Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Rasa Bersalah


__ADS_3

Flashback on


Maria menghadap pintu kaca besar yang masih tertutup gorden hitam. Maria menyibak gorden hitam yang menutupi pintu kaca tersebut. Tampaklah pemandangan ibukota di siang hari pada musim panas yang begitu indah dari ketinggian.


Maria menatap kagum pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Dia menempelkan telapak tangannya pada kaca bening yang ada di hadapannya, seakan dia menyentuh ibukota dengan tangan dan jemarinya yang lentik.


"Indah sekali.." gumam Maria terus menatap kagum pemandangan di depannya.


Marco beranjak membuka pintu tersebut dan melangkah menuju balkon apartemennya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya perlahan sambil menatap ibukota dari atas sana. Maria melangkahkan kakinya menuju balkon apartemen Marco. Berdiri disamping Marco sambil menikmati hembusan angin dan pemandangan yang masih terus membuatnya terkagum-kagum.


"Bagaimana?" Tanya Marco melirik Maria yang kini ada disampingnya


"Apa?" Balas Maria balik bertanya pada Marco


"Apakah tempat ini cocok untuk menyegarkan otakmu?"


"Cocok, cocok sekali. Aku merasa seperti aku bisa menggenggam ibukota dari atas sini." Ucap Maria sambil menjulurkan tangannya dan menggenggam bayangan ibukota di tangannya


"Apa kau senang?" Tanya Marco lagi


"Tentu saja. Ini pertama kalinya bagiku melihat ibukota dari ketinggian." Jawab Maria dengan seulas senyumnya


Flashback off


Marco tengah termenung memandang keindahan ibukota di malam hari melalui kaca apartemennya sembari makan hotdog dan di temani secangkir kopi. Tiba-tiba saja terlintas dalam ingatannya wajah teman kecilnya, yang sudah dua bulan lalu menginap bersamanya.


"Ngomong-ngomong aku sudah lama tidak bertemu dengan Maria. Kira-kira dia sedang apa ya?"


***


Sore keesokan harinya...


Marco datang ke kontrakan Maria. Dia mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada jawaban.


"Maria!"


Tok Tok Tok


"Kau cari siapa?" Tiba-tiba seorang wanita paruh baya pemilik kontrakan menghampiri Marco dari belakangnya


"Maaf nyonya, saya mencari teman saya. Dia tinggal di sini."


"Oh.. nona yang menyewa kontrakan ini? Dia sudah pindah."


"Apa! Pindah?"


"Iya, sudah dari semalam."


"Kira-kira nyonya tahu teman saya itu pindah kemana?"


"Kalau soal itu saya tidak tahu."


"Kalau begitu terima kasih atas informasinya nyonya."


Wanita itu pun pergi. Marco menghela nafas kasar. "Kemana lagi kau Maria?"


Marco pun kembali masuk kedalam mobil, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah rumah orang tua Maria. Dia pun pergi kesana. Sesampainya di rumah keluarga Maria, dia cukup terkejut mendapati seorang laki-laki sedang duduk di ruang tamu, berbincang dengan ibu Maria.


"Tante?"


"Hah, Marco?"


Ibu Maria segera berdiri dari duduk menghampiri Marco dan menarik tangannya menuju ke teras.


"Ada apa sih tan?" Tanya Marco bingung


"Kenapa kau datang kesini? Ada perlu apa?"


"Aku, mencari Maria."


"Maria sudah lama pergi meninggalkan rumah ini."


"Apa! Tapi kenapa?" Marco berpura-pura kaget dan tidak tahu apa-apa


Kalau dia tidak ada dirumah lalu anak itu ada dimana?


"Tante mau mengatakan sesuatu."


"Apa itu tan?"

__ADS_1


"Maria, dia.. sudah menikah."


"Apa! Tante serius?" Marco terkesiap


Ibu Maria pun mengangguk.


"Cepat sekali tan, bukannya dia masih ingin kuliah dan mewujudkan cita-citanya?"


"Ceritanya panjang. Dan kau tahu, laki-laki yang ada di dalam tadi adalah suami Maria."


