Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Tekad


__ADS_3

"Bagaimana bubur buatan ibu?" tanya ibu Maria pada Jo setelah menyuapi bubur untuknya


"Enak sekali ibu. Ini pertama kalinya aku makan masakan seorang ibu." Jo tersenyum


"Ibu tidak keberatan memasak untukmu setiap hari."


"Tidak usah ibu, aku malah merepotkan ibu."


Ibu Maria hanya membalas dengan senyum tipis lalu kembali menyuapi Jo.


"Ibu, apa aku boleh menginap disini selama beberapa hari lagi?"


"Nak, kau boleh menginap di rumah ini kapanpun kau mau. Kau tidak perlu merasa sungkan. Anggap saja seperti rumahmu sendiri."


Mendengar jawaban dari sang ibu mertua membuat Jo tersenyum bahagia. Sementara di lain tempat, Maria sedang duduk di ruang tamu bersama Dev tengah menyantap sarapan mereka.


"Bagaimana? Enak tidak nasi gorengnya?" tanya Dev pada Maria, dia tahu salah satu menu favorit Maria, nasi goreng seafood yang ia pesan dari delivery.


"Enak sekali Dev, terima kasih." jawab Maria sembari makan


Tiba-tiba kening Dev berkerut, memandang hal tak terduga dari kekasihnya saat ini.


"Maria?"


"Hmm?"


"Kamu bukannya tidak suka acar ya? Kenapa kamu makan?"


"Oh, ternyata acar itu sangat enak Dev. Aku juga tidak mengerti kenapa aku selalu tergiur melihat acar."


Dev merasa heran, dia tahu jika kekasihnya paling alergi dengan yang namanya mentimun. Namun dia segera menepis lamunannya, dan kembali fokus menghabiskan sarapannya.


***


Di luar rumah.


"Maria, aku akan mengantarmu ke kampus."


"Jangan Dev."


"Kenapa?"


"Aku.. hmm.."


Kenapa tiba-tiba aku teringat Jo? Perasaan apa ini?


"Maria?"


"Eh." Maria tersentak


"Kenapa kamu bengong?"


"Ti tidak. Tidak apa-apa."


"Kalau begitu ayo."


Di dalam kamar, Maria kembali merenung. Entah mengapa timbul rasa bergejolak dalam dirinya, terlintas dalam bayangannya, sosok wajah suaminya.


"Apa yang ku pikirkan, lebih baik sekarang aku cepat siap-siap." Maria dengan terburu-buru mengambil tasnya kemudian keluar menuju kedalam mobil Dev.


Dev pun melajukan mobilnya menuju universitas Maria. Disana terlihat sudah banyak yang berlalu lalang, namun tiba-tiba perhatian semua mahasiswa beralih ke arah mobil mewah, dan dari sana mereka melihat Maria turun dari mobil itu.


"Dev, terima kasih ya sudah mengantarku."


"Iya sama-sama, kalau begitu aku pergi ya."


"Hati-hati Dev."


Maria terus tersenyum memandang mobil Dev sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian berjalan masuk menuju kelasnya. Disana terlihat ada Nancy, Jeny dan juga Sasha.


"Itu dia anaknya datang juga." ujar Nancy


Entah mengapa suasana terasa tegang, tatapan menginterogasi terlihat dari kedua temannya.


"Ada apa ini?" tanya Maria yang masih berdiri di hadapan mereka

__ADS_1


"Sini, duduklah." pinta Nancy


Maria yang merasa bingung akhirnya duduk berempat dengan ketiga temannya. Kebetulan kelas masih sepi, belum banyak yang datang.


"Sekarang jelaskan pada kami. Siapa cowok yang datang di pesta dansa waktu itu?" tanya Nancy


"Hmm.."


"Maria?" Jeny menyahut


"Aku tidak mau membahasnya, tolong kalian jangan menanyakan tentang dia lagi. Aku mohon." Maria berujar sambil menunduk


Nancy dan Jeny saling melempar pandangan, menyesal telah membuat sahabatnya bersedih.


"Maafkan kami ya Maria, lupakan saja pertanyaan kami tadi." ucap Nancy penuh penyesalan


"Iya, tidak apa-apa, aku mengerti kalian peduli padaku."


***


Pada jam 04 sore, setelah semuanya keluar kelas. Sasha menahan Maria agar tidak pulang terlebih dulu.


"Maria, ada yang ingin ku tanyakan."


"Apa?"


"Apa kau sudah mengambil keputusan?"


"Apa maksudmu?"


"Kau akan kembali bersama suamimu kan?" tanya Sasha penuh harap


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu Sasha?"


"Aku tidak berhak untuk ikut campur, tapi.."


"Sasha, aku tidak akan kembali bersamanya. Sekarang, aku sudah mendapatkan kebahagiaanku." Maria tersenyum


"Apa maksudmu?"


"Semalam aku bertemu dengan pacarku."


"A Apa?"


"Bahkan semalam kami tidur bersama, aku sangat bahagia dia mau kembali bersamaku."


Nafas Sasha tak beraturan. Marah, kesal, jengkel, itulah yang dia rasakan saat ini.


"Kau sudah gila ya?" tanya Sasha dengan lantang


Otomatis senyuman dari wajah Maria memudar, berganti dengan ekspresi terkejut karena teriakan dari sahabatnya.


