Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Angin Masuk


__ADS_3

Jo duduk di ruang tunggu disebuah perusahaan asing yang akan menjadi klien besarnya dengan gadget putih ditangannya. Matanya menatap fokus pada setiap kata yang tertera di layar gadget mahalnya itu. Mempelajari setiap kalimat yang nantinya akan ia presentasikan didepan investor-investor asing yang akan menghadiri meeting penting hari ini. Tidak peduli bahwa ia kini menjadi pusat perhatian dari para pegawai perempuan yang ada disana.


Menatapnya dengan penuh minat dan terpesona yang membuat Ramon, sekretaris Jo merasa jengah melihat perempuan-perempuan itu berbisik membuat konsentrasinya yang sedang merapikan map-map bahan meeting nanti menjadi terganggu. Ramon mendongakkan kepalanya dan memberikan tatapan tajamnya kepada perempuan-perempuan itu membuat mereka mendengus sebal dan tentu saja hal itu tidak disadari Jonathan karena dia masih tetap fokus dengan apa yang sedang dibacanya.


"Pukul berapa meetingnya akan dimulai?"


Ramon menolehkan kepalanya dan menatap bosnya yang bertanya kepadanya.


"30 menit lagi."


***


Sementara di sisi lain, Maria sedang di kamar mandi merasakan pusing dan mual pada perutnya.


"Apa jangan-jangan aku hamil?" gumamnya


Maria langsung berinisiatif untuk meminta seorang pelayan membelikannya tespack di apotik. Dia pun menggunakannya dan butuh beberapa menit untuk menunggu hasilnya. Senyumnya merekah setelah mengecek benda itu yang menunjukkan dua garis merah yang artinya..


"Aku hamil."


Perasaan Maria di penuhi kebahagiaan saat ini. Namun ia tak langsung memberitahukan hal itu kepada suaminya. Maria menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan kehamilannya sebagai kejutan. Meskipun dia sebenarnya sudah tidak sabar ingin melihat senyum bahagia dari wajah suaminya setelah mendengar kabar baik ini.

__ADS_1


***


Malam hari


"Sayang, apa kamu sakit?" Jo menatap khawatir Maria yang malam ini duduk di ruang makan dengan wajah pucat.


"Tidak sayang." jawab Maria dengan seulas senyum


"Tapi wajahmu pucat. Aku akan panggil dokter."


"Tidak usah sayang, aku baik-baik saja."


Tak lama setelah mengatakan itu, Maria kembali mual dan segera membungkam mulutnya menuju kamar mandi. Jo yang merasa cemas, dia pun menyusul Maria ke kamar mandi. Dia merasa kasihan melihat istrinya yang terlihat lemas dan kelelahan muntah-muntah di wastafel. Jo yang muncul dari belakang memijat tengkuk Maria lalu mengantarnya ke tempat tidur.


"Tidak usah sayang. Aku hanya masuk angin."


"Kamu keras kepala sekali sih Maria."


Setelah selesai mengoleskan minyak angin ke tubuh Maria, Jo keluar sebentar mengambilkan makan malam untuknya.


"Sayang, kamu harus tetap makan ya."

__ADS_1


"Tidak mau."


"Tapi kamu belum makan apa-apa sayang, aku tidak mau kamu tambah sakit."


Maria pun menurut. Dia membuka mulutnya menyambut suapan dari tangan suaminya. Usai menghabiskan makanannya, Jo membantu Maria meminum teh hangat.


"Sepertinya aku harus keluar kota."


Deg


"Ke keluar kota?" tanya Maria terkejut


"Hmm. Tapi karena kamu sakit, aku jadi tidak tega meninggalkanmu. Aku juga tidak tega meninggalkan anak-anak."


Seketika raut muka Maria menjadi sedih, namun sedetik kemudian ia berusaha menyunggingkan senyum.


"Kalau memang kamu harus keluar kota, aku tidak apa-apa sayang. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku dan juga anak-anak. Kami akan baik-baik saja dirumah."


"Kamu yakin?" tanya Jo ragu


"Iya sayang." jawab Maria meyakinkan

__ADS_1


Jo tersenyum. Maria sebenarnya ingin suaminya tetap ada untuknya, namun dia berusaha untuk tidak menjadi beban bagi suaminya. Walaupun disaat seperti ini adalah saat yang di inginkan wanita hamil untuk selalu ada didekat suaminya.


Bersambung


__ADS_2