
"Charles." ucap Marco
Agnez yang merasa panik berusaha setenang mungkin menerima panggilan telefon itu dan menempelkan jari telunjuknya dibibir pada Marco, pertanda menyuruhnya untuk tidak bersuara.
"Hallo."
"Lama sekali kau angkat telfon dariku."
"Tadi aku masih di toilet."
"Oh ya? Kau tidak ke diskotik lagi kan?"
"Tidak. Apa kau tidak bosan terus menanyakan hal itu? Untuk sehari saja biarkan aku tenang."
"Jadi aku membuatmu terganggu begitu?"
"Kumohon percayalah padaku, aku akan baik-baik saja disini."
"Berapa lama lagi kau tinggal disana?"
"Mungkin satu bulan sampai sahabatku melahirkan. Aku ingin melihat calon anak ketiganya. Ya, please."
Terdengar hela nafas berat melalui seberang telefon.
"Ya sudah. Tapi setelah satu bulan kau harus benar-benar kembali."
"Iya, aku janji."
Sambungan diputus.
"Tadi telfon dari siapa?" tanya Marco pada Agnez yang masih bergeming. "Pacarmu ya?" lanjutnya
"Tadi telfon dari kakakku." jawab Agnez dengan lesu
"Tapi kelihatannya kau selalu kesal setiap menerima panggilan darinya." tanya Marco keheranan
Mereka pun mendudukkan diri di sofa saling berhadapan untuk melanjutkan pembicaraan.
"Kakakku selalu seperti itu. Dia selalu mengawasiku. Apalagi setelah di Jerman, dia semakin membatasi kebebasanku. Tidak boleh inilah tidak boleh itulah, aku sangat tertekan." Agnez menjelaskan rentetan masalah hidupnya dengan wajah sendu
"Kakakku terlalu over protektif, aku tahu tujuannya baik. Tapi itu membuatku merasa sesak." jelas Agnez lalu menghembuskan nafas kasar
__ADS_1
Marco yang mendengar kisahnya tidak bisa memberikan solusi, dia pun hanya bisa menjadi pendengar selama Agnez meluapkan seluruh isi hatinya.
"Maaf, aku jadi menceritakan masalahku padamu."
"Tidak apa-apa. Kau boleh berbagi denganku, dengan begitu bebanmu akan berkurang."
"Sekarang aku merasa lega. Terima kasih, kau mau mendengarkanku."
Marco hanya membalas dengan senyum lembut, kemudian kembali memakai jaketnya, mengantarkan Agnez pulang karena hari sudah malam.
Hari demi hari, hubungan mereka semakin akrab sebagai teman. Sampai tak terasa waktu Agnez berada ditengah-tengah sahabatnya, Jo dan Maria semakin sedikit. Maria sudah mendekati kelahiran calon anak ketiganya. Dan pada saat itu, Agnez semakin merasa sedih.
Kini setiap datang berkunjung menemui si kembar, Agnez selalu bersama Marco. Hal itu menimbulkan tanya dibenak Jo dan Maria jika ada sesuatu diantara mereka. Namun mereka selalu menyangkalnya jika mereka hanya berteman. Pada siang hari, Marco mengajak Agnez ke apartemennya sepulang dari rumah Jo.
Hingga sore hari, Agnez masih bersama Marco di balkon apartemen, berdiri menatap senja yang terlihat sangat indah.
"Lihatlah, warnanya benar-benar cantik." ucap Marco sambil tersenyum kecil.
"Benar." balas Agnez menikmati sunset yang begitu indah
"Kau adalah gadis pertama yang kuajak kemari dan melihat sunset bersamaku." ucap Marco tanpa memalingkan pandangannya, baginya Agnez adalah nomor satu, meskipun dia pernah bersama Maria.
"Apa tadi aku tidak salah dengar, kau menyebutku tampan?" tanya Marco dengan senyum evilnya.
"Ti tidak, kau pasti salah dengar." sangkal Agnez tidak ingin mengakui kalau kelepasan bicara
"Aku yakin aku tidak salah dengar."
"Kau salah dengar."
"Kurasa kau mulai menyukaiku. Iya kan?" tanya Marco membuat wajah Agnez sedikit bersemu merah.
"Ti.. tidak, kau masuk dalam daftar orang yang kubenci mana mungkin aku menyukaimu." Elak Agnez
"Baiklah, akan kutunggu sampai kau menyukaiku." ucap Marco sambil mencolek dagu Agnez. Agnez hanya menyungut kesal dengan kelakuannya.
"Kau jangan bergerak, kalau kau bergerak aku akan menciummu." tiba-tiba Marco mengancam Agnez dan melangkah mendekatinya.
"Kau mau apa?" tanya Agnez sedikit takut. Agnez pun menuruti perintah Marco, dia tidak bergerak sedikitpun saat Marco mendekatinya, dan mengambil ponsel yang ada di saku jeans yang dia kenakan.
"Kembalikan ponselku." pinta Agnez kepada Marco yang sedang mengutak atik ponselnya. Marco dengan mudah membuka kunci ponsel Agnez, karena ponselnya tidak diberi kode keamanan.
__ADS_1
"Diam disana atau aku akan menciummu." Ancam Marco sambil terus mengutak-atik ponsel Agnez. Marco memeriksa kontak, dia menyimpan nomornya di ponsel Agnez dengan nama My Love sungguh perilaku yang kekanakan.
"Ini." Marco mengembalikan ponsel Agnez
"Apa yang kau lakukan dengan ponselku?"
"Nanti kau juga akan tahu ketika aku menelfonmu. Ayo kuantar kau pulang." Marco melenggang memasuki apartemennya, mengambil kunci mobil yang tadi ia lempar keatas meja.
"Aku masih ingin disini. Aku kesepian di apartemenku. Biarkan aku disini sampai jam 8 malam." pinta Agnez dengan wajah memohon
"Baiklah." balas Marco dengan senyum lembut
***
Malam Hari..
"Sepertinya aku jadi mengganggumu, kau kelihatan sangat sibuk." Ujar Agnez melihat Marco yang berkutat dengan laptopnya
"Aku hanya memeriksa beberapa dokumen, sebentar lagi juga selesai." Jawab Marco tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop
Agnez beranjak dari sofa berjalan ke dapur, berniat mengambil air putih, namun dia tidak sengaja menemukan beberapa botol wine yang ada di kulkas.
"Kenapa kau tidak bilang sih kalau kau punya alkohol." Ucap Agnez sembari melangkah mendekati Marco yang duduk di sofa
"Cepat kembalikan." Marco terkejut melihat botol wine ditangan Agnez
"Kenapa? Aku hanya ingin minum sedikit, kau pelit sekali sih."
Bukannya Marco tidak ingin berbagi, namun dia berusaha agar jangan sampai lepas kendali jika bersama seorang wanita. Alkohol berbahaya baginya jika diminum bersama wanita, apalagi mereka hanya berdua dalam satu atap.
"Baiklah, kau boleh minum. Tapi sedikit saja, jangan sampai kau mabuk." tutur