
Pagi itu, ketika Marco hendak berpamitan untuk berangkat ke kantor. Terlebih dahulu Marco mengantar Maria ke kampus. Marco duduk didalam mobil sembari menunggu Maria yang masih bersiap-siap.
Setelah cukup lama, akhirnya Maria keluar dan mengunci pintu. Kemudian ia segera masuk ke mobil dan duduk disamping Marco.
"Astaga.. pemandangan apalagi ini?" Marco menatap Maria dari ujung kepala sampai ujung kaki
Marco memperhatikan Maria heran dan bertanya-tanya. Dengan penampilan Maria memakai atasan bermotif kotak-kotak pada bagian lengan panjang yang di gulung dan celana jeans bolong pada bagian lutut, serta rambut panjangnya yang di gelung dimasukkan dalam topi juga masker hitam.
Namun Marco mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya meskipun ia penasaran. Karena gadis itu yang tidak merespon pertanyaannya barusan dan memintanya untuk segera melajukan mobilnya.
***
Setiba di kampus
Maria : "Marco, terima kasih ya sudah mengantarku hari ini." ucap Maria ketika sudah turun dari mobil
Marco : "Iya, tapi kau banyak berhutang penjelasan padaku."
Maria : "Aku janji, suatu saat aku akan memberitahumu."
Marco : "Ok. Aku pegang janjimu."
Setelah itu Marco berlalu. Sebelumnya, Maria mengedarkan pandangannya ke sekeliling kampus sambil membenarkan topinya.
Aku lupa. Sudah berapa kali aku lihat mobil Jo berhenti di sekitar sini. Aku sudah menduganya. Dia pasti akan mencariku. Karena itu aku mengubah penampilanku.
Setelah merenung cukup lama, dia pun melangkahkan kakinya menapaki lorong kampus untuk menuju kelasnya.
***
V Company
Jo menelisik jam tangannya, terlihat sudah jam 4 sore. Dia pun segera beranjak pergi dari kantor. Dengan langkah buru-buru dia menuju area parkir, masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke kampus untuk kembali mencari istrinya.
Maria, aku tidak tahu sampai kapan aku melakukan ini. Perasaanku padamu membuatku seperti orang bodoh. Sekeras apapun aku berusaha, aku tetap tidak bisa membuangmu dari pikiranku. Mungkin aku akan terus berjuang, hingga pada titik dimana aku tidak mampu lagi untuk bertahan.
Selang beberapa saat, mobil Jo sampai di area kampus. Jo memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil, dengan ragu-ragu ia memberanikan diri masuk ke kampus.
"Nona." Jo memanggil salah seorang mahasiswi yang bersimpangan dengannya untuk menanyakan keberadaan Maria.
"Oh, tadi aku melihatnya. Dia masih di kelas." kata mahasiswi itu. Jo merasa lega, akhirnya dia diberitahu lokasi kelas Maria. Dan dengan cepat dia menuju kesana.
***
Didalam kelas..
"Kau ini sebenarnya kenapa sih? Kau jadi aneh tahu. Semuanya sudah pada pulang. Mau sampai kapan kau memeluk meja." celoteh teman Maria yang berdiri di sampingnya
Maria membenamkan wajahnya pada lengannya yang dilipat di atas meja.
"Kau duluan saja. Aku masih ingin disini." gumam Maria
"Ya sudah, aku mau ke toilet dulu."
Sesaat setelah temannya keluar dari kelas, derap langkah terdengar dari luar, melangkah memasuki ruangan dengan pelan.
"Sasha.. katanya ke toilet? Kenapa kembali lagi?" tanya Maria pada seseorang yang kini berdiri di sampingnya yang ia pikir adalah temannya.
Tak mendapat respon, Maria pun mendongak. Alangkah terkejutnya dia, kedua matanya melotot, bibirnya membeku, ketika sorot matanya bertemu dengan mata hazel yang kini menatapnya dengan sayu.
__ADS_1
"J.. Jo?"
"Akhirnya aku menemukanmu, Maria."
Suasana hening sesaat. Maria akhirnya beranjak dari kursi, matanya tak lepas menatap Jo yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Bagaimana kabarmu?"
Maria sangat terkejut. Bagaimana mungkin setelah sekian lama tidak bertemu, pertanyaan itu yang terlontar. Bukankah suaminya selama ini berusaha mencarinya? Dia mengira, kali ini pria itu pasti akan menarik tangannya secara paksa dan membawanya pulang bersamanya.
"Mengapa kamu datang kesini, Jo?"
