Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Ikatan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Dev yang berumur 18th, lebih tua dua tahun dari Maria akhirnya lulus. Mungkin untuk gadis seusia Maria, perasaannya di anggap cinta monyet. Namun tidak baginya, dia menyayangi Dev sangat tulus, begitu juga sebaliknya.


"Apa kau tidak ingin kuliah di luar negeri, Jo?"


Jo meletakkan sendok garpunya di piring.


"Tidak." jawabnya tegas.


"Ya, terserah kau saja. Tapi ingat, setelah lulus kuliah nanti kau harus mengikuti kemauan ayah. Kau mengerti?"


"Aku sudah tidak nafsu makan." Jo beranjak dari meja makan


Dengan langkah tergesa-gesa dia masuk ke kamarnya, mengambil kunci motor lalu bergegas pergi dari rumah. Dia melajukan motornya dengan cepat karena dia sangat marah saat ini. Pada saat melewati pertigaan, tiba-tiba ada seorang gadis yang tengah bersepeda mau menyebrang. Jo tersentak, akhirnya dia pun tak sengaja menabrak sepeda itu.


"Aduh!!"


Untunglah Jo segera mengerem, jadi kecelakaan itu tidak terlalu parah. Dia pun turun dari motor menghampiri gadis itu.


"Kamu tidak apa-apa?"


Gadis itu memegang lutut dan tangannya yang terluka, kemudian melihat ke arahnya.


"Maria!!"


"Kak Jo?"


"Maaf, aku tidak fokus tadi. Karena aku melihatmu jadi aku kaget." Jo mengulurkan tangannya membantu Maria berdiri


"Ini, sebagai permintaan maafku." Jo memberikan beberapa lembar uang di telapak tangan Maria


"Tidak usah kak."


"Sudahlah, terima saja. Aku tidak mau kau menyalahkanku nanti karena kejadian ini."


"Tidak perlu kak, simpan saja uangmu."


"Ku bilang terima ya terima saja! Tidak usah kebanyakan drama!"


Jo hendak menaiki motornya, tapi dengan cepat Maria menepuk bahunya.


"Tunggu! Apa maksudmu? Sepertinya kau anggap aku rendah dengan menyerahkan uang ini!"


"Kalau iya kenapa? Hmm."


Maria terdiam mendengar ucapannya.


"Bahkan aku bisa membelimu." Jo tersenyum sinis.


Dengan geram Maria menyebarkan uang itu ke muka laki-laki tampan di hadapannya. Lalu dia segera menaiki sepedanya dan berlalu dari tempat itu.


Sementara Jo diam terpaku memandang kepergian Maria yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.


"Dasar cewek angkuh."


***

__ADS_1


3 tahun kemudian..


Maria akhirnya lulus. Dia pulang dari sekolah sambil mengapit ijazah. Nampak sang ibu sedang duduk di ruang tamu.


"Ibu, lihatlah. Nilaiku bagus-bagus."


Ibunya tak menjawab.


"Ibu, ada apa? Kenapa ibu diam saja?"


"Maria, ayahmu di phk."


"Apa!"


"Lupakan pendidikanmu. Kami tidak akan bisa membiayai kuliahmu. Maaf.."


Maria berusaha menahan tangis untuk meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


"Ibu, ibu tidak perlu minta maaf. Aku tidak apa-apa kalau tidak kuliah. Aku akan mencari kerja dan membantu mencukupi kebutuhan kita."


"Ayahmu, dia kehilangan semangat. Dia jadi sering marah-marah tidak jelas. Ayahmu sudah berkali-kali melamar kerja tapi sangat sulit dan ditolak."


"Ibu, biar aku saja yang mencari kerja. Ibu tenang saja, serahkan semuanya padaku. Aku yakin hidup kita akan membaik. Saat ini Tuhan sedang menguji kita." tutur Maria memeluk ibunya yang terisak.


***


Keesokan harinya, Maria melamar kerja di beberapa restoran namun tak ada lowongan. Akhirnya dia kerja part time delivery.


Hingga suatu malam, Maria mendapat order dari seorang pelanggan. Setiba di depan pintu, dia menekan bel. Tak lama kemudian pemilik rumah membuka pintu.


"Wah.. jadi kamu yang mengantar pesananku." ucap pemilik rumah itu dengan senyum sinis


"Wah.. jadi kamu yang mengantar pesananku." ucap pemilik rumah itu dengan senyum sinis


Sekali lagi dia memberikan uang kepada Maria dengan senyum merendahkan.


