
Jonathan
Seorang anak laki-laki yang baru menginjak usia 13 tahun dalam perjalanan pulang bersama sang ibu. Senyuman riang tampak di wajah anak itu, begitupula sang ibu yang sedari tadi terus tersenyum, hari ini dia menepati janjinya untuk menjemput sang putra pulang bersamanya tepat di hari kelulusan sekolah dasar. Bukan maksud anak laki-laki itu manja, namun karena sang ibu jarang meluangkan waktu bersamanya, dia ingin sesekali bisa menghabiskan waktu bersama sang ibu walaupun hanya sebentar.
Emery adalah seorang desainer, tuntutan profesi membuat wanita itu menjadi sangat sibuk, akhirnya sang putra menjadi kurang perhatian. Didalam rumah mewah, sang putra menghabiskan waktu di rumah besar itu dengan di bekali cukup uang dan peralatan gadget agar dia terhibur dan tidak merasa kesepian. Kedua orang tuanya jarang bisa menghabiskan waktu bersamanya karena kesibukan masing-masing. Biasanya anak itu juga sering keluar rumah dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya, seringkali teman-temannya juga main ke rumahnya.
Namun hari ini, anak laki-laki itu ingin menghabiskan waktu bersama sang ibu. Mereka duduk di kursi belakang. Selama dalam perjalanan, mereka terus mengobrol, sesekali anak itu bersenda gurau membuat sang ibu tak bisa menahan tawa karena candaan putranya yang konyol. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, sebuah truk dari arah depan kehilangan kendali, sang sopir truk lepas setir karena mabuk, akhirnya truk itu menabrak mobil yang di tumpangi oleh ibu dan anak tersebut.
Teriakan keluar dari mulut sang ibu, sesaat kemudian semua menjadi gelap. Semua orang yang melihat kecelakaan itu langsung berlari ke tempat kejadian, berusaha menyelamatkan semua orang yang ada didalam mobil.
Sirine ambulance berbunyi, sang ibu dan anak tersebut dilarikan ke rumah sakit. Sang anak berhasil di selamatkan, namun terluka pada bagian dahi sehingga perlu di perban. Sementara sang ibu dalam keadaan bersimbah darah. Dokter keluar dari ruang icu. Menepuk bahu pria di hadapannya yang sudah lama menunggu di luar ruangan.
"Maaf, saya sudah berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain." kata dokter tersebut
Pria itu terdiam, airmatapun mengalir dari sudut matanya. Memasuki ruang icu, menatap lekat wajah pucat sang istri tercinta, dan menangis sejadi-jadinya. Kemudian mencium keningnya sebelum kain putih menutup tubuh istrinya.
***
"Ayah, ibu dimana?"
__ADS_1
"...."
"Ayah, kenapa ayah diam saja?"
"Jo, kuatkan hatimu. Ibumu, sudah tenang disana."
"Ayah bicara apa sih?"
"Ibumu, dia.. tidak bisa diselamatkan." sang ayah berujar lirih, berusaha menjelaskan dengan lembut agar putranya tidak syok.
"Ayah, aku tanya, ibu dimana? Kenapa ayah bicara tidak jelas sih?"
Sang ayah pun memeluk putranya yang mulai menangis.
"Ayah minta maaf, ayah tidak bisa berbuat apa-apa."
***
Dengan nafas tersengal-sengal, Jo bangun dari tidurnya, wajahnya bercucuran keringat dingin. Mengambil air yang ada di nakas, meneguknya sampai habis. Lalu kembali meletakkannya. Jo mengusap kepalanya frustasi, sambil bersandar di kepala ranjang. Kejadian di masa lalu yang mengerikan itu masih terbayang dalam ingatannya, dan menyebabkannya menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Setelah mengalami peristiwa itu, Jo sering mengalami gangguan kecemasan. Membuatnya harus menjalani psikoterapi, bahkan dokter sudah memberikan antidepresan selama beberapa bulan, hingga hampir satu tahun namun usaha tersebut sia-sia.
"Sampai kapan aku seperti ini. Aku hanya ingin hidup." Jo menghela nafas lelah dengan mata terpejam, dia sudah bosan terus mengkonsumsi obat penenang. Ditambah, memikirkan rumah tangganya yang hancur karena sang istri pergi meninggalkannya.
***
__ADS_1
Di tempat lain
Dev mengantar Maria pulang. Mereka turun bersama dari mobil. Maria membuka pintu kemudian menyalakan lampu, Dev terkejut mendapati kekasihnya yang tinggal di kontrakan sederhana.
"Silahkan masuk."
Maria mempersilahkan Dev duduk di karpet, mereka duduk berhadapan di sebuah meja kecil di depan mereka.
"Beginilah kondisinya, tidak ada meja dan kursi."
"Tidak apa-apa, aku salut kamu bisa hidup mandiri." Dev tersenyum
"Dev, apa kamu yakin tetap ingin bersamaku?"
Dev menatap Maria dalam, kemudian meraih tangan kanan Maria dan menggenggamnya dengan lembut.
"Sampai kamu tanya seribu kali pun jawabanku tetap sama, aku ingin hidup denganmu."
Mata Maria berkaca-kaca mendengar ucapan tulus kekasihnya, kedua tangan Dev bertumpu pada meja, mencondongkan tubuhnya kepada Maria, mengecup bibir kekasihnya dengan lembut, mereka saling memejamkan mata, menyalurkan kerinduan yang sudah lama menyesakkan dada. Meja kecil menjadi pembatas di antara mereka untuk saling memeluk. Namun tidak mengurungkan niat Maria untuk melingkarkan lengannya pada leher kekasihnya.
Suara decapan lidah terdengar, saling mlumat dan menyesap. Keduanya kembali merasakan kasmaran di mabuk kepayang. Sesaat kemudian, Dev melepas pagutannya, mengusap bibir sang kekasih yang cukup basah karena permainannya. Menatap manik madu itu sendu, sebelum kembali mengecup bibirnya sekilas.
Bersambung
__ADS_1