Suami Yang Dibenci

Suami Yang Dibenci
Solusi


__ADS_3

J Company


"Sarah, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak menceritakan masalahku padamu."


"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Kalau anda membutuhkan tempat berbagi, dengan senang hati, saya bersedia mendengarkan anda." Sarah tersenyum


"Terima kasih Sarah. Kamu sangat baik."


"Kalau begitu saya permisi." Sarah beranjak dari kursi, menunduk hormat sebelum melangkah keluar dari ruangan.


Dia kembali ke ruangannya, meremas baju di bagian dadanya untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Saat itu pula airmata mengalir dengan sendirinya. Hatinya sakit, sangat sakit.


Di sisi lain, Dev kembali menyandarkan kepalanya di kursi. Menatap kosong ke arah langit-langit. Seolah-olah kekasihnya saat ini ada didepan matanya.


"Maria, kamu ada dimana? Kamu sedang apa? Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku sangat merindukanmu."


Flashback


Di taman


"Maria, selama aku di luar negeri, kamu tidak akan selingkuh kan?"


"Dev, kamu tega bicara begitu."


"Maaf, aku takut kamu akan bosan. 4 tahun bukan waktu yang singkat."


Maria meraih kedua tangan Dev dan menggenggamnya.


"Dev, dalam hatiku hanya ada kamu seorang. Kamu adalah cinta pertamaku, dan aku sangat menyayangimu. Aku tidak mungkin menghianatimu."


Flashback end


"Konyol. Semua perkataanmu omong kosong Maria." Dev menghela nafas lelah, hampir 3 bulan sudah ia seperti ini. Meratapi masa lalu yang kini tinggal kenangan.


***


Hari-hari yang di jalani Maria sejak pergi meninggalkan rumah adalah bekerja di sebuah cafe. Tentu Marco lah yang merekomendasikan pekerjaan untuk Maria. Teman kecilnya itu sangat peduli dan perhatian padanya, sebenarnya Marco tidak masalah jika harus memenuhi kebutuhan Maria. Seperti tempat tinggal, kebutuhan pokok, dan pendidikannya. Dia sangat tulus, karena mereka sudah berteman sejak kecil, bahkan mereka sudah seperti saudara.


Maria sangat beruntung memiliki Marco, setidaknya masih ada satu orang yang bisa di jadikan tempat berlabuh. Terpisah dari orang tua, dan hubungannya yang rumit dengan suaminya. Maria ingin lepas dari semua ini tapi dia tak mampu. Entah apa yang akan terjadi ke depannya. Dia sudah kehilangan semuanya, cinta, kasih sayang, dan harga diri.


Maria memutuskan untuk menjalani hidup baru tanpa keluarga di sisinya. Berat rasanya, namun dia tak punya pilihan. Malam ini dia menghabiskan waktu bersama temannya seprofesi, salah satunya adalah Sasha. Tiba giliran Maria untuk menyanyi, setelah temannya yang lain selesai.


Maria menghela nafas panjang sebelum naik ke atas panggung. Setiap lagu yang di nyanyikan olehnya membuat pengunjung yang mendengarkan ikut terhanyut dan terbawa perasaan. Maria menyanyi dengan penuh penghayatan, terlebih lagu yang di nyanyikan sangat cocok dengan suasana hatinya saat ini.


🎵Terlambat sudah aku menyadari


🎵Setelah hatiku kini terluka


🎵Hatiku yang tulus selalu mencintai


🎵Dan menyayangimu segenap jiwa


🎵Kini kucoba untuk merenungi


🎵Dalam hati ini kucoba bertanya


🎵Apakah salahku hingga dirimu pergi?


🎵Cintaku menjadi harapku sia-sia


🎵Dalam diam ku terpaku

__ADS_1


🎵Sedih hatiku tiada berbicara


🎵Lemah diriku sungguh tidak berdaya


🎵Kepergianmu membuatku tersiksa


🎵Andaikan waktu bisa kuputar kembali


🎵Kuingin dirimu tetap ada disini


🎵Melewati kisah cinta yang kita jalani


🎵Ku tak mampu bila dirimu pergi


🎵Terdiam kutenggelam meniti sepi malam


🎵Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan


🎵Mengalir air mata membasahi pipi


🎵Kutepiskan semua dengan ikhlas hati


🎵Ku ikhlaskan engkau pergi


🎵Dalam hatikupun sudah rela


🎵Jika nanti kau kembali


🎵Pintu hatiku s'lalu terbuka


Maria telah menyelesaikan lagunya. Suara tepuk tangan terdengar dari salah seorang pengunjung yang berdiri di sudut ruangan. Tepat pukul 10 malam, akhirnya tiba waktunya Maria pulang. Maria berdiri di depan cafe sembari menunggu taksi. Namun niatnya terurung setelah seseorang muncul di hadapannya.


"Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama, Maria."


"Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama, Maria."


Jantung Maria seakan mau berhenti berdetak. Pandangan mata itu, senyuman yang sangat dia rindukan. Ya, dia mengenalnya.


Masih dalam keadaan diam mematung, laki-laki itu melangkah mendekatinya. Tangannya terulur mengusap wajah Maria dengan lembut.


"Jadi, kamu benar-benar Maria?"


Tidak ada jawaban, untuk sesaat mereka terdiam seiring airmata yang mengalir dari pelupuk mata mereka masing-masing.


Tanpa mengucap kata lagi, laki-laki itu memeluk Maria dengan erat.


"Jadi ini benar-benar kamu Maria?" tanya laki-laki itu semakin terisak


"Dimana kamu selama ini? Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi aku tidak pernah menemukanmu." Laki-laki itu semakin mempererat pelukannya, dengan bibir bergetar, Maria berusaha menjawab.


"A apa, ini benar-benar kamu Dev?"


"Iya, ini aku."


Air mata sudah tak bisa di bendung, Maria membalas pelukannya sangat erat, pelukan yang sudah lama ia rindukan.


"Dev.."


Akhirnya dia kembali menyebut nama itu, airmata mengalir semakin deras dari keduanya, mereka tak peduli pandangan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.


"Dev, maafkan aku."

__ADS_1


"Kenapa kamu minta maaf?"


"A aku, sudah menyakitimu." Maria berujar dengan sesenggukan


"Kamu tidak bersalah Maria, kamu tidak perlu minta maaf."


"Tapi kamu membenciku kan?"


"Tidak, aku tidak membencimu. Hanya saja, aku merasa kecewa. Harusnya kamu jujur saja dari awal."


Maria mengerjapkan mata, dengan sekuat tenaga dia menarik tubuhnya dari pelukan kekasihnya.


"Jangan mendekat." Maria melangkah mundur saat Dev hendak mendekatinya


"Jangan sentuh aku." Maria kembali melangkah mundur ketika Dev berusaha menyentuhnya


"Kamu kenapa Maria?"


Bukannya menjawab, Maria justru menangis.


"Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?"


Maria diam sejenak, mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


"Dev, aku.. aku.. sudah.. tidak suci lagi."


Akhirnya Maria kembali menangis. Kali ini laki-laki itu pasti meninggalkannya seperti dulu, tapi tidak. Justru dia memeluknya dengan erat, mengusap punggungnya agar berhenti menangis.


"Dev."


"Kamu jahat sekali Maria. Padahal kita baru saja bertemu setelah sekian lama, tapi kamu malah mengusirku."


Maria merasa bingung, seakan-akan kekasihnya tidak terkejut sama sekali dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


"Dev, kamu tidak membenciku?"


"Kalau aku membencimu, kenapa aku mencarimu?"


Maria spontan terbelalak, dia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Tak lama kemudian, Dev melepas pelukannya, kembali menatap manik madu itu dengan sayu, dengan tangannya yang tetap memegang pundak Maria.


"Siapapun kamu, bagaimanapun keadaanmu, perasaanku padamu tidak berubah. Hatiku tulus mencintaimu. Dan aku menerimamu apa adanya, Maria."


"Dev.."


"Maria, apa kamu masih mencintaiku?"


Maria tersentuh mendengar ucapan tulus kekasihnya. Perlahan tapi pasti, dia menjawab tanpa keraguan.


"Iya, aku sangat mencintaimu."


Dev tersenyum.


"Kita bisa bersama lagi kan?"


"Aku tidak pantas untukmu Dev, kamu terlalu sempurna untukku."


"Hentikan omong kosong itu, sudah ku katakan, aku menerimamu apa adanya. Andai saja aku tidak meninggalkanmu dulu, ini tidak akan terjadi padamu."


Dev memeluk Maria dengan erat saat Maria kembali menangis. Dia membelai rambutnya dengan lembut, berakhir dengan mengecup pucuk kepala Maria dengan penuh cinta.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2