
"Dad, ada yang ingin kubicarakan. Penting."
Jo terkejut dengan ucapan putrinya. Belajar darimana dia kata-kata itu. Anak kecil memang suka meniru apa yang mereka ketahui. Mungkin saja Syeina tanpa sengaja pernah mendengar percakapan ayahnya dengan sekretarisnya melalui telefon.
"Apa Syeina?"
"Aku minta adik."
Refleks kedua mata Jo membulat. Permintaan putrinya sungguh diluar dugaan.
"Kenapa tiba-tiba Syeina minta adik?"
"Aku ingin punya adik seperti Mike. Bisa diajak bermain perang-perangan. Beda dengan kakak."
Jo terdiam sembari berpikir.
"Dad?"
"Iya sayang. Lebih baik sekarang cepat tidur ya. Besok kan Syeina sekolah."
Syeina pun mendengarkan nasehat ayahnya. Jo kembali ke kamarnya setelah menidurkan putri bungsunya. Tampak, Maria sudah terbalut selimut dengan posisi memunggungi pintu. Jo perlahan mendekati Maria dan mengguncang pelan tubuhnya.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" tanya Jo yang sudah duduk disamping Maria
"Sayang, aku tahu kamu belum tidur. Kamu kenapa? Sejak aku pulang tadi sore kamu terus mendiamkanku. Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Jo gelisah
Maria yang semula memunggungi suaminya kini mendudukkan dirinya menatap Jo dengan tatapan interogasi.
"Apa tadi sore wanita itu datang lagi?"
__ADS_1
"Apa anak-anak memberitahumu?"
"Ya. Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengannya di masa lalu? Apa benar kalian pernah bertunangan?"
"Tidak. Kami tidak pernah bertunangan, pacaran juga tidak pernah. Aku hanya dua kali mencoba pendekatan dengannya, tapi setelah itu hubungan kami berakhir."
"Sebenarnya apa yang pernah dia lakukan saat kamu tidak sadar?"
"Dia.." Jo berpikir sejenak "Apa ya yang dia lakukan? Aku sendiri juga tidak tahu Maria. Tapi aku pastikan dia tidak sampai melakukan itu."
Maria bergeming.
"Sayang, aku mohon lupakan saja hal itu. Jangan biarkan kebahagiaan kita rusak karena wanita itu."
"Tapi aku kesal dia terus datang ke rumah."
Maria menghembuskan nafas lelah. Sebenarnya bukan hal itu yang membuatnya mendiamkan suaminya.
"Maafkan aku Jo, aku ingin sekali mengatakannya. Tapi aku tidak berani."
Maria kembali berbaring dan memunggungi suaminya. Jo hanya bisa pasrah, dia pun membaringkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya memeluk istrinya dari belakang.
***
Makan Malam
Selama dua hari berturut-turut Maria mendiamkan suaminya. Entah apa yang dia pikirkan. Nampak, Maria tengah menyuapi Rachel di meja makan. Sementara Syeina di suapi oleh pelayan. Sedangkan Jo terdiam menatap Maria yang sudah dua hari ini mendiamkannya, bahkan di meja makan pun mereka tidak berbicara sama sekali.
Ketika larut malam, Maria sudah mengganti minidressnya dengan gaun tidur. Lagi-lagi dia melamun dan seperti orang bingung. Dia melangkah mendekat ke arah laci nakas mengambil sesuatu disana. Lantas ia letakkan kembali setelah sang suami memasuki kamar dan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Jo pada Maria yang tampak gugup
"Tidak kenapa-napa."
Tanpa dugaan Maria, Jo menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menindihnya.
"Jo, apa yang kamu lakukan?" tanya Maria panik
"Selama dua hari ini kamu terus mendiamkanku. Sebenarnya kamu kenapa Maria?"
Maria tak bisa menjawab.
"Katakan kalau aku ada salah. Jangan terus mendiamkanku seperti ini. Aku sangat tersiksa."
Maria masih bergeming, menatap wajah suaminya yang begitu dekat di depan wajahnya.
"Apa kamu curiga kalau aku ada apa-apa dengan Jessica?" tanya Jo dengan mata sayu
"Tidak. Bukan masalah itu."
"Lalu apa?"
"Aku tidak bisa mengatakannya." Maria mengalihkan pandangannya ke arah lain
Rahang Jo mengeras, kesal atas sikap aneh istrinya. Di gigitnya dengan pelan daun telinga Maria, membuat Maria terkejut akan perbuatan suaminya yang tiba-tiba. Jo melanjutkannya dengan menjilat daun telinga Maria membuat Maria terangsang sekaligus panik.
Gawat. Aku belum sempat minum pil.
Bersambung
__ADS_1