Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Bulan Purnama


__ADS_3

Keesokan Harinya


Maria menggeliat dalam tidurnya setelah bias sinar matahari menerangi wajahnya. Dia mengerjap dan ketika membuka matanya nampak sang suami tengah berdiri membuka tirai jendela.


"Kamu sudah bangun? Selamat pagi Maria." Jo tersenyum sembari melangkah mendekat ke tempat tidur, mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Demamnya sudah mereda." Jo bergumam sambil menempelkan punggung tangannya di kening Maria


"Aku akan panggil pelayan untuk menyiapkan air hangat untukmu."


Ketika Jo hendak beranjak, dengan cepat Maria memegang lengannya.


"Jangan pergi."


Jo sedikit tersentak dengan ucapan istrinya barusan, sedangkan Maria jadi salah tingkah.


Aduh, keceplosan. Bagaimana ini? Aku harus buat alasan apa?


"Ada apa Maria?"


"Hmm. Aku cuma ingin bilang, maaf aku sudah merepotkanmu. Kamu jadi bolos kerja karena aku."


Sejenak mereka berpandangan, lalu sedetik kemudian Jo tersenyum simpul.


"Owh, aku kira apa. Tidak masalah, aku adalah suamimu. Jadi sudah tanggung jawabku untuk menjagamu." Jo mengusap kepala Maria sebelum keluar dari kamar


***


Maria sudah rapi dengan balutan mini dress warna kuning cerah. Entah mengapa hari ini dia ingin memakai warna mencolok, seakan sesuai dengan suasana hatinya.


"Maria, kamu mau kemana?" tanya Jo ketika berpapasan dengannya di dekat tangga


"Aku ingin ke ruang makan, rasanya aku bosan di dalam kamar terus."


"Ya sudah, tapi kondimu sudah mendingan kan?"


"Iya, perutku sudah tidak sakit."


"Kalau begitu ayo, aku temani."


Jo merangkul pundak Maria berjalan menuruni tangga sampai di ruang makan.


"Jo, kapan aku boleh masuk kuliah lagi?" tanya Maria sembari melahap sarapannya

__ADS_1


"Kalau keadaanmu sudah benar-benar membaik, akan ku izinkan."


"Iya. Pasti aku akan jadi gendut setelah perutku membesar."


"Biarpun gendut, kamu tetap cantik."


Tak ada nada menggoda dalam diri Jo, tatapan matanya yang lembut, mampu membuat hati Maria berdebar-debar. Kalau di ingat-ingat, ini pertama kalinya dia mendapat pujian dari suaminya.


"Kamu, ada-ada saja." ujar Maria dengan gugup


"Aku bersungguh-sungguh. Di mataku, kamu adalah wanita yang paling cantik Maria."


Deg Deg


"Te terima kasih." akhirnya hanya kata itu yang lolos dari bibirnya


Maria berusaha untuk tetap tenang, di tengah jantungnya yang terus berdetak kencang.


Kumohon berhenti menatapku. Aku malu sekali.


Tanpa dugaan Maria, Jo perlahan mendekatkan wajahnya. Jemarinya menyentuh bibirnya. Refleks Maria segera memejamkan mata.


Dia akan menciumku.


"Kamu kenapa menutup mata? Ada sisa nasi yang menempel di mulutmu."


"Ugh! Memalukan! Aku malu! Bisa-bisanya aku memejamkan mata tadi! Mana mungkin dia mau menciumku! Ugh!" Maria terus bergumam kesal di dalam kamar, tanpa ia sadari kalau suaminya sedang mengintipnya di luar pintu.


***


Malam Hari..


"Hah.. bosan juga diam begini. Biasanya disaat seperti ini aku akan menyanyi di kafe. Tapi sekarang, hah.."


Sudah beberapa kali Maria menghela nafas panjang sambil menyangga dagu di sofa ruang tamu.


Perhatian Maria yang awalnya terus memandang ke arah teras beralih kepada suara yang tertangkap di rungunya. Ternyata suaminya sedang memainkan piano di ruang tengah.


Maria berdiri melihat suaminya dari arah cukup jauh. Dia tidak berani mendekat. Senyuman terukir di wajahnya, entah berapa lama Maria melihat suaminya disana.


Jo, seandainya aku tahu kamu adalah lelaki yang sangat aku kagumi. Aku pasti akan menerimamu sejak awal.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Maria masih menggeliat ke kanan dan ke kiri. Lagi-lagi dia tidak bisa tidur walaupun sudah berusaha memejamkan mata berkali-kali. Dia pun duduk dari tidurnya, dan terkejut saat tidak mendapati suaminya yang tidur di sofa.


"Jo, dimana?" Maria beranjak dari ranjangnya, netranya mengerjap beberapa kali menangkap siluet suaminya yang tengah berdiri di balkon. Dia pun keluar menyusul suaminya disana.


"Jo?"


Yang di panggil pun menoleh ke arah Maria yang kemudian ikut berdiri di sampingnya.


"Kamu sedang apa disini? kenapa tidak tidur?"


"Aku sedang memandang bulan purnama."


Maria pun mengikuti sorot mata suaminya ke arah bulan purnama.


"Kalau aku tidak bisa tidur, terkadang aku menghabiskan waktu berdiri disini. Sambil melihat pemandangan. Melihat bulan dan bintang-bintang. Seolah-olah mereka menjadi temanku disaat aku sendirian."


"Apa kamu merasa kesepian?" tanya Maria menatap sendu ke arah Jo


"Iya, terkadang." Jo menjawab dengan menunduk lalu kembali tersenyum ke arah Maria


"Maria, mau dengar aku memainkan biola?"


Sontak pertanyaan itu membuat Maria membelalak gembira.


"Iya, aku mau."


"Sebentar ya." Jo berjalan masuk ke dalam kamar lalu ke ruang musik untuk mengambil biolanya


Setelah itu dia kembali menuju balkon dan berdiri di samping istrinya.


"Aku akan memainkan sebuah lagu spesial malam ini. Aku akan mempersembahkan yang terbaik."


Jo mulai menggesek biolanya dan memainkan nada-nada yang menyentuh, suaranya mengalun memecahkan kesunyian malam. Maria dengan antusias sekaligus takjub melihat permainan biola suaminya didepan matanya secara langsung. Selama ini dia hanya memperhatikan dari kejauhan tanpa melihat wajah siapa yang memainkan alat musik itu. Akhirnya setelah Jo menyelesaikan permainannya, dia kembali menatap istrinya yang masih tersenyum memandangnya.


"Bagaimana menurutmu Maria?"


"Kamu sangat hebat, nadanya begitu indah. Aku sangat suka."


"Apa kamu tidak ingin tahu apa judul lagu ciptaanku tadi?"


"Memang apa judulnya?"


"Judul lagu ciptaanku adalah, Sweet Night. Wahai pengagum rahasiaku."

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like & komen ya😍


__ADS_2