jo terlepas dari Maria yang kini menangis di depannya. Tangannya kini meraih tangan Maria dan menggenggamnya dengan erat seakan tidak ingin lagi kehilangan. Tangannya yang satu lagi ia arahkan ke topeng Maria dan membukanya. Jo menatap mata madu di depannya dengan intens. Hatinya kembali mencelos saat melihat airmata telah membasahi pipi istrinya. Maria memejamkan matanya sejenak saat jemari Jo mengusap pipinya dan saat ia kembali membuka matanya tatapannya langsung tertuju ke mata hazel di depannya.
"Maria, aku sangat merindukanmu. Kumohon pulanglah."
Jo diam sesaat, hingga sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Maria.
__ADS_1
Sontak semua yang ada disana terkejut dengan pemandangan di hadapan mereka. Begitu pula Maria. Jo kemudian pergi begitu saja keluar dari ballroom itu. Entah mengapa muncul rasa sesak dalam diri Maria ketika dia berjalan semakin jauh meninggalkannya.
Bersambung