Sontak Marco melotot.


"Sudahlah, lebih baik kita bicara saja didalam. Tante percaya kau bisa jaga rahasia. Kalau tetangga yang tanya, tante bilang ke mereka kalau itu keponakan tante."


Ibu Maria pun meminta Marco masuk, sampai akhirnya menyuguhkan camilan dan dua cangkir teh kepada menantu dan teman kecil putrinya yang sudah ia anggap seperti keponakannya sendiri.


"Silahkan diminum, dan makan camilannya sambil mengobrol ya." Ibu Maria tersenyum kemudian berlalu meninggalkan dua laki-laki itu di ruang tamu


Marco duduk berhadapan dengan Jo, matanya penuh selidik menatap Jo dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Ku perhatikan, tidak ada kekurangan sedikitpun. Benar-benar sempurna. Lalu, apa yang membuat Maria pergi meninggalkannya?


"Jadi, kau suaminya Maria?" Tanya Marco memulai percakapan


"Iya." jawab Jo dingin


"Perkenalkan, aku Marco."


"Jonathan." sahutnya datar


"Sudah berapa lama kalian menikah?"


"Tiga bulan."


"Lalu apa yang membuat Maria pergi  meninggalkanmu?"


Jo menatap Marco dengan wajah dingin tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ayolah, cerita saja padaku. Kita ini sesama lelaki brother. Kau tidak perlu sungkan."


"...."


"Maria dan aku sudah berteman sejak kecil. Dulu kami sekolah di sd yang sama, dan smp yang sama. Tapi menginjak SMA, hubungan kami jadi renggang. Aku sudah jarang bertemu dengannya karena kami tidak satu SMA. Dan Maria sudah seperti saudaraku."


"Baiklah, aku akan ceritakan semuanya."


Mendadak Marco menyunggingkan senyum. Dia merasa lega.


"Maria pergi meninggalkanku karena..."


Marco menanti ucapan Jo selanjutnya dengan penasaran. Jo terlihat ragu untuk menceritakannya. Dia terlihat gelisah dan bersedih.


"Aku sudah, mengambil mahkotanya secara paksa."


"Bukannya itu hal yang wajar? Kalian suami istri bukan?"


"Masalahnya, Maria tidak mencintaiku. Dia punya pacar sebelum menikah denganku. Kami menikah karena di jodohkan dan kami tidak bisa menolak. Hari demi hari ku lalui bersamanya, perlahan-lahan aku menaruh hati padanya. Aku sangat cemburu melihatnya berciuman dengan laki-laki lain, yang tak lain adalah pacarnya. Lalu, malam hari tepat di hari ulang tahunnya, aku merenggutnya secara paksa. Kemudian timbul dalam perasaanku untuk menyakitinya. Aku merasa senang melihatnya menderita, aku merasa puas melihatnya tersiksa. Dia terus menyebut namaku dan memohon ampunanku. Tapi setelah itu aku menyesal. Sangat." Jo menjelaskan rentetan panjang lebar tentang malam itu bersama istrinya hingga akhirnya menghela nafas lelah


"Ya, aku mengerti. Wanita mana yang tidak sakit hati jika diperlakukan sekasar itu. Tapi dalam hal ini Maria juga bersalah." tutur Marco


"Sebisa mungkin aku berusaha mengendalikan diriku, aku tidak mau dia pergi semakin jauh jika aku melakukan kesalahan lagi. Karena itu aku bersabar sampai sekarang."


"Kau jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Lebih baik pikirkan saja cara agar Maria mau kembali. Aku baru saja datang dari kontrakannya, tapi Maria sudah pergi."


"Maria pergi! Lalu dia ada dimana sekarang?" Jo mulai panik


"Aku sudah berkali-kali menelfonnya dari semalam, tapi ponselnya tidak aktif." jawab Marco


Perlahan rasa panik Jo mereda. Dia meraih ponsel dari saku celananya, lalu menelfon seseorang.


"Hallo, kamu ada dimana?"


