Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Kejutan


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya. Jo membawa istri dan anak-anaknya pergi ke wahana hiburan. Si kembar asyik memainkan macam-macam permainan disana. Jo dan Maria juga ikut naik bianglala bersama si kembar. Pemandangan terlihat sangat indah dari atas ketinggian membuat si kembar berdecak kagum. Sepulang dari sana, perasaan heran meliputi Maria ketika membuka pintu dan menemukan rumahnya yang gelap. Saat mereka berjalan beberapa langkah untuk masuk kedalam...


"SURPRISE!!" suara itu berhasil membuat Maria terkejut sebelum lampu menyala, diiringi dengan bunyi ledakan kecil juga suara bising terompet, membuat Maria kembali terkejut dan terpaku ditempatnya.


Ibu dan ayahnya, ibu dan ayah mertuanya, terlebih lagi Dev dan Sarah bersama putra kecil mereka, juga Alvin dan Luna bersama putri kecil mereka yang masih berumur tiga tahun, tak lupa Ramon bersama istrinya Natasya, dan semua saudaranya berkumpul disana. Maria tersenyum manis menyambut mereka semua yang sudah membuat kejutan ulang tahunnya dengan mata berbinar. Mereka semua mendekat dengan sebuah kue tart coklat yang dibawa oleh Elisa, ibu Maria.


"Selamat ulang tahun!!" ucap mereka dengan antusias. Maria tersanjung, tertawa menampilkan deretan gigi putihnya dengan perasaannya yang membuncah bahagia.


"Panjatkan doamu, Maria." Elisa berucap sambil menyodorkan kue tart coklat yang ia bawa.


Sambil mengepalkan kedua tangan di dadanya, kemudian memejamkan mata, Maria mulai membuat permohonan. "Ku mohon Tuhan, jangan pernah biarkan kasih sayang ini hilang dariku. Keluarga ini, kehangatan dan ketulusan ini, aku tidak ingin kehilangan semuanya. Amin."


Maria meniup lilin-lilin itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih.. Terima kasih sekali." Airmatanya menetes beriringan dengan rasa syukur dalam hatinya.


"Jangan menangis dihari ulang tahunmu sayang." Jo langsung menarik tubuh istrinya itu mendekat, menangkup wajah Maria dan mengusap airmatanya. Dia telah merencanakan kejutan ini dengan sepengetahuan si kembar.

__ADS_1


Maria yang berada ditengah-tengah mereka mulai memotong kue atas permintaan ibunya. "Aku memiliki empat potong kue spesial yang akan kuberikan untuk orang yang spesial."


"Yang pertama.." Maria mengambil potongan pertama itu lalu menaruhnya dipiring. "Untuk suamiku, pria yang sangat berharga dalam hidupku."


"Terima kasih sayang. Semoga panjang umur dan sehat selalu." Jo menerima potongan kue itu lalu mencium pucuk kepala Maria. Semua yang ada disana memandang manisnya hubungan mereka dengan perasaan haru dan bahagia.


"Yang kedua, untuk dua malaikat kecilku." Dengan senyum manis Maria memberikan sepotong kue agak besar kepada si kembar dengan menyamakan tinggi tubuhnya.


"Happy Birthday Mom, semoga panjang umur dan sehat selalu." doa mereka berakhir dengan kecupan yang mendarat di masing-masing pipi Maria.


"Yang ketiga.." Maria memberikannya kepada ayah dan ibunya. "Semoga kau selalu bahagia nak." ucap Elisa. "Doa kami selalu menyertaimu." lanjut Fredyan. Dan Maria hanya mengangguk dan mengamini doa yang keluar dari bibir ayah dan ibunya.


"Terima kasih nak. Semoga Tuhan selalu melindungimu." ucap ayah Jo. "Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian." ucap ibu tiri Jo. Dan Maria mengamini doa mereka semua.


Pesta itu berlangsung selama satu jam. Mereka mengisi malam itu dengan keceriaan, mengobrol, berbagi kisah dan juga memberikan Maria hadiah ulang tahun. Tak lama kemudian mereka berpamitan untuk pulang. Setelah mengantar mereka semua hingga ke depan gerbang, ternyata mereka memarkirkan mobil cukup jauh dari rumah demi suksesnya rencana kejutan yang mereka bawa. Jo dan Maria melambai kepada mobil mereka setelah lewat dihadapan mereka, terus melambai hingga mobil itu lenyap di ujung jalan.

__ADS_1


Jo kemudian menggenggam tangan Maria untuk masuk kedalam, mereka mengantar si kecil ke kamar untuk menidurkan mereka. Hingga akhirnya Maria mendapatkan kejutan sekali lagi dari sang suami tercinta. Mereka saat ini berada didepan kolam renang. Maria duduk di sofa dengan lentera-lentera kecil bertebaran di lantai yang mendukung suasana kian romantis.


"Malam ini aku akan mempersembahkan lagu yang istimewa untuk wanita yang paling berharga dalam hidupku." Jo mengambil biola yang ada di meja. Didepan Maria, dia mulai menggesek alat musik itu dan memainkan nada-nada yang indah. Sukses membuat hati Maria tersentuh. Seakan semua perasaan dari lubuk hatinya yang terdalam tersalurkan dalam alunan melodi itu. Tanpa Maria sadari, airmatanya turun dengan sendirinya. Jo mengalunkan lagu itu dengan penuh penghayatan membuat hati Maria terharu mendengarnya. (Celine Dion - My Heart Will Go On).


Setelah menyelesaikan lagunya, Jo meletakkan biola itu kembali. Dia mengulurkan tangannya kepada Maria kemudian disambut dengan hangat oleh Maria yang kini berdiri dihadapannya.


"Terima kasih banyak atas semua yang telah kamu berikan untukku, Jo." Maria menitikkan airmata, seumur hidup baru kali ini ulang tahunnya dirayakan. Meskipun hanya satu kali, namun hal itu sangat berarti baginya.


"Aku akan memberikan segalanya untukmu, Maria. Apapun, demi kebahagiaanmu." Jo berkata sambil mengusap lembut airmata yang mengalir di pipi Maria


"Sekarang pejamkan matamu."


Maria pun menuruti keinginan suaminya. Saat dia membuka matanya kembali, Maria terkesiap mendapati kalung dengan liontin hati yang melingkar di lehernya. Lalu kembali memandang suaminya yang saat ini tersenyum kepadanya.


"Liontin hati ini menggambarkan, kamu adalah satu-satunya wanita pemilik hati dan jiwaku Maria. Aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu." Maria tersenyum menatap sendu ke arah Jo yang saat ini juga tersenyum padanya. Lalu melingkarkan lengannya pada leher Jo dengan sedikit berjinjit saat Jo mendaratkan ciumannya pada bibir Maria. Mereka terhanyut dalam mata yang terpejam. Malam itu menjadi malam yang indah bagi mereka berdua.


Bersambung


__ADS_2