
"Dev, lagi-lagi kamu memelukku di tempat umum."
"Biarkan saja, aku tidak peduli. Kita jalan-jalan yuk."
Dev menarik tangan Maria namun Maria tak melangkahkan kakinya.
"Maria, sebenarnya kamu kenapa?"
"Tidak. Tidak apa-apa."
"Kalau begitu ayo kita pergi."
"Kamu mau mengajakku kemana?"
"Ke tempat yang biasa kita datangi dulu."
Dev menggandeng tangan Maria dan memboncengnya naik motor.
"Tidak tahu kenapa aku ingin mengajakmu jalan-jalan sepuasnya. Aku ingin menghabiskan waktu yang lama denganmu. Padahal kan kita masih punya banyak waktu. Apa mungkin karena aku akan segera bekerja?"
Dev selama di perjalanan terus tersenyum. Sedangkan Maria terdiam dalam lamunannya. Setelah cukup lama dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju, di sebuah cafe. Dev menggandeng tangan Maria dan mengajaknya masuk kesana.
"Maria, kamu ingat? dulu kita sering ketemuan disini sepulang sekolah."
"Tentu saja, mana mungkin aku lupa."
"Karena cafe ini bukanya sore, jadi kita punya kesempatan untuk berduaan. Saat itu adalah masa-masa yang indah. Rasanya seru kalau kita ketemuan sembunyi-sembunyi."
Dev tertawa kecil. Mendengar ucapan darinya membuat Maria terkejut. Saat ini pun dia merasa hal itu terjadi sampai sekarang. Karena statusnya sekarang sudah bersuami. Lamunan Maria pecah setelah pelayan mengantar pesanan ke meja mereka.
"Maria, selama aku di Inggris apa yang kamu lakukan?"
"Hmm, aku.. aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Tapi dua tahun lalu aku bekerja part time delivery."
"Kerja part time? Kenapa kamu bekerja?"
"Saat itu ayah di phk dari perusahaannya. Tapi tak lama ayah memulai usaha kecil-kecilan, sekarang ayah sudah punya restoran."
"Syukurlah. Maafkan aku Maria, disaat kamu terpuruk, justru aku tidak ada di sampingmu."
"Tidak apa-apa Dev. Lagipula sekarang kondisi kami sudah lebih baik."
Dev tersenyum.
"Maria, aku punya sesuatu untukmu."
Maria mengernyit, dia bertanya-tanya hadiah apa yang akan diberikan oleh Dev padanya.
"Sekarang pejamkan matamu."
Maria pun menurut, Dev menarik pergelangan tangan kanannya.
"Sekarang kamu boleh membuka mata."
Maria perlahan membuka matanya, dia terkejut melihat sebuah gelang emas berhiaskan permata kecil-kecil membentuk inisial huruf D di tengahnya.
"Dev, ini.."
"Itu hadiah untukmu. Dan aku sengaja memberi inisial namaku agar kamu selalu mengingatku."
__ADS_1
Maria hampir tak kuasa menahan air mata, dia ingin menangis dan mengatakan semuanya. Tapi dia tidak tega melihat kekasihnya yang begitu bahagia saat ini.
"Suatu saat aku akan memberikan hadiah yang lebih indah dari ini."
Tenggorokan Maria tercekat, dia berusaha membendung air mata agar tak jatuh ke pipinya.
Dev, kamu sangat baik. Kenapa laki-laki sebaik kamu harus jadi pacarku. Jika tahu begini, dulu aku tidak akan membalas perasaanmu.
***
"Maria, tidak terasa sekarang sudah jam 5 sore. Padahal rasanya kita baru sampai disini."
"Ya Tuhan, aku harus segera pulang."
"Biar aku antar."
"Tidak usah Dev, aku bisa pulang sendiri. Aku merasa canggung, kamu kan baru pulang. Nanti aku harus bilang apa ke ibu?"
Dev merasa heran dengan sikap Maria, alasannya terasa aneh baginya.
"Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah."
"Iya, aku duluan ya Dev. Terima kasih untuk hari ini"
Maria meninggalkan Dev yang masih membayar pesanan mereka. Maria pulang naik taksi. Sesampai di rumah dia terkejut melihat sang suami yang menyambut kepulangannya di ruang tamu. Seakan dia memang menunggu kepulangannya.
"Kamu darimana saja?" tanya Jo sambil bersedekap
"Aku dari.. rumah teman." jawab Maria gugup
"Kamu pulang sore sekali, sudah hampir jam setengah enam." tanya Jo curiga
"Aku mau mandi, aku permisi ke atas."
Tanpa menghiraukan Jo yang masih berdiri menanti jawabannya, Maria berjalan menapaki anak tangga memasuki kamarnya, dia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur membayangkan hari-hari yang telah dia lewati bersama kekasihnya hari ini dan di masa lalu.