"Aku dirumah kak. Memang kenapa?"


"Bisakah nanti malam kita bertemu?'


"Bisa, memangnya ada apa kak?"


"Ada yang ingin ku tanyakan."

__ADS_1


"Oke."


Jo mematikan telfonnya.


"Barusan kau menelfon siapa?" tanya Marco


"Teman Maria."


"Syukurlah, setidaknya ada yang bisa beritahu kita tentang anak itu. Dua bulan lalu Maria tinggal bersamaku. Dia menginap di apartemenku selama seminggu. Semoga dia tidak pergi jauh kali ini."


"Terima kasih." ujar Jo


"Hah, untuk apa?" tanya Marco


"Kau sudah menjaga Maria." balas Jo


"Kau tidak perlu berterima kasih. Maria sudah seperti saudaraku." sahut Marco sebelum menyeruput teh hangatnya


***


Malam harinya...


Jo tengah duduk di kursi Kafe cukup lama, sampai seseorang yang di nantikan datang.


"Maaf, apa kakak sudah menunggu lama?" Sasha berjalan menghampiri Jo


"Tidak." Jo menjawab di susul dengan Sasha yang duduk di hadapannya


"Kakak mau tanya apa?"


"Apa Maria ada disini?"


"Dia bilang dia tidak bisa datang hari ini. Aku juga tidak tahu kenapa."


Mendengar jawaban Sasha membuat Jo lemas frustasi. Padahal gadis itu adalah harapannya satu-satunya untuk menemukan keberadaan istrinya.


"Maria baru saja pergi. Sekarang aku tidak tahu dia ada dimana." kata Jo putus asa


"Apa!"


"Aku pikir kamu mungkin bisa membantuku."


"Maaf kak, aku sendiri juga tidak tahu kalau Maria sudah pergi dari kontrakannya. Apalagi, kemarin kami sempat bertengkar." Sasha menunduk lesu


"Memang apa yang terjadi?"


Ketika Sasha hendak menjawab, tiba-tiba ponsel Jo bergetar. Dia membelalak setelah membaca isi chat masuk.


"Kau mencari istrimu ya? Dia ada di rumahku sekarang. Kalau ingin menemuinya, datanglah kesini :)"


Tangan Jo gemetar, amarahnya seketika memuncak. Jika tidak ada Sasha yang duduk di depannya sekarang pasti dia sudah menggebrak meja.


"Kak, kau kenapa?"


Jo berdiri. "Sasha, terima kasih atas waktunya." Jo pergi meninggalkannya dengan amarah meluap-luap.


Dengan cepat dia menuju ke tempat parkir, masuk kedalam mobilnya dan melajukan kendaraannya menuju ke rumah sahabatnya. Namun apakah dia masih pantas disebut sebagai sahabat?


"Dev.. apa kau ingin bermain api?"


Jo bergumam sambil menyetir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah Dev, dia ingin rasanya menghancurkan pintu rumah itu. Namun akal sehatnya masih berjalan, dia tetap menggunakan sopan santunnya menekan bel yang ada disamping pintu namun dengan terus-menerus.


"Dev, itu siapa?" tanya Maria yang sedang berbaring di atas ranjang


"Biar aku lihat. Sebentar ya."


Bel pintu terus berbunyi, Dev yang menyadari kehadiran Jo segera turun dari lantai dua kemudian membuka pintu.


"Wah, ternyata kau benar-benar datang ya?" Dev tersenyum memandang Jo yang menatapnya tajam


"Dimana istriku, b*ngsat!"


Dev terkekeh.


"Maksudmu, pacarku? Dia sedang tidur."


"DEEEVVV!!! teriak Maria dari lantai atas


"Nah, kau dengar? Dia memanggilku. Pacarku pasti kedinginan. IYA!! SEBENTAR SAYANG!!"

__ADS_1


Jo sangat terkejut, dia tak menyangka bahwa istrinya bisa berbuat sejauh ini. Dia terpaku sampai akhirnya Dev tersenyum lalu menutup pintu.


Bersambung


__ADS_2