
Jo diam terpaku sampai akhirnya Dev menutup pintu. Hatinya seperti di sayat, mungkin sebelumnya dia sudah sering merasakan rasa sakit dan sesak seperti ini. Namun kali ini rasa sakit itu terasa semakin pedih. Jo melangkah pergi menuju ke mobil dengan lemas. Dia pun membanting setir menuju ke tempat yang biasa ia datangi jika pikirannya kacau.
***
Hingar-bingar khas sebuah club terasa begitu kental, terlebih kalau club itu adalah salah satu club terkenal di negara ini. Entah itu dentuman hot music yang dimainkan oleh salah satu DJ. Mampu membuat sebagian besar pengunjung turun ke lantai dansa hanya untuk menggerakkan tubuh mereka serampangan, atau justru berusaha untuk menarik perhatian lawan jenis. Belum lagi minuman beralkohol dengan harga fantastis.
Jo salah satunya. Dia terlalu sibuk dengan minuman berwarna merah pekat ditangannya. Bahkan mengabaikan wanita-wanita cantik nan seksi yang berusaha menarik perhatiannya. Siapa juga yang tidak tertarik dengan pria sempurna, setara atau mungkin melebihi dewa-dewa Yunani. Belum lagi Jonathan adalah salah satu pengusaha muda sukses yang tidak perlu diragukan lagi kekayaannya. Jadi sangat wajar bukan, kalau sebagian besar dari mereka para gadis mengharapkan pria itu akan tergoda atau mungkin tertarik untuk menghabiskan waktu bersama meski hanya sesaat.
Jo sudah menghabiskan wine cukup banyak, entah sudah berapa gelas. Yang jelas dia sudah mabuk berat dan tertidur. Di depannya, ada Alvin yang mengamati sejak tadi dan setia mendengarkan keluhan atas masalah yang di hadapinya.
"Anak ini, tidak mungkin kan dia pulang ke rumah mertuanya dalam keadaan seperti ini." Gumam Alvin. Ia berpikir malam ini ia akan membawa Jo pulang ke rumahnya
Setelah Jo tertidur, Alvin meraih ponselnya dari saku jas, menelfon seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya juga. Usia Alvin tiga tahun lebih tua dari mereka. Mereka saling mengenal karena dulu Alvin pernah bertetangga dengan Jo. Akhirnya semua teman Jo juga menjadi temannya.
Dev yang tengah duduk di sisi ranjang mengecek ponselnya yang bergetar. "Kak Alvin?" gumamnya
"Hallo."
"Kau ada dimana?"
"Aku dirumah."
"Dev, apa kau sudah gila? Kenapa kau membawa kabur istri orang?"
"Apa maksud kakak? Siapa yang membawa kabur? Aku hanya membantunya bebas dari Jo."
"Dev, sadarlah. Mereka sudah menikah."
"Tapi aku pacarnya kak. Aku juga berhak atas Maria."
"Astaga.. apa kau mau menghancurkan rumah tangga orang?"
__ADS_1
Dev memejamkan mata sejenak.
"Kakak salah. Justru aku ingin memperbaiki semuanya."
Dev memutuskan sambungannya.
"Hallo! Hallo! Dev!" Alvin merasa kesal di seberang sana
Dev kembali memandang Maria yang tengah terlelap seraya mengusap lembut rambutnya.
"Maria, aku janji. Semuanya akan baik-baik saja."
***
Keesokan hari..
Alvin memberikan minuman pereda mabuk kepada Jo.
Jo terdiam dengan pandangan kosong.
"Apa kau yakin, akan tetap mempertahankan rumah tanggamu?"
"Entahlah."
"Apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu. Aku harap keputusanmu itu yang terbaik." tutur Alvin sambil menepuk pundak Jo.
***
Rumah Keluarga Maria
"Nak, kenapa buru-buru sekali. Kau boleh tinggal disini dulu selama yang kau mau."
__ADS_1
"Sebenarnya, aku masih ingin tinggal disini beberapa hari lagi ibu. Tapi aku harus kembali bekerja.
"Iya nak, ibu mengerti. Jika kau ingin main kesini lagi tidak apa-apa. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu."
"Terima kasih banyak ibu."
"Ibu minta maaf. Atas perbuatan putri ibu. Dia sudah mengecewakanmu dan pergi meninggalkanmu. Jujur, ibu sangat malu."
"Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Jadi ibu jangan menyalahkan diri ibu lagi ya. Aku sangat bersyukur, mendapatkan ibu mertua seperti ibu."
"Nak.." ibu Maria memegang pundak Jo "Kau sangat baik, tapi kenapa putriku bisa begitu tega menyakitimu. Seandainya dia bisa melihat ketulusanmu, dia pasti akan menyesal telah menyia-nyiakan suami sepertimu."
Jo hanya tersenyum mendengar penuturan ibu mertuanya.
"Ibu doakan, semoga suatu saat nanti. Kau akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Maria." ucap Ibu Maria dengan menitikkan airmata, namun ucapannya yang terakhir tidak membuat Jo terharu. Jika bisa, dia hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya.
"Ibu, apa ibu suka hadiah dariku?"
"Ibu suka sekali. Harusnya kau tidak perlu memberikan semua hadiah itu nak."
"Kan aku menantu ibu, jadi sudah tanggung jawabku. Kalau ada yang ibu perlukan lagi, ibu tidak usah sungkan untuk memintanya padaku."
"Terima kasih nak, betapa beruntungnya Maria mendapatkan suami sepertimu. Tapi apa boleh buat." ibu Maria menghela nafas panjang
"Kalau begitu aku pulang ya ibu, jaga kesehatan ibu. Tolong sampaikan salamku pada ayah."
"Iya, nanti ibu sampaikan. Hati-hati nak."
Jo masuk kedalam mobil. Setelah itu melenggang pergi sampai menghilang dari pandangan ibu Maria. Jo baru membelikan mesin jahit mahal dan berbagai perlengkapannya kepada sang ibu mertua, agar mempunyai kegiatan dan tidak merasa kesepian selama dirumah sendirian. Itu dia lakukan bukan untuk membalas budi. Namun niatnya tulus dan dia sangat menyayangi mertuanya seperti orang tuanya sendiri.
Mobil Jo sampai di halaman rumahnya, dia turun dari mobil dan berjalan lesu ke teras. Dia mendudukkan dirinya disana, bersedih dan merenungi nasibnya. Entah berapa lama dia seperti itu, membenamkan wajahnya di antara kedua kaki dan memeluk lututnya. Terakhir kali dia seperti ini setelah kehilangan ibunya. Lalu tiba-tiba terlintas dalam ingatannya akan sosok gadis remaja 13th berambut pirang tersenyum padanya.
__ADS_1
Bersambung