"Uangnya terlalu banyak."


"Ambil saja semuanya."


"Tapi.."


Brak!!


ucapan Maria terpotong tatkala mantan kakak kelasnya itu menutup pintu dengan keras.


Maria mendengus kesal, dia pun segera pergi meninggalkan rumah itu. Setelah jam kerjanya habis, Maria bergegas pulang. Sesampai di rumah dia di kejutkan oleh sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya. Saat Maria masuk kedalam rumah, nampak seorang pria paruh baya sedang duduk di ruang tamu, berbincang dengan kedua orang tuanya.


"Maria." panggil sang ibu


Maria yang merasa bingung dengan situasi ini dia hanya tersenyum ramah kepada seseorang yang tidak ia kenal, kemudian duduk disamping ibunya.


"Jadi ini putrimu yang pernah kau ceritakan padaku?" tanya pria paruh baya tersebut


"Benar, dia putri kami satu-satunya. Sekarang umurnya baru menginjak 18 tahun. Karena keadaan, dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya." jawab ayah Maria

__ADS_1


"Jangan khawatir soal itu. Aku pastikan putrimu akan mendapatkan pendidikan terbaik. Kalian tidak perlu khawatir tentang masa depan putri kalian."


"Ayah, ibu, sebenarnya apa maksud om ini?" tanya Maria menatap ayah dan ibunya bergantian


"Maria, om ini adalah teman dekat ayah. Beliau memiliki seorang anak laki-laki, anak om ini memiliki masalah gangguan tidur, jadi setiap hari dia mengkonsumsi obat tidur." jawab sang ibu sambil mengusap bahu Maria


"Lalu apa hubungannya denganku ibu?"


"Menikahlah dengannya."


Deg


"Iya nak. Putraku tidak bisa tidur jika tidak ada yang memeluknya. Dia punya trauma saat masih kecil dan itu berlangsung sampai sekarang. Aku sudah berkali-kali membawanya ke psikiater tapi dia tetap tidak bisa sembuh. Jadi, aku punya inisiatif untuk mencarikannya seorang istri. Meskipun usianya masih sangat muda."


"Maria, pikirkanlah baik-baik. Om ini akan menjamin masa depanmu. Ini kesempatan bagus untukmu, kamu terima ya sayang." bujuk sang ibu lembut


Maria terdiam menahan air mata yang mau mengalir. Dia ingin menolak permohonan ibunya, tapi wajah memohon dari sang ibu membuatnya tak kuasa untuk menolak.


"Baik ibu, aku bersedia."


Seketika semuanya tersenyum lega.


"Terima kasih banyak sayang, ibu yakin kau akan bahagia." ucap sang ibu lalu mencium kening Maria


Setelah urusan selesai, pria tersebut beranjak pergi.


"Ibu, ayah, aku sangat lelah. Aku permisi ke kamar."


"Iya sayang, istirahatlah."


Begitu masuk ke dalam kamar, Maria membanting dirinya di kasur, air matanya tumpah. Dia meraih ponsel disampingnya, memandang foto sang kekasih yang terpampang sebagai wallpaper ketika ponsel di nyalakan.


"Dev, maafkan aku. Hiks.."


***


Di lain tempat, pria paruh baya tadi sampai di kediamannya. Dia berjalan menapaki anak tangga menuju kedalam kamar putranya.


"Kau belum tidur?"


"Hmm." jawab putranya dingin yang tengkurap sambil mengetik laptop


"Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu, tolong lihatlah ayah!"


Dengan muka malas, putranya beranjak dari tempat tidur dan berdiri di hadapannya.


"Ayah sudah memutuskan, setelah lulus kuliah nanti kau harus menikah dengan gadis pilihan ayah."


"Ayah, sudah berapa kali aku bilang! Aku tidak mau! Aku masih ingin bebas!"


"Kau menikah bukan di penjara. Ayah tidak melarang kebebasanmu, ini demi kebaikanmu. Kalau kau menolak, ayah akan mencoret namamu dari ahli waris."


Putranya yang masih remaja tentu saja merasa takut. Saat ini dia masih belum memiliki apa-apa dan masih berpijak dengan kaki ayahnya.


"Iya aku mau!! Ayah puas!!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2