
"Aku sudah melakukan kesalahan besar." Jo menyandarkan sikunya ke meja sambil mengacak rambutnya frustasi
"Tapi, menurutku kau tidak bersalah. Kau berhak mendapatkannya." kata Alvin
"Tapi dia tidak mencintaiku. Dia justru semakin membenciku."
"Lalu, apa kau akan menyerah begitu saja? Kau akan membiarkan istrimu bersama pria lain?" pertanyaan Alvin membuat mata Jo membulat "Bila aku jadi kau, aku akan memperjuangkan cintaku." tegasnya
"Aku sudah berusaha mencarinya, sudah dua bulan lebih dia pergi. Aku benar-benar merasa tidak berguna." Jo mengacak rambutnya lagi dengan kedua tangannya
"Kenapa kau tidak coba bertanya pada teman-temannya?"
"Aku juga berpikir begitu. Tapi.."
"Bilang saja kau ini sodaranya."
"Entahlah. Aku juga tidak yakin mereka tahu keberadaan istriku. Aku sudah berkali-kali datang ke kampusnya, tapi aku tidak pernah melihatnya disana."
"Aku jadi ikut pusing." Alvin menghela nafas kasar
Setelah cukup lama di bar akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Alvin mengantar Jo pulang, karena dia dalam keadaan mabuk saat ini.
***
Seorang gadis berpipi chubby tengah bergelung di bawah selimut. Siapa lagi kalau bukan Maria? Dia sedang senyum sendiri menatap layar ponselnya. Mengenang masa lalu bersama kekasihnya, masa-masa yang indah, yang hanya ada mereka berdua.
"Maria, pelan-pelan makannya." Dev mengusap sisa es krim di ujung bibir Maria sambil tertawa kecil
Membuat sepasang mata mereka saling bertemu, seiring dengan gejolak rasa yang kembali muncul, Dev perlahan mencondongkan tubuhnya, hingga akhirnya kedua bibir mereka saling berpagutan. Keduanya pun larut dalam ciuman, Dev menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Maria dan memainkannya disana, membuat mereka terlena seakan dunia milik mereka berdua. Namun kini, hanya ada rasa sakit yang menyayat hati keduanya, juga pihak ketiga yang hadir dalam rajutan kisah asmara mereka.
"Dev." Maria menyentuh foto sang kekasih di layar ponselnya, seiring dengan airmata yang jatuh setelahnya.
Sebenarnya Dev juga berusaha mencari Maria, sampai sekarang. Dia pun belum bisa melupakannya. Bohong jika dia tidak mempedulikannya, bohong jika dia sudah tidak mencintainya. Dia pun berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri, seakan Maria tidak pernah hadir dalam hidupnya. Namun hal itu justru membuatnya semakin terpuruk.
***
Mobil Alvin sampai di depan rumah Jo, seorang satpam membuka pintu gerbang. Setiba di halaman, seorang pengurus rumah menunggu diluar. Alvin membantu Jo turun dari mobil dengan merangkul punggungnya.
"Tolong, antar dia ke kamarnya." pinta Alvin
"Baik tuan." sahut sang pengurus rumah
Mata Jo terpejam, dia dalam keadaan setengah sadar sambil terus bergumam menyebut nama istrinya lirih selama ia di antar ke kamarnya.
"Kasihan sekali tuan Nathan. Baru juga satu bulan menikah, sudah ditinggal minggat oleh istrinya. Aku saja yang cuma disuruh tidur di luar oleh istriku susahnya minta ampun." pengurus rumah menggelengkan kepalanya, lalu keluar dan menutup pintu.
***
Keesokan Hari...
Marco datang ke kontrakan Maria.
__ADS_1
Tok Tok
"Maria.."
Tok Tok
"Aku datang.."
Marco terus mengetuk pintu dengan menyebut nama Maria.
"Aduh... berisik!" sementara sang mpu pemilik nama masih bergelung dibawah selimut
Maria pun segera bangun dari tidurnya, mengucek mata dan menguap. Dengan rambut acak-acakan dia keluar membuka pintu. Tanpa di duga Maria hendak membuka pintu, Marco tanpa sengaja mengetuk dahinya.
"Ups. Maaf."
"Ada apa pagi-pagi datang kesini?" tanya Maria dengan raut kesal
"Ini sudah jam berapa tuan putri? Rambutmu juga acak-acakan, kau baru bangun tidur ya?"
"...."
"Aku baru pesan fried chicken, aku ingin sarapan denganmu." kata Marco sambil menunjukkan kantung berisi dua kotak makanan di tangannya
"Ya sudah, masuklah." Maria mempersilahkan Marco duduk di karpet. Marco menaruh kotak sarapan mereka diatas meja.
***
Setelah Maria menyelesaikan ritual mandinya dan sudah rapi, dia kembali duduk dengan Marco menikmati sarapan mereka sembari mengobrol.
Maria : "Biasa saja."
Marco : "Apa kau tidak merasa kesepian?"
Maria : "Meskipun aku kesepian aku tidak akan kembali ke apartemenmu."
Marco : "Hei, makannya pelan-pelan."
Maria : "Aku lapar sekali."
Marco : "Bukannya kau tidak suka acar ya?"
Maria : "Aku ingin saja, memangnya tidak boleh?"
Marco : "Ya, boleh sih."
Anak ini, sikapnya jadi berubah.
Marco terheran dengan sikap Maria yang menurutnya aneh dan berubah secara drastis, terutama dalam pola makan. Dia menyadari hal itu sejak Maria tinggal bersamanya.
Flashback
"Apa kau benar-benar Maria yang ku kenal? Makanmu lahap sekali."
__ADS_1
Maria beralih menatap Marco di hadapannya yang tampak bingung.
"Maafkan aku."
"Kenapa kau minta maaf? Aku tidak keberatan kalau porsi makanmu banyak. Hanya saja, aku merasa heran."
"Aku juga tidak mengerti, akhir-akhir ini aku sering lapar."
"Pantas saja badanmu semakin berisi."
"Ugh, jangan meledekku." Gerutu Maria
"Haha."
Flashback end
Marco tengah menatap Maria menyantap sarapannya dengan lahap. Yang membuatnya heran kali ini bukan tentang porsi makan Maria, melainkan..
"Kenapa acarku juga kau makan?"
"Acarku habis, aku makan punyamu ya?"
Marco menghela nafas panjang.
"Ambil saja semuanya."
***
Selesai sarapan, Marco berpamitan untuk berangkat ke kantor. Namun sebelumnya mereka bercakap di depan pintu.
"Maria, kalau butuh sesuatu bilang saja ya."
"Sudah berapa kali kau mengatakan itu?"
"Karena kau selalu menyembunyikan semuanya. Jika ada masalah, pasti kau tutupi."
Maria menunduk lesu, terlihat jelas raut sedih dari wajahnya. Marco pun mengusap bahunya pelan.
"Maria, ingatlah. Kau tidak sendirian, disini ada aku untukmu. Tetap semangat, oke." hibur Marco
Maria kembali tersenyum.
"Kalau begitu antar aku ke kampus."
"Siap!" sahut Marco dengan semangat
***
V Company
Di dalam ruangan presdir, Jo terdiam menyandarkan kepalanya di kursi. Sementara Ramon disebelahnya juga terdiam menatapnya.
Sejak istrinya pergi, dia jadi sering melamun. Untung saja aku belum menikah. Jangankan menikah, aku saja masih jomblo.
__ADS_1
Bersambung