Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Surprise


__ADS_3

"Jangan membenci sesuatu terlalu berlebihan, karena mungkin sesuatu yang kita benci suatu saat akan menjadi sesuatu yang kita miliki dan cintai."


Maria kini duduk di meja rias memakai make up. Sedangkan suaminya, entah sejak kapan dia bersiap-siap dan sekarang sedang menunggunya di depan. Selesai berdandan, Maria langsung menuju keluar dengan penampilannya yang elegan. Jo yang sedang bersandar di sisi kiri mobil tatapannya langsung terfokus kepada istrinya dan hampir tak berkedip karena terpesona.


"Kamu, cantik sekali sayang." puji Jo dengan senyumnya yang menawan


"Terima kasih sayang. Kamu juga sangat tampan." puji Maria dengan semburat merah menghiasi pipinya


Tanpa berlama-lama lagi, Jo mengulurkan telapak tangannya dan langsung disambut oleh Maria. Jo membuka pintu mobil untuk Maria, mempersilahkannya untuk masuk terlebih dahulu, kemudian dia menyusul dan duduk di kursi kemudi.


"Jo, apa kamu yang akan menyetir?"


"Tentu. Sudah lama sekali kan kita tidak jalan berdua? Entah kapan terakhir kali kita kencan."


Maria terpana akan perlakuan suaminya hari ini. Lelaki yang menjadi suaminya itu selalu membanjirinya dengan kebahagiaan. Jo mulai menyalakan mesin perlahan berjalan keluar melewati gerbang besar. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan, Maria memandang sekeliling menikmati pemandangan indah ibukota pada malam hari. Jo merasa senang bisa melihat istrinya bahagia seperti ini.


"Akhirnya kita bisa punya waktu berdua." Jo memulai obrolan memecahkan keheningan


"Iya, rasanya berbeda kalau hanya pergi berdua. Tapi kamu mau mengajakku kemana?"


"Kamu akan tahu nanti."


Maria penasaran mobil ini akan membawa mereka kemana. Selang beberapa lama mobil itu berhenti. Jo memarkirkan mobilnya lalu kembali membukakan pintu untuk istrinya. Maria bergelayut di lengan Jo sambil menatap sekeliling dan mendapati dirinya berada di restoran mewah dengan desain interior yang elegan dan pencahayaan yang temaram. Terdapat banyak kelopak bunga mawar merah yang bertaburan dan juga lilin-lilin kecil.


"Sayang, kenapa restoran ini sepi sekali?" tanya Maria bingung


"Aku menyewa restoran ini untuk kita berdua. Karena aku ingin malam ini menjadi malam yang spesial."

__ADS_1


Disana terdapat panggung kecil tempat piano berada. Namun, tidak hanya piano yang ada di panggung kecil itu. Bersama seseorang yang duduk didepan piano, ada orang lain yang memegang biola dan juga cello.


Maria terkesiap ketika tiba-tiba Jo menariknya mendekat, membuat mereka berdiri berhadapan, lalu kedua tangannya merangkul pinggang Maria.


"Waktunya berdansa, tuan putri." bisik Jo


Maria mengerjap. Dansa!


Belum sempat Maria bertanya, suara lembut dari gesekan biola terdengar di seluruh ruangan. Lalu, melodi dari piano dan cello bergabung, membentuk alunan cantik lagu cinta yang dikenali Maria.


Jo belum membuka suaranya. Betapa Maria menyukai tatapan teduh itu untuknya. Sejak dulu, semua kehangatan dari suaminya tak pernah berubah. Saat bersamanya, Maria dibuat merasa seperti wanita yang paling beruntung di dunia. Seakan semuanya akan diberikan untuknya, tanpa terkecuali. Jo memang seperti itu sejak dulu, menjaganya dan menyayanginya.


"Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Jo?"


"Karena aku bisa, aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu. Ini adalah wujud nyata dari janjiku padamu, Maria. Dan aku tak pernah main - main jika itu berhubungan denganmu."


Wanita mana yang tidak meleleh mendengar kalimat seindah itu keluar dari bibir seorang pria? Ditambah tatapan dan senyum tulus yang mampu membuat kedua kaki Maria lemas seketika.


"Semua lirik lagu yang pernah ku nyanyikan untukmu seperti sebuah doa, dan pada akhirnya aku di persatukan denganmu, Maria."


"Jadi, kamu menyiapkan semua ini karena.."


"Iya, selamat hari ulang tahun pernikahan kita sayang."


Hingga alunan lagu berhenti, Jo mencium bibir Maria dengan penuh cinta. Maria tersenyum tulus pada Jo setelah ciuman itu terlepas.


"Bukankah malam ini kamu akan berangkat keluar kota?" tanya Maria dengan menitikkan airmata

__ADS_1


"Maafkan aku Maria, aku berbohong."


Pengakuan Jo membuat mata Maria membulat, dia bahagia sekaligus sedikit kesal karena kejutan tak terduga dari suaminya.


"Huft dasar. Padahal aku sudah terlanjur sedih dari kemarin. Ternyata kamu bohong. Huft." kesal Maria sambil mencubit lengan Jo gemas


"Aku minta maaf karena sudah membuatmu sedih. Tapi aku merasa bahagia karena kamu tidak mau jauh dariku."


"Terima kasih karena sudah menyiapkan ini semua untukku sayang. Aku juga punya kejutan untukmu." ucap Maria membuat alis Jo bertaut


"Kejutan?"


"Aku hamil."


Hati Jo membuncah bahagia. Lalu memeluk Maria dan mengangkat tubuh Maria berputar beberapa kali.


"Berhenti. Aku sedang hamil."


"Aku senang sekali. Akhirnya kita akan punya anak lagi sayang." Jo kemudian menurunkan Maria dengan hati-hati


"Iya, aku sengaja merahasiakannya darimu dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya."


Jo menggenggam jemari Maria dan mengecupnya dengan penuh cinta.


"Terima kasih sayang, sudah memberikan kebahagiaan untukku berlipat-lipat. Aku mencintaimu, Maria."


"Aku juga mencintaimu, Jonathan."

__ADS_1



Bersambung


__ADS_2