Maria balik bertanya. Sesaat kemudian bibir Jo tersenyum, meskipun saat ini perasaan dalam hatinya berkecamuk. Dia ingin memeluk istrinya, namun dia berusaha untuk menahan keinginannya.
"Tentu saja untuk mencarimu. Aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak berhasil menemukanmu. Aku juga sering datang kesini. Tapi ternyata kamu mengubah penampilanmu, pantas aku tidak pernah melihatmu."
"Jadi kamu ingin membawaku pulang?"
Dari luar kelas, seseorang mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka. Sasha menajamkan indra pendengarannya untuk mengetahui apa saja yang dua orang itu bicarakan didalam.
"Tolong, pulanglah Maria. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali bersamaku. Tapi setidaknya, pulanglah untuk ayah dan ibu. Mereka sangat khawatir dengan keadaanmu." Jo menatap Maria sendu, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa."
Maria mengambil tasnya berniat untuk pergi, namun dengan sigap Jo mencekal lengannya, menarik Maria dalam pelukannya.
"Aku mohon, pulanglah."
"Jo, lepaskan aku." Maria berusaha menyingkirkan kedua tangan Jo yang memeluknya dengan erat dari belakang
"Aku tahu aku salah. Aku tidak pantas di maafkan. Tapi kumohon pulanglah, aku akan semakin merasa bersalah kalau kamu pergi Maria." Jo menitikkan airmata
"Percuma kamu memohon. Semua sudah terlanjur."
Perlahan Jo melepas pelukannya, Sasha yang menyadari bahwa Maria mengetahuinya berada di balik pintu, dia pun masuk kedalam dan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Maria, dia siapa?"
Jo mengerjapkan mata, dia segera menyeka airmata yang membasahi pipinya.
"Aku juga tidak tahu."
Deg
Sontak Jo melotot ke arah Maria.
"Maaf, anda salah orang. Saya bukan orang yang anda cari."
Setelah menyampaikan hal itu, Maria menarik tangan sahabatnya meninggalkan Jo yang masih berdiri disana.
Maria dan sahabatnya bergegas pergi keluar kampus naik taksi online. Tanpa mereka sadari, mobil Jo membuntuti mereka dari belakang.
***
Malam hari
Saat ini Alvin sedang bersama salah satu sahabatnya, Yogi.
__ADS_1
Mereka tengah menghabiskan waktu bermain billiard bersama. Baru saja Alvin berhasil memasukkan bola.
"Kak, ngomong-ngomong kita sudah lama tidak bertemu Jo." ujar Yogi
"Mungkin dia sibuk." jawab Alvin sambil tetap fokus mengarahkan tongkatnya pada bola.
"Tapi kali ini berbeda kak. Sesibuk-sibuknya dia masa dia sampai tidak ingat kita sama sekali."
Alvin kembali berhasil memasukkan bola kemudian beralih menatap Yogi di depannya.
"Waktu reuni SMA bulan lalu sikap anak itu berubah. Dia jadi pendiam dan terlihat murung." Yogi menghela nafas kasar
Sementara Alvin hanya diam mendengarkan ucapannya.
"Kira-kira kakak tahu tidak kenapa dia jadi begitu?" tanya Yogi, membuat Alvin merasa gugup.
"Mungkin saja dia stres karena pekerjaan." jawab Alvin
"Aku rasa tidak." Yogi berpikir sejenak sambil bertopang dagu
"Sikap Jo berubah, karena dia sedang jatuh cinta." batin Alvin dalam hati
"Kak?"
Alvin pun tersadar dari lamunannya.
"Ngomong-ngomong soal Jo, tiba-tiba aku khawatir dengan anak itu." Alvin bergumam sendiri kemudian berpindah ke tempat lain untuk menelfonnya.
Jo yang saat ini berada di dalam mobil, dia pun mengangkat panggilan dari Alvin yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Hallo?"
"Kau ada dimana?"
"Aku baru saja menemukan Maria. Sekarang aku ada di depan tempat tinggalnya kak."
"Hah! Serius?"
"Aku akan mengajaknya pulang malam ini."
"Tunggu! Sebaiknya jangan dulu."
"Memang kenapa? Apa aku harus diam saja?"
"Jangan gegabah. Kendalikan dirimu. Kalau kau muncul secara tiba-tiba, bagaimana kalau dia kabur lagi."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Tunggu waktu yang tepat. Dekati dia pelan-pelan."
"Ok. Aku ikuti saran kakak."
Pip
Jo memutuskan sambungannya. Sementara di seberang sana Alvin menghela nafas lega. Jo hampir saja melakukan sesuatu yang akan membuat keadaan semakin kacau.
"Kenapa jadi aku yang pusing?"
__ADS_1
Bersambung