"Kau benar-benar tega ya Maria! Kau sudah pergi meninggalkan suamimu! Kau selingkuh lagi! Aku benar-benar tidak habis pikir!"


"Sa Sasha?"


"Kasian kak Jo. Kenapa nasibnya malang sekali dapat istri sepertimu. Ups." Sasha yang kelepasan bicara segera membungkam mulutnya


"Kau, bagaimana kau bisa tahu nama suamiku?"


"A aku.."


"Sasha, katakan."


"Aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat."


"Jadi kau diam-diam berpihak pada suamiku? Dasar penghianat." Maria beranjak dari duduknya di ikuti oleh Sasha


"Maria, dengarkan dulu penjelasanku."


"Dengar baik-baik. Meskipun ayah, ibuku, bahkan dunia sekalipun menentang hubungan kami, aku tidak peduli. Di hatiku hanya ada satu nama, dan aku tidak akan pernah bisa menerima Jo. Sampai kapan pun."


"Dengar baik-baik. Meskipun ayah, ibuku, bahkan dunia sekalipun menentang hubungan kami, aku tidak peduli. Di hatiku hanya ada satu nama, dan aku tidak akan pernah bisa menerima Jo. Sampai kapan pun." ucap Maria dengan lantang.


Deg

__ADS_1


Ucapan Maria seketika membuat Sasha tertohok. Sejenak suasana menjadi hening. Hingga derap langkah kaki Maria menggema ruangan, berjalan keluar meninggalkan Sasha yang masih diam terpaku di tempat.


"Dasar cewek s*nting. Hatinya terbuat dari apa sih? Bagaimana cara menyadarkan dia?" Sasha menghembuskan nafas kasar seolah menahan nafas sejak tadi, karena suasana tegang yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dia pun berjalan keluar meninggalkan kelas.


***


Malam Hari


Jo bersama ayah dan ibu mertuanya tengah duduk di meja makan menikmati makan malam. Sang ayah duduk di kursi utama, sedangkan sang ibu duduk di kursi sebelah kanan. Sementara Jo, duduk di kursi sebelah kiri sang ayah.


Ibu Maria mengambilkan makan malam untuk sang suami. Jo merasa bahagia melihat sepasang suami istri itu tampak harmonis.


"Ibu, aku bisa ambil sendiri." Jo menolak ketika sang ibu mertua hendak mengambilkan makan malam untuknya


Sikap ibu Maria benar-benar berbeda, begitu lembut dan perhatian kepada menantunya melebihi kepada putrinya sendiri.


"Ayah merasa seperti punya anak lagi." ucap ayah Maria sambil memandang ke arah Jo


"Ibu juga merasa begitu. Ini pertama kalinya nak Jo makan malam bersama kita. Bukannya kita seperti punya anak laki-laki?" ibu Maria menimpali di iringi dengan senyum manis di wajahnya


"Ayah, ibu, terima kasih. Kalian sudah bersedia menerimaku." Jo tersenyum sendu


"Nak, kau ini bicara apa? Kita kan keluarga. Lebih baik sekarang kita makan ya. Makanlah yang banyak, badanmu jadi agak kurusan." Ibu Maria kembali mengambilkan lauk ke piring Jo.


"Ayo, makanlah. Masakan ibu enak sekali."


Jo hanya membalas ucapan ayah mertuanya dengan tersenyum.


***


Di sisi lain, Maria tengah berkutat dengan pensil dan bukunya menulis partitur di meja kecil ruang tamu.


Beberapa menit kemudian mobil Dev sampai di depan kontrakannya, melangkah masuk ke arah pintu.


Tok Tok Tok


"Eh, siapa itu?" Maria yang mendengar bunyi ketukan pintu pun menghentikan aktivitasnya, berdiri dan membuka pintu.


"Dev."


"Selamat malam Maria."


"Silahkan masuk."


Dev mendapati kekasihnya dengan rambut di kuncir, memakai kaus lengan pendek abu-abu dan celana jeans pendek selutut. Dev pun mendudukkan dirinya disamping Maria.


"Kamu sedang apa?"


"Aku sedang membuat lagu. Suatu hari nanti, aku ingin kamu memainkan melodi ini untukku."


Dev terdiam menatap Maria datar.


"Kenapa kamu diam saja?"


"Kamu kan tahu aku tidak bisa bermain biola."


"Oh.."


Mendadak suasana hening, Maria mendapati kekasihnya yang diam menunduk lesu.


"Dev." Maria menyentuh lengan kekasihnya, sontak menghentikan lamunannya.


"Kamu kenapa?"


"Maaf ya Maria, aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu yang satu ini."


"Tidak masalah Dev. Kenapa kamu sampai segitunya sih. Aku tidak apa-apa."


Dev menyadari kekurangannya, suaranya sangat indah dan merdu ketika menyanyi. Namun dia hanya bisa bermain gitar. Berbeda dengan sahabatnya, yang memiliki kesamaan dengan Maria.


"Akhirnya selesai juga." Maria telah selesai menulis melodi lagunya, terlihat sangat gembira dan senyum ceria terukir di wajahnya.


"Maria?"


"Hmm."

__ADS_1


"Tinggalah bersamaku."


Bersambung


__ADS_2