Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Marmut


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Jo dan Maria terasa hambar tanpa cinta. Hubungan mereka tidak seperti suami istri pada umumnya. Mereka seperti orang asing atau lebih tepatnya musuh. Terkadang sikap Jo menjengkelkan. Tapi Maria selalu berusaha untuk mengalah dan bersabar. Dia bertahan bukan karena balas budi, tapi semua itu dia lakukan demi kedua orang tuanya. Maria mengambil jurusan D3 jurusan seni musik. Suaranya yang indah membuat suaranya merdu ketika menyanyi. Dia juga menguasai alat musik, bermain piano, gitar, biola, dan harmonika. Dia cukup populer di kampus karena bakatnya.


Hari demi hari ia lewati di rumah suaminya seperti biasa, sama seperti ketika di rumahnya sendiri. Bedanya, di rumah sang suami terdapat piano. Di kala ia jenuh atau tak ada kegiatan, dia akan memainkannya.


Sore itu di hari pertama Jo bekerja. Ketika pulang dia mendapati istrinya sedang bermain piano dan menyanyi.


Meski ku bukan yang pertama


Di hatimu tapi


Cintaku terbaik untukmu


Meski ku bukan bintang dilangit


Tapi cintaku yang terbaik


Jo diam-diam memperhatikan istrinya, dalam hati dia merasa kagum melihat cara bermain piano istrinya yang baik dan suaranya yang indah. Tanpa ia sadari, seulas senyum tersungging di bibirnya. Dia lantas segera berlalu sebelum istrinya menyadari kehadirannya.



Di dalam kamar, Jo melepas dasi dan melempar jasnya ke tempat tidur. Tiba-tiba terdengar ponsel berdering. Suara itu berasal dari ponsel istrinya. Jo dengan sigap mengambil ponsel itu dan dia melotot ketika tahu nama sang penelfon.


"Dev."


Ekspresinya berubah, dia menggenggam ponsel itu semakin kuat. Lalu ia letakkan kembali ke nakas dan membiarkan ponsel itu berdering.

__ADS_1


Ceklek


"Aaaa!!" teriak Maria dari luar pintu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"Hei? Aku kan masih pakai celana."


"Ini pertama kalinya aku lihat roti sobek secara langsung."


"Aku tahu aku ini mengagumkan. Malam ini kamu harus memberi servis terbaik. Pastikan aku bisa tidur nyenyak malam ini."


"Apa maksudmu?"


"Apa kamu tidak tahu tentang malam pertama?"


"Malam ini aku tidak akan melepaskanmu. Kamu akan ku koyak-koyak. Ku cabik-cabik sampai tak tersisa." Jo berbisik lalu menyeringai


Glek


"Jadi siapkan dirimu. Aku mau mandi, siapkan air untukku."


Jo keluar dari kamar, sementara Maria masih berdiri mematung mencerna ucapan suaminya barusan.


***


Jo pergi ke dapur meminum segelas air, setelah itu dia kembali ke kamar.

__ADS_1


"Maria? Dimana dia?"


Jo mendapati istrinya tak ada di kamar. Segera dia memakai baju lalu mencari Maria ke seluruh ruangan tapi nihil. Dia pun bergegas pergi mencari Maria ke sekitar lokasi tempat tinggalnya, dia yakin istrinya belum pergi terlalu jauh.


***


"Hah.. hah.."


Nafas Maria tersengal-sengal, dia berusaha menjauh dari rumah itu dan berlari secepat mungkin. Tanpa ia pedulikan pandangan dari orang-orang di sekitarnya, dia terus berlari. Kemudian dari arah belakang, Jo muncul mengejarnya naik mobil.


"Maria!! Berhenti!!"


Namun gadis itu tetap berlari. Jo menghentikan mobilnya dan bergegas mengejar Maria. Dia pun cukup kewalahan.


"Cewek itu larinya cepat sekali sih."


Maria pernah menjadi juara satu saat mengikuti lomba lari estafet. Dia sangat lihai dalam bidang olahraga.


"Aduh!!"


Tiba-tiba Maria terjatuh karena kakinya tersandung. Jo yang melihatnya segera lari menghampirinya.


"Sudah cukup main kejar-kejarannya gadis nakal. Sekarang ayo kita pulang, marmut lucu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2