Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Gangguan


__ADS_3

Jo langsung masuk kedalam rumah setelah melihat putrinya Syeina bermain bersama Marco di taman rumahnya.


"Kamu sudah pulang sayang." sapa Maria di depan pintu


Jo membalas dengan senyum kecut, Maria pun menyadari kenapa suaminya seperti ini.


"Syeina sudah.."


Tanpa mendengarkan ucapan Maria, Jo tetap melangkah ke lantai dua. Maria lantas menghela nafas kasar atas sikap suaminya yang terkadang kekanak-kanakan.


***


"Seru sekali om Marco."


"Lain kali kita main lagi ya Syeina."


Syeina dan Marco memasuki ruang tamu setelah lelah bermain. Jo yang baru selesai mandi kini berjalan menuruni tangga menghampiri mereka di ruang tamu.


"Hallo brother..." Marco menghampiri Jo lalu merangkulnya, Marco begitu gembira sedangkan Jo tetap dengan muka kecutnya.


"Putrimu Syeina sangat energik. Aku beri saran, ikutkan dia bela diri kalau dia sudah besar. Dia pasti akan jadi anak yang hebat."


Jo terdiam menatap Marco kesal.


"Hei, kau kenapa? kenapa diam saja dari tadi? apa aku salah bicara?"


Jo kemudian melirik ke arah Syeina yang saat ini berdiri tidak jauh dari Marco.


"Ya sudahlah. Aku pulang saja. Sepertinya kondisi hatimu sedang buruk. Aku sarankan, jangan marah-marah terus nanti kau cepat ubanan." ucap Marco kemudian beralih kepada Syeina


"Syeina, om pulang dulu ya."


"Hati-hati om."


"Iya." Marco mengusap lembut kepala Syeina lantas keluar dari rumah, ketika sampai di luar pintu Maria menyusulnya.


"Maaf atas sikap suamiku tadi. Dia sebenarnya sedang cemburu padamu."

__ADS_1


"Apa? cemburu?"


Maria akhirnya menceritakan semuanya, Marco pun tak bisa menahan tawa.


"Kalian benar-benar ya, sudah tahu anak kalian sudah besar tapi kalian melakukannya di sembarang tempat, dasar."


Maria hanya terdiam dengan sedikit malu-malu.


"Ya sudah, aku pulang. Kau jangan minggat lagi."


"Apa sih. Kenapa juga aku harus minggat."


Marco tersenyum kemudian berlalu, sementara di dalam rumah...


"Hiks.. Syeina jahat. Syeina sudah tidak sayang Daddy." Jo duduk di sofa sambil berpura-pura menangis dengan menutup mukanya


"Dad, aku minta maaf. Jangan nangis lagi." Syeina berusaha menenangkan Jo dengan memegang tangannya


"Huhu..."


Maria yang melihat kekonyolan suaminya hanya tersenyum, sementara Syeina terlihat bingung dan menyesal telah membuat ayahnya menangis.


Jo pun segera menghentikan sandiwaranya lalu memeluk putrinya kedalam pangkuannya.


"Syeina sudah tidak takut lagi kan pada Daddy?"


"Iya, Mommy sudah cerita kalau Daddy cuma sakit gigi."


Sakit gigi?


"Nanti malam Daddy ajak Syeina jalan-jalan bersama kakak juga."


"Jalan-jalan?"


"He.em."


"Hore!!!"

__ADS_1


Syeina langsung kembali ceria dan bersemangat. Pada malam harinya, Jo mengajak Maria beserta kedua putri mereka jalan-jalan ke Mall. Syeina dan Rachel pun menghabiskan waktu bersenang-senang disana, bermain dengan riang di wahana bermain anak-anak.


"Rasanya menyenangkan sekali, melihat mereka bergembira seperti ini. Senyuman mereka menjadi obat rasa lelahku." Jo berujar dengan menatap kedua putrinya yang tengah asyik bermain


"Aku jadi ingat atas kebodohanku di masa lalu. Aku hampir saja..." sebelum Maria melanjutkan, Jo menggenggam tangannya dengan erat.


"Jangan ucapkan kalimat itu. Semua sudah berlalu Maria. Anak-anak kita sudah tumbuh besar. Kamu jangan merutuki dirimu lagi." tutur Jo dengan tersenyum sayu


"Iya." Maria tersenyum seiring dengan airmata yang turun di pipinya


Sepulang dari Mall, mereka mampir ke rumah keluarga Maria. Setelah mereka menghabiskan waktu cukup lama disana, mereka pun bergegas pulang. Rachel juga sudah ketiduran karena kelelahan bermain di Mall tadi.


Sesampai dirumah, Jo menggendong Rachel kedalam kamar. Dia membaringkan putrinya dan menyelimutinya. Tak lupa mencium kening putrinya sebelum ke kamarnya.


"Sayang, Syeina sudah tidur kan?" tanya Jo


"Sudah." jawab Maria


Jo tersenyum senang, merasa malam ini adalah malam yang tepat untuk menuntaskan hasratnya, dia mulai menindih Maria, mencium bibir, dan...


Tok Tok Tok


Kegiatan mereka pun terpaksa berhenti setelah ada putri mereka yang mengetuk pintu.


"Syeina?"


"Dad, apa aku boleh tidur bersama Daddy dan Mommy malam ini?." pinta Syeina sambil mendongak ke arah Jo yang berdiri di hadapannya. Dengan berat hati Jo pun mengiyakan.


"Tentu saja boleh sayang, ayo masuk."


Syeina pun tidur di tengah-tengah mereka dan terbalut dalam satu selimut.


"Selamat tidur Daddy, Selamat tidur Mommy." Syeina mencium pipi kiri Jo dan pipi kanan Maria


"Selamat tidur juga Syeina." kata Jo dan Maria bersamaan


Astaga.. padahal sudah terlanjur berdiri T_T

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan like & komen ya😄


__ADS_2