Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Perjodohan


__ADS_3

"Bro, hari ini mukamu kecut sekali." celoteh teman Jo


Ben



"Sudahlah, jangan di bahas."


"Memang ada masalah apa sih, apa kau baru di tolak cewek?"


"Bukan."


"Lalu apa?"


"Aku tidak ingin membahasnya, moodku jadi semakin buruk."


Jo beranjak dari sofa.


"Kau mau kemana?"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin menghirup udara segar. Pikiranku benar-benar kacau sekarang."


"Kalau tidak mau cerita ya sudah."


Setelah meninggalkan rumah temannya, Jo pergi berkeliling dengan motornya. Di tengah perjalanan, dia hampir menabrak seseorang lagi yang hendak menyebrang. Dia pun segera mengerem.


"Uwaaa!!!"


"Hei!! Kalau jalan lihat-lihat!!"


"Kak Jo?"


"Ternyata kamu! Kenapa lagi-lagi aku bertemu denganmu! Setiap bertemu denganmu nasibku selalu sial!!"


"Hei!! Jangan bicara sembarangan ya!! Kau yang tidak bisa naik motor dengan benar!!"


Jo terdiam, yang di katakan Maria memang benar. Saat ini pikirannya kemana-mana, dia tidak konsen menyetir membuatnya terkejut saat melihat Maria yang hendak menyebrang. Tanpa mengucap sepatah kata dia menancap gas dan berlalu.


"Dasar arogan!!! Untung saja kau tampan!! Kalau tidak pasti sudah ku lempar pizza kemarin!!" teriak Maria di pinggir jalan


***


Malam harinya..


Tepat jam 11 malam, Maria menghubungi Dev lewat videocall.


"Hai.."


"Maria, kamu belum tidur?"


"Aku belum bisa tidur, disana jam berapa sekarang?"


"Jam 5 sore. Aku sedang bersantai, andai saja ada kamu disini."


"Jika aku punya sayap, aku akan terbang menyusulmu."


Dev tertawa kecil.


"Kalau begitu terbanglah ke dalam mimpiku, aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu, Dev."

__ADS_1


"Maria, kamu terlihat sedih. Apa kamu ada masalah?"


"Tidak."


"Yang benar? Kalau ada masalah ceritakan padaku."


"Tidak, aku hanya kelelahan."


"Pasti kamu ngantuk. Ya sudah, tidurlah."


"Iya."


"Selamat malam Maria, semoga mimpi indah.. Love you."


"Love you too."


Maria memutus panggilannya, airmata pun menetes membasahi pipinya.


Dev, seandainya kamu tahu. Apa yang terjadi padaku. Aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Aku takut kehilanganmu. Aku harus rela meninggalkanmu dan menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal.


***


2 tahun kemudian


Maria datang ke rumah calon suaminya bersama ayah dan ibunya untuk acara makan malam. Maria terlihat anggun dengan balutan dress warna biru selutut dan rambut panjangnya yang terurai. Sesampai disana, mereka di sambut oleh seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah seorang pengurus rumah. Dia menunduk hormat dan mempersilahkan mereka masuk.


"Kenapa rasanya ada yang aneh ya. Rumah ini terasa tidak asing." batin Maria dalam hati


Lalu sesaat kemudian datang calon mertua Maria bersama calon suaminya yang tengah berjalan menuruni tangga.


"Maaf, harusnya aku menyambut kedatangan kalian tadi." sapa calon mertua Maria, Nathan Smith.




"Jo, dia adalah calon istrimu." ucap pria paruh baya itu kepada putranya yang sedari tadi sibuk bermain ponsel


"Maria!!"


Lamunan Maria buyar setelah mendengar namanya dipanggil.


"Kak Jo!!"


"Kalian sudah saling kenal?" tanya ibu Maria, Elisa.



"Ayah, yang benar saja, ayah mau menikahkan aku dengan dia?" protes Jo sambil menunjuk ke arah Maria


"Dia putri sahabat ayah, Maria anak yang baik."


"Tapi.."


"Jaga sikapmu." tutur ayah Jo dengan tatapan tajam


Sial! Kenapa dari sekian banyak perempuan harus dia sih.


