
"Kenapa? Kenapa aku terus teringat Jo? Kenapa aku seperti ini? Sejak aku mendengarnya menyanyi di pesta dansa waktu itu, aku merasakan gejolak aneh dalam diriku. Ugh! Apa ada seseorang di dunia ini yang bisa jatuh cinta hanya dengan mendengar suara?"
Flashback on
"Maria, tinggalah bersamaku."
Deg
"A apa?" Maria tercengang atas ajakan Dev
"Kamu tinggal sendirian disini. Apalagi kamu perempuan. Aku takut kamu kenapa-napa. Selama ini kamu terbiasa hidup di rumah yang nyaman. Aku merasa sedih kamu hidup seperti ini." tutur Dev dengan wajah sedihnya
"Tapi Dev, kita belum ada hubungan apa-apa. Apa kata orang nanti."
"Itu bisa diatur. Lagipula aku tinggal sendirian. Aku tinggal terpisah dari orangtuaku sejak aku pulang dari London."
"Tidak Dev. Aku tidak bisa." Maria menarik tangannya dari genggaman tangan Dev
Hari Kedua
"Aduh jantungku. Kenapa aku terus teringat Jo. Ugh! " gumam Maria sambil mengacak-acak rambutnya di kamar
"Apa aku terima saja tawaran Dev. Aku tahu ini gila. Tapi mungkin dengan cara ini aku bisa lepas dari bayang-bayang Jo."
Maria akhirnya menelfon Dev dan memintanya datang ke kontrakannya.
***
Maria yang tengah duduk sambil menulis partitur, akhirnya berdiri membuka pintu untuk Dev.
"Jadi bagaimana? Kamu mau kan tinggal bersamaku?"
"A, aku.."
Maria mengangguk. "Iya, aku mau."
Mendengar jawaban dari Maria seketika Dev tersenyum senang.
"Aku kaget sekali saat kamu menelfonku tadi." Dev mengingat saat dia di telfon oleh nomor tak dikenal yang tak lain adalah Maria
"Oh iya, aku belum memberimu nomor baruku kan." sahut Maria sambil menggesek layar ponselnya
__ADS_1
"Maria, kamu dapat darimana foto itu? Itu saat aku bercermin kan?" tanya Dev melihat fotonya terpampang sebagai wallpaper di ponsel Maria
"Ini aku dapat dari sosmed. Haha."
Flashback off
"Semalam aku bahkan minta Dev untuk menungguku sampai aku tertidur. Benar-benar gila." Maria mengingat momen semalam ketika dia meminta Dev untuk duduk di sisi ranjang sampai dia terlelap
Lamunan Maria pecah setelah seorang pelayan masuk ke kamarnya.
"Permisi nona. Saya mengantar sarapan. Hari ini tuan ada meeting, jadi tuan sudah berangkat sejak tadi pagi."
"Oh begitu. Terima kasih."
***
Sore Hari
"Dev, nanti malam aku masuk kerja."
"Kamu yakin? Apa pikiranmu sudah fresh."
"Okey. Nanti supirku akan mengantarmu."
"Tidak perlu Dev. Aku bisa berangkat sendiri. Masa aku naik mobil kesana."
"Ya sudah, kalau itu maumu."
***
Jo tengah duduk di kursi taman, menikmati suasana sore hari sambil membayangkan masa kecilnya ketika berumur 13 tahun.
Flashback on
"Hai? Sendirian saja."
Jo menoleh ke asal suara itu, terlihat seorang gadis cantik berambut pirang menyapanya sedang duduk sendirian di dalam kelas ketika jam istirahat
"Apa aku boleh duduk disini?" tanya gadis itu
"Hmm." jawab Jo datar
__ADS_1
Gadis itu pun duduk disamping Jo.
"Dari tadi aku lihat kau cuma diam saja dan melamun. Kenapa kau tidak pernah bersama anak-anak lain?"
Jo bergeming.
"Aku bisa merasakan, ada sesuatu yang kau sembunyikan. Pasti berat sekali ya?"
Jo terkejut kemudian menoleh ke arah gadis itu.
"Aku bisa melihatnya. Terlihat jelas dari wajahmu kalau kau menyimpan banyak beban."
"...."
"Ceritalah padaku. Setidaknya, bebanmu bisa berkurang."
"...."
"Oh iya, sebelumnya perkenalkan. Namaku Agnez." Gadis itu mengulurkan tangannya
"Jonathan." Mereka pun berjabat tangan
Saat itu, Jo akhirnya menceritakan semuanya kepada Agnez. Teman barunya. Dia menceritakan kesedihannya, semua beban yang ada di hatinya hingga air mata berlinangan membasahi pipinya.
"Harusnya aku tidak menangis di depan anak perempuan." Jo berujar sambil menyeka airmatanya
"Tidak masalah. Kan hanya ada aku disini." tutur Agnez
"Ciye ciyeee." sorakan teman-teman Agnez dari luar kelas melihat mereka sedang duduk berduaan
"Iya kami pacaran, pergi sana jangan ganggu kami." canda Agnez pada mereka
"Seka air matamu." pinta Agnez sambil menyerahkan sapu tangan kepada Jo
Flashback off
"Ehem."
"Agnez?"
Bersambung
__ADS_1