Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Hiburan


__ADS_3

Agnez duduk disalah satu kursi yang didepannya terdapat meja bundar berisi botol minuman. Kemudian seorang bartender menghampirinya. "Nona ingin minum?"


Agnez mengangguk. "Cocktail." Bartender itupun mengambilkan minuman untuknya. Agnez mulai meneguk minuman itu hingga seseorang muncul dan membuatnya tercengang akan kehadirannya.


"Tak ku sangka, kita bisa bertemu disini."



"Kau?"


Seorang bartender tadi kembali menghampiri dan mengambilkan minuman yang ia pesan.


"Ternyata kau suka minum juga ya." ucap Marco dengan gelas berisi minuman berwarna biru ditangannya. "Kalau mau minum-minum, harusnya kau mengajak teman, jangan datang sendirian." lanjut Marco sebelum meneguk minumannya


"Kau sendiri juga datang sendirian." cibir Agnez


"Kalau aku tidak masalah minum sendirian. Aku kan laki-laki, sedangkan kau perempuan." balas Marco


"Aku sudah pergi terlalu lama, teman-temanku sekarang pasti sudah banyak yang berkeluarga dan punya kesibukan masing-masing. Aku tidak enak jika tiba-tiba menghubungi mereka." ujar Agnez sebelum meneguk minumannya


"Jangan minum terlalu banyak. Nanti kau bisa mabuk." tutur Marco


"Aku tidak peduli. Selama aku disini, aku ingin minum sepuas-puasnya."


"Bukannya kau juga bisa minum alkohol di Jerman?" tanya Marco yang membuat ekspresi Agnez berubah

__ADS_1


Lalu, dering ponsel menginterupsi percakapan mereka. "Gawat." ucap Agnez dengan tegang


"Ada apa?" tanya Marco ikut gugup


"Aku harus pergi dari sini." Agnez beranjak dari tempat itu setelah membayar minumannya, Marco pun menyusul setelah membayar minumannya. "Hei, tunggu!"


Agnez berjalan tergesa-gesa keluar dari dalam bar, setelah memastikan dirinya sudah berada diluar, dia pun menjawab panggilan telefon tersebut.


"Hallo."


"Kau ada dimana?"


"Aku sedang rebahan di kamar."


"Tidak. Aku sedang memutar musik, dan aku sengaja mengencangkan volumenya agar aku tidak merasa kesepian."


"Oh begitu. Aku hanya ingin mengingatkan, berhati-hati disana. Jangan main sama cowok..."


"Iya iya iya. Sudah berapa kali kau mengingatkanku?"


"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja Agnez. Kau tinggal sendirian disana."


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja disini."


Agnez mendengus kesal lalu memutus panggilan telefonnya.

__ADS_1


"Hahhhhhhh!! Menyebalkan." Agnez bergumam kesal, kemudian Marco dari arah belakang berjalan mendekatinya.


"Kelihatannya kau sangat kesal. Ada apa?"


Agnez memutar matanya jengah. "Memang apa urusannya denganmu? Kenapa kau mengikutiku?" tanyanya ketus


"Melihatmu yang pergi tiba-tiba, aku jadi merasa khawatir. Jadi aku menyusulmu. Memangnya tadi telfon dari siapa sih?"


Agnez bergeming tanpa memandang Marco yang menantikan jawabannya.


"Ya sudah kalau kau tidak mau cerita. Kau mau pulang sekarang atau kembali lagi kedalam? Kalau mau kembali, aku akan menemanimu." tawar Marco


"Kenapa kau sok peduli padaku? Kita baru saling kenal kan." ujar Agnez dengan nada meninggi


"Ya, kita memang baru kenal. Tapi apa salahnya kalau kita berteman. Aku tidak tega membiarkanmu sendirian, apalagi sekarang sudah malam. Berbahaya jika kau sampai mabuk didalam. Jadi aku akan menemanimu." tutur Marco bersikukuh


Agnez merasa kesal. Namun karena Marco yang bersikeras, dia pun tidak bisa menolaknya.


"Aku mau langsung pulang. Aku sudah tidak mood untuk minum lagi."


"Oke, mari aku antar."


Mereka pun menuju ke area parkir, Marco membukakan pintu mobilnya untuk Agnez sebelum dia masuk kedalam. Selama dalam perjalanan suasana hening. Tak ada kata yang terucap. Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan apartemen. Agnez turun dari mobil dan berdiri menunggu sampai Marco berlalu. Namun sesaat kemudian dia buru-buru memesan taksi untuk mengejar mobil Marco.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2