***


Beberapa bulan kemudian, akhirnya Jo dan Maria telah resmi menjadi pasangan suami istri. Namun, pernikahan mereka dilaksanakan secara diam-diam tanpa perayaan yang meriah seperti pernikahan pada umumnya. Itu karena Jo belum siap untuk mengumumkan pernikahannya kepada publik. Dia juga takut jika teman-temannya akan menjauhinya di karenakan dia sudah menikah. Ayahnya pun menyetujuinya, begitu pula keluarga Maria. Alasan Jo sangat terdengar masuk akal tapi itu hanya kebohongan belaka. Alasan sebenarnya adalah dia tidak ingin pernikahannya di ketahui oleh siapapun, selain dia tidak menyukai Maria, dia juga tidak mengakuinya sebagai istri. Mulai detik inilah kehidupan baru mereka dimulai.

__ADS_1


"Senang ya jadi istriku?"


Maria mengerti sifat laki-laki di hadapannya ini memang arogan. Percuma berdebat, dia lebih memilih untuk diam mendengar semua perkataannya.


"Kamu hanyalah mainan bagiku! Jangan berharap kamu akan menjadi tuan putri, cewek cupu!"


Apa! Cewek cupu! Dulu waktu di sekolah aku memang sering memakai kacamata, karena mataku mudah lelah dan terasa pedas jika membaca terlalu lama. Tapi bukan bearti aku ini cupu.


"Kamu tidur di sofa!" titah Jo tegas


"Iya kak."


"Jangan panggil kak! Mulai sekarang sebut saja namaku! Kamu harus terbiasa, agar ayah berpikir rumah tangga kita harmonis! Aku tidak mau diriku terkesan jelek di mata ayahku!"


"Iya kak. Eh maaf, Jo."


"Bagus!"


Jo sudah mengganti jasnya dengan piyama. Tanpa mempedulikan Maria yang masih berdiri di samping tempat tidurnya, dia merebahkan tubuhnya di ranjang. Diam-diam Maria memperhatikannya yang sudah memejamkan mata.


Apa dia bisa tidur? Bukankah dulu ayahnya pernah mengatakan kalau dia selalu mengkonsumsi obat sebelum tidur, tapi dia sudah terlelap sekarang. Hmm, apa peduliku. Masa bodoh, lebih baik sekarang aku tidur saja. Aku lelah.


Maria kemudian membaringkan tubuhnya di sofa yang terletak di samping tempat tidur, lalu membungkus tubuhnya dengan selimut.


Apa dia sudah tidur?


Jo membuka mata perlahan, dia beranjak dari ranjang mencari sesuatu di laci kamarnya.


Obatku habis! Perasaan kemarin masih ada! Aduh, bagaimana ini?


Jo kemudian melirik istrinya yang sudah tertidur pulas, dengan pelan dia melangkahkan kakinya ke sofa. Dia menatap Maria lekat, lalu menyingkap selimutnya.


Ini konyol sekali! Maria, aku mau pinjam tubuhmu. Hanya satu kali, hanya untuk malam ini.


Jo lantas menggeser tubuh Maria sedikit agar lebih ke tengah, lalu membaringkan tubuhnya di sisi pinggir. Sekarang posisi mereka saling berhadapan, Jo menindih kaki Maria, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Maria, dia bisa merasakan nafas Maria dari jarak yang sangat dekat.


Hangat. Pelukan ini rasanya hangat sekali.


Dia melingkarkan lengan Maria ke pinggangnya, seakan Maria memeluknya. Tak lama kemudian ia terlelap.


***


Hari sudah pagi, Maria membuka kelopak matanya. Dia terkejut mendapati seorang laki-laki tampan dengan mata terpejam yang tidur di sampingnya.


Jo


"Aaaaa!!!" teriak Maria sambil mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh ke lantai


"Aduh!!"


Maria menarik selimutnya dan menggenggamnya dengan erat di dadanya.


"Maria!! Apa kamu sudah gila!!"


"Maafkan aku! Aku kaget tiba-tiba kamu tidur disampingku."


"Jadi kamu marah karena aku tidur disampingmu! Asal kamu tahu, jika obatku tidak habis, aku tidak akan memelukmu semalam! Aku terpaksa tidur denganmu!"


Syukurlah dia tidak menyukaiku. Jadi aku punya kesempatan untuk pergi darinya suatu hari nanti.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2