
Jo dan Maria sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat di tubuh mereka. Maria mengalungkan lengannya di leher sang suami ketika berjalan sambil menggendongnya, kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Aku bisa melakukannya sendiri sayang." tolak Maria ketika Jo hendak mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil
"Ayolah sayang. Biarkan aku memanjakanmu hari ini." Jo tetap mengeringkan rambut Maria
Tak henti-hentinya mereka mengulum senyum setelah mereka mandi bersama.
"Rasanya menyenangkan juga di gendong olehmu. Aku jadi ingin lagi." kata Maria
"Jadi sekarang kamu ketagihan?" tanya Jo
"Iya. Kamu gendong berjam-jam juga tidak apa-apa."
Jo terdiam menatap Maria.
"Kenapa? Bukannya kamu akan menuruti permintaanku?" tanya Maria
"Ya, aku tidak keberatan. Tapi kamu harus bersiap-siap untuk menggendongku, karena setelah itu mungkin aku akan pingsan." Jo tertawa
"Huft dasar." Maria tertawa kecil
"Sekarang kamu pakai bajumu sendiri ya." Jo sudah menyiapkan baju Maria di tempat tidur mereka
Dia juga memakai pakaiannya di depan Maria. Disusul dengan menyisir rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya, terakhir memakai jam tangannya.
"Aku akan menyuruh pelayan mengambilkan sarapan dan juga camilan untukmu. Kamu didalam kamar saja okey." pinta Jo kepada Maria
"Iya, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke depan."
"Iya, tidak apa-apa sayang." Jo mengecup kening Maria dengan lembut sebelum keluar dari kamar dan menutup pintu.
***
"Daddy!!" teriak Syeina dan Rachel menyambut Jo yang menghampiri mereka di ruang tamu
"Ramon, kau sudah datang?"
__ADS_1
"Aku sudah menunggu sekitar satu jam yang lalu. Dan sejak aku datang mereka terus menemaniku." jawab Ramon menatap si kembar
"Ya Tuhan! Sekarang waktunya sarapan. Ayo anak-anak, kita ke ruang makan. Ramon, kau mau ikut bersama kami?"
"Tidak, aku sudah sarapan tadi."
Jo pun makan pagi bersama kedua putrinya di meja makan.
"Aku ingin di suapi mommy." tolak Rachel ketika hendak di suapi oleh pelayan
"Ya sudah, hari ini Daddy yang suapi kalian ya." Jo mulai menyuapi kedua putrinya bergantian
"Dad, mom dimana?" tanya Rachel
"Mom sedang sakit." Jo menjawab sembari menyuapi Rachel
"Mom sakit apa Dad?" tanya Syeina
"Sakit.. hmm.." Jo berusaha mencari alasan
"Kemarin mom sehat, kenapa tiba-tiba mom bisa sakit?" tanya Syeina lagi
"Kenapa Dad tidak panggil dokter?" tanyanya lagi
Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan? Aku tidak pandai berbohong seperti Maria.
Jo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dad?"
"Hmmmm, Dad sendiri juga bingung Syeina. Sekarang habiskan dulu ya sarapannya."
Usai menyuapi kedua putrinya, Jo baru menghabiskan sarapannya. Dia lantas menemui Ramon dan berangkat ke kantor. Diluar rumah, kedua putrinya mengantarnya di temani oleh dua orang pelayan.
"Da da Daddy!!" seru Syeina dan Rachel serempak dengan melambaikan tangan mereka
***
__ADS_1
"Kedua putrimu sangat menggemaskan. Mereka terus mengajakku mengobrol dan aku harus berpikir keras tentang jawaban yang akan ku berikan." ujar Ramon di tengah perjalanan
"Terkadang aku juga bingung. Apalagi putriku yang kecil, dia mudah penasaran dan rasa ingin tahunya sangat tinggi." Jo menyahut dengan melempar pandangannya keluar kaca mobil
"Sepertinya dia sangat berbeda denganmu. Putri pertamamu yang lebih mirip denganmu. Kalem dan tenang." Ramon berpendapat
"Lalu, putri keduaku?" tanya Jo penasaran
"Mungkin mirip ibunya." jawab Ramon yakin
"Oh iya, kemarin tidak ada masalah kan?" tanya Ramon mengalihkan percakapan
"Ada, dan aku hampir saja terjebak." Jo menghela nafas lelah
"Apa maksudmu?" tanya Ramon terkejut
"Kemarin aku bertemu klien di restoran, ternyata minumanku diberi obat perangsang. Setelah itu aku dibawa ke apartemennya."
"Lalu?" tanya Ramon panik
"Hal itu tidak terjadi, karena aku bisa mengendalikan diriku."
"Astaga!! Apa kau datang sendirian? Kenapa kau tidak bersama asisten untuk menemanimu?"
"Aku pikir tidak masalah jika aku datang sendiri. Aku tidak mengira hal seperti itu akan terjadi. Aku bisa saja pulang bersama supirku tapi aku tidak akan tahu apa yang wanita itu rencanakan. Agar aku mengetahui rencananya, aku harus mengikuti permainannya."
"Astaga!!! Jo, kau benar-benar nekad! Bagaimana kalau kau tidak bisa mengendalikan dirimu! Bagaimana kalau saat itu kau terjebak! Aku tidak bisa membayangkan kalau rumah tanggamu sampai hancur!"
Jo tersenyum.
"Untunglah aku bisa pulang ke rumah. Wanita itu adalah gadis yang pernah dijodohkan denganku di masa lalu. Dia terobsesi untuk memilikiku."
"Sepertinya ini memang sudah di rencanakan. Dia mencari kesempatan saat aku tidak ada. Hah.. aku baru cuti satu hari saja kau sudah dapat masalah besar."
"Aku yakin dia tidak akan berhenti sampai disini."
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like & komen ya🙏