
Kenapa semuanya jadi begini. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Maria meratapi nasibnya yang menyedihkan. Dia baru menyadari kesalahannya sekarang. Jalan yang dia pilih ternyata salah besar. Bukan membawanya menuju kebahagiaan, namun kedalam jurang penderitaan. Maria menatap surat pengajuan cerai itu dengan nanar. Disana tercantum namanya, yang tinggal dia tanda tangani.
Sementara Jo, dia sendiri pun juga merasakan sesak setelah menyerahkan surat perceraian itu. Kali ini dia berusaha menguatkan hatinya lebih kuat lagi dari sebelumnya. Entah kapan penderitaannya ini berakhir.
"Saat ini dia pasti sangat senang kan? Dia segera terbebas dariku." Jo bergumam didalam mobil dengan tersenyum sedih
***
Sore Hari
"Apa Jonathan belum pulang?" tanya ibu tiri Jo
"Belum nyonya." jawab seorang pelayan
Wanita paruh baya itu pun duduk di sofa ruang tamu, menunggu kepulangan putra tirinya. Penampilan wanita paruh baya itu sangat elegan, dengan memakai perhiasan dan semua barang yang serba branded. Dia juga aktif dalam kegiatan sosial. Setelah cukup lama menunggu, mobil Ramon pun tiba di halaman. Jo turun dari mobil dan sangat terkejut dengan kehadiran ibu tirinya. Jo masuk kedalam rumah setelah mobil Ramon berlalu.
"Jo, kau sudah pulang." sapa ibu tiri Jo
__ADS_1
Jo yang melihat ibu tirinya segera menunduk sopan kemudian mendudukkan dirinya di hadapan ibu tirinya.
"Ada perlu apa tante kesini?"
"Tante dengar dari ayahmu, kau baru saja mengajukan gugatan cerai kepada istrimu."
Jo terdiam.
"Jo, apa kau sudah pikirkan matang-matang?" tanya ibu tiri Jo khawatir
"Iya. Pernikahan kami tidak ada gunanya di pertahankan. Sedangkan tidak ada cinta di antara kami."
"Ya, tante tahu. Itu sangat berat untukmu. Ayah sangat menyesal telah menjodohkanmu. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Ayah ingin menemuimu dan meminta maaf tapi ayah tidak punya keberanian."
"Jo.." manik mata ibu tirinya mulai berkaca-kaca
"Memang, dalam kehidupan rumah tangga tidak ada yang selalu berjalan mulus. Pasti akan selalu ada masalah, entah itu apa yang akan menguji pasangan suami istri. Dan ujian yang kau hadapi begitu berat Jonathan. Seharusnya di usiamu yang masih 22 tahun, kau masih bisa merasakan kebebasan." tutur ibu tiri Jo penuh simpati
"Ini memang sudah takdirku tante. Mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa mengikuti alur." sahut Jo pasrah
"Tante akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jujur, kau sudah tante anggap seperti anak tante sendiri."
__ADS_1
Ucapan ibu tiri Jo sangat tulus. Karena dia selama ini selalu menanyakan bagaimana perkembangan Jo sejak dia menikah dengan suaminya. Meskipun sikap Jo acuh, namun wanita itu tidak pernah marah akan sikapnya. Dia bisa memahami mengapa sikap Jo sangat dingin.
"Kalau begitu tante pulang. Terima kasih kau sudah bersedia mendengarkan ocehan tante."
Ibu tiri Jo beranjak pergi namun langkahnya terhenti ketika hendak keluar pintu.
"Tunggu."
Dia pun menoleh kembali menghadap Jo yang berdiri lima langkah didepannya.
"Terima kasih. I.. ibu."
Seketika airmata turun membasahi pipi wanita itu. Lalu melangkah lebih dekat ke hadapan Jo.
"Aku minta maaf atas sikapku selama ini." ucap Jo penuh penyesalan
"Terima kasih, terima kasih banyak. Akhirnya kau mau menerima ibu."
Ibu tiri Jo sangat terharu sampai airmata mengalir deras membasahi pipinya. Dia pun memeluk Jo dengan terisak. Wanita itu sudah tidak bisa memberikan keturunan. Mengingat dia pernah menjalani operasi pengangkatan rahim karena memiliki riwayat kanker rahim. Dia sangat bahagia akhirnya Jo bisa menerimanya.
Di sisi lain, Maria sedang terduduk lemas dilantai kamarnya dengan botol obat yang ada ditangannya.
__ADS_1
Bersambung