Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Perhatian


__ADS_3

Jo akhirnya berhasil menangkap Maria, lalu menarik tangannya kasar membawanya masuk ke mobil.


Sesampai dirumah, mereka langsung ke kamar. Maria terlebih dahulu membersihkan diri, kemudian duduk di tepi ranjang setelah rapi. Dari ruang ganti, Jo berjalan mendekat ke tepi ranjang lalu mendudukkan dirinya, dia lantas meminta Maria untuk duduk di pangkuannya. Secara refleks, tangannya mengusap rambut panjang istrinya sembari mencium aroma wangi dari tubuh istrinya.


"Jangan pergi lagi dariku."


Maria tetap pada posisinya, dia tidak memandang suaminya yang berbicara.


"Kamu adalah bantal tidurku dan hanya itu alasanku perhatian padamu. Jangan berharap lebih."


Syukurlah, dia tidak menganggapku sebagai istri. Jadi aku punya peluang untuk pergi darinya dan kembali bersama Dev.


Tiba-tiba Jo semakin mengeratkan pelukannya. Pandangan matanya kali ini sangat dalam dan sendu.


"Aku suka wangi tubuhmu. Aroma lavender membuatku nyaman." dia bergumam sembari mencium rambut istrinya


Maria hanya pasrah menerima perlakuan suaminya, toh dia memang berhak melakukannya. Lagipula hanya sekedar memeluk tidak lebih, begitu pikirnya.


"Malam ini kamu harus menemaniku. Aku tidak akan membiarkanmu kabur."


***


Malam harinya


Akhirnya saat itu pun datang. Maria merasa gelisah sambil mondar mandir didalam kamar.


Ceklek


Dari pintu yang terbuka, Jo masuk ke kamar. Mereka sudah memakai sepasang piyama berwarna merah muda. Jo menarik tangan Maria dan mendorong tubuhnya ke ranjang. Maria merasa seperti seekor marmut kecil di ujung tanduk. Jo perlahan naik ke atas ranjang. Tatapannya dingin seperti seekor singa yang ingin memangsa seekor marmut. Tubuh Maria menjadi kaku tak bergerak.


"Marmut lucu!" Jo mendekat, Maria berusaha bergerak ke samping untuk menghindarinya.


"Aaaa!!" teriak Maria ketakutan. Jo sudah menindih tubuhnya yang terlentang.


"Beraninya kamu kabur!! Dasar tidak tahu balas budi!!"


"Ma maafkan aku."


"Maaf? Kata maaf tidak cukup untukku!"


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Kamu harus membelaiku sampai aku tertidur."


"Hah!"


"Kamu mau melawan?"


"Ti tidak."


Jo membaringkan tubuhnya disamping Maria. Dia menjepit kaki Maria dan memeluknya dengan erat. Maria mulai melakukan tugasnya, membelai lembut surai suaminya sampai terlelap.


Astaga! Aku tidur bersama laki-laki. Apalagi tidur dengan cowok menyebalkan ini. Ugh!


***


Malam semakin larut, mereka pun tertidur pulas. Pada tengah malam Maria terbangun karena mendengar ponselnya berdering. Saat membuka mata, jantungnya serasa ingin melompat keluar. Wajahnya sangat dekat dengan wajah suaminya. Jo masih memeluk tubuhnya dengan erat. Kakinya bahkan masih terjepit di kaki suaminya. Maria menggeser kakinya dengan pelan. Lalu melepas pelukan suaminya dengan hati-hati. Dia bangun perlahan untuk mengambil ponselnya di atas nakas.


Dev💕


Maria perlahan beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar dari kamar. Tanpa ia sadari Jo membuka mata, kemudian mengamatinya yang sedang videocall di luar kamar dari balik pintu yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Maaf, aku menelfonmu malam-malam."


"Tidak apa-apa Dev."


"Kamu ada dimana Maria?"


"Aku diluar kamar."


"Kenapa tidak di kamar saja?"


"Didalam kamar sinyalnya jelek."


"Owh begitu. Sebentar lagi aku pulang."


Senyum Maria seketika lenyap.


"Maria, kenapa kamu diam saja?"


"Hmm, aku bahagia sekali Dev. Akhirnya kita bisa bertemu kembali."


"Aku sudah tidak sabar. Aku ingin cepat-cepat pulang. Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu."


Dada Jo terasa sesak mendengar percakapan istrinya bersama kekasihnya yang saling melepas rindu. Dia kembali menutup pintu dan pura-pura tertidur pulas sebelum istrinya kembali berbaring disampingnya dan memeluknya.