***
"Hari ini sikap Maria sangat aneh. Dia terlihat murung sejak pulang tadi sore. Kira-kira apa yang dia pikirkan?" batin Jo dalam hati saat makan malam bersama istrinya.
"Hei, makanan itu untuk di makan, bukan di sisih-sisihkan begitu. Kamu tidak tahu ya, aku sudah lelah bekerja tapi kamu malah menyia-nyiakan makananmu. Cepat habiskan."
"Maafkan aku."
"Sebenarnya, kamu kenapa?" tanya Jo khawatir
"Aku, tidak apa-apa." jawab Maria sembari makan
Jo terbelalak saat melihat sesuatu di pergelangan tangan istrinya.
"Maria, kamu dapat darimana gelang itu?"
Maria segera memegang gelangnya dengan gugup.
"I ini, aku membeli gelang ini sudah lama. Aku baru memakainya sekarang."
D
"Apa kamu masih memikirkan dia?"
__ADS_1
Deg
"Aku tahu kamu pernah pacaran dengannya saat masih SMA. Tapi aku tidak tahu apa kalian masih berhubungan sampai sekarang." ujar Jo dingin
"Aku ingin beritahu satu hal. Meskipun di antara kita tidak ada cinta, dan kita tidak saling menyukai satu sama lain, kamu tetap tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Karena statusmu sudah menikah."
Jantung Maria berdetak kencang, dia merasa dirinya seakan berselingkuh.
"Iya, kamu jangan khawatir. Aku tidak berhubungan dengan laki-laki lain."
"Bagus. Kamu hanya milikku, dan aku tidak mau membagi milikku dengan siapapun. Termasuk, Dev."
Deg
"Dan juga, nanti malam jangan pakai gelangmu selama kamu memelukku. Aku tidak suka melihatnya."
"Ba baik."
Setelah menyampaikan hal itu, Jo beranjak dari kursi meninggalkan istrinya sendirian di meja makan. Maria langsung menghela nafas panjang setelah suaminya pergi.
***
Malam harinya..
Maria memeluk Jo dengan erat, dia menatap wajah suaminya lekat yang tengah terlelap.
Sampai kapan aku hidup dengan laki-laki ini. Aku ingin bersama Dev, cintaku, belahan jiwaku. Apa aku harus menggugat cerai? Tapi, bagaimana perasaan ibu nanti jika aku melakukannya. Kalau begitu, biarlah semuanya terjadi apa adanya. Dev, maaf. Kali ini aku egois, aku tidak rela harus melepaskanmu.
***
Keesokan hari
Jo dan Maria kembali seperti orang asing setelah bangun dari tempat tidur. Mereka seperti pasangan suami istri normal hanya ketika mereka tidur bersama dan saling memeluk satu sama lain. Hari ini, Maria akan kembali bertemu dengan kekasihnya secara sembunyi-sembunyi.
Maria pulang kampus pada jam empat sore, Dev sudah menunggunya di depan kampus dan mengajaknya ke taman. Dev sengaja ingin menghabiskan waktu bersamanya sebelum dia sibuk dengan pekerjaannya.
"Maria."
"Hmm."
"Aku ada acara reuni nanti malam, aku ingin mengajakmu kesana."
"Reuni?"
"Iya, reuni SMA."
Maria diam sesaat. Dia berpikir tidak masalah jika dia ikut. Toh semuanya sudah tahu kalau mereka menjalin kasih. Tapi ada satu hal yang dia lupakan karena saking gembiranya.
"Iya, aku mau."
Dev tersenyum senang mendengar jawaban darinya. Akhirnya mereka ketemuan di sekitar rumah Maria, dengan cepat Maria pergi kesana agar tidak ketahuan oleh kedua orang tuanya.
Mobil Dev sampai di depan sebuah restoran mewah. Disana sudah banyak yang datang, teman sekelas Dev meskipun tidak semuanya. Tanpa Maria sangka, reuni ini juga mengundang teman beda kelas. Ternyata suaminya juga hadir di acara itu.
Mereka saling melempar pandangan, Maria seolah terciduk sedang berselingkuh dengan kekasihnya. Jo lebih terkejut lagi setelah melihat kedatangan Dev, dia baru tahu jika Dev sudah pulang dari Inggris.
Malam itu dipenuhi dengan canda tawa, di selingi dengan obrolan santai. Banyak dari mereka yang datang bersama pasangan mereka. Tanpa mereka semua tahu, Jo satu-satunya yang sudah menikah. Dan sekarang istrinya sedang berdua dengan kekasihnya di taman samping restoran. Lampu-lampu yang temaram, membuat keduanya lebih leluasa untuk bermesraan.
Saat ini yang ada dalam benak Maria hanya kekasihnya, dia lupa jika suaminya juga berada di tengah-tengah mereka. Maria duduk di samping Dev, bibir mereka berpagutan, bercumbu dengan penuh cinta. Maria memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut dalam dekapan kekasihnya. Sementara sepasang mata mengamati mereka dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Bersambung