***


Keesokan hari


Jam menunjukkan pukul lima lebih seperempat pagi.


"Ngghhh.." Jo perlahan terbangun dan membuka matanya pelan, dia agak tersentak melihat seorang gadis yang tertidur nyenyak di sampingnya.


Jo menyibak rambut istrinya dan menatapnya lekat.


Kenapa rasanya aku senang setiap melihatnya


Jo mengusap wajah istrinya kemudian jemarinya turun ke bibir. Tanpa sadar, dia mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menempel pada bibir istrinya. Beberapa detik kemudian dia menarik bibirnya lalu beranjak ke kamar mandi.


"Ngghhh.." Maria terbangun, dia segera duduk sambil mengerjapkan mata.


"Tadi sepertinya ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirku." gumam Maria sambil menyentuh bibirnya


Maria merenung tapi tak lama, dia pun segera beranjak dari tempat tidur. Maria pergi ke kamar mandi lain karena masih ada suaminya yang berendam di dalam kamar mandi.


Baru saja apa yang sudah ku lakukan? Aku.. mencium Maria?


Jo bergumam dalam hati sambil menyentuh bibirnya.


***


Maria sudah rapi dengan dress warna merah maroon panjang selutut. Jo turun dari lantai dua menyusulnya ke meja makan. Dalam hati dia terpesona memandang kecantikan istrinya. Dia pun segera mengalihkan pandangannya dan duduk di samping istrinya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jo pada Maria yang mengambilkan sarapan untuknya


"Aku melakukan kewajibanku sebagai istrimu."


"Aish, menggelikan sekali."


"Ya sudah, kalau tidak mau biar untukku saja."

__ADS_1


Jo segera merebut sarapannya dari tangan Maria.


"Hei, apa-apaan?"


"Ini kan punyaku."


Maria hanya mendengus sebal atas kelakuan suaminya. Dia lalu mengambil sarapan untuk dirinya sendiri.


***


Jam 07.00


Mobil Ramon sampai di halaman rumah Jo.


"Selamat pagi nona." sapa Ramon menunduk hormat


"Pagi juga." balas Maria juga menunduk


Entah mengapa hari ini perasaan Jo tidak tenang. Tiba-tiba ia merasa resah dan itu sangat mengganggu pikirannya. Dia menghentikan langkahnya kembali menoleh memandang istrinya sebelum masuk ke mobil. Ramon yang menyadari hal itu, dia bertanya ketika dalam perjalanan.


"Jo, aku lihat sejak kita berangkat kau tampak gelisah. Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"


"Entahlah. Perasaanku tidak tenang. Aku merasa seperti akan ada sesuatu yang terjadi."


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lebih baik kau fokus untuk meeting hari ini. Jangan sampai konsentrasimu terganggu."


"Iya, kau benar."


***


Beberapa hari kemudian


Pada sore hari, Maria bergegas pulang dari kampus. Dia berdiri di sekitar kampus untuk menunggu taksi.


"MARIA!!!"


Tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari kejauhan yang membuatnya terkejut, Maria segera menoleh ke arah suara itu.


Tak


Ponselnya terlepas dari genggamannya. Mata Maria hampir tak berkedip mendapati seseorang yang kini berjalan cepat ke hadapannya.


"Dev."


"Maria." Dev memeluknya sangat erat dengan mata berkaca-kaca "Maria, aku sangat merindukanmu."


"Dev, bukannya kamu bilang kamu akan pulang beberapa hari lagi?"


"Jadwal penerbangannya di percepat, karena aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu."


Bagaimana ini, aku tidak tahu harus bahagia atau tidak. Di satu sisi aku sudah punya suami. Apa aku harus katakan semuanya, tapi bagaimana jika Dev membenciku. Aku takut dia akan pergi meninggalkanku.


"Maria." Dev akhirnya melepas pelukannya


"Hei, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?"


"Aku.. aku bahagia akhirnya kita bisa bertemu lagi."


"Aku juga sangat bahagia. Rindu ini sudah menyesakkan dadaku selama empat tahun. Tapi, aku tidak pernah berpikir untuk mencari penggantimu, Maria."


"Dev." mendengar ucapan dari kekasihnya membuat Maria semakin merasa bersalah.

__ADS_1


Aku ini sangat memalukan. Dulu aku yang memintanya untuk berjanji, tidak akan mencari perempuan lain selama jauh dariku. Tapi kenyataannya, justru aku yang menghianatinya. Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


Bersambung


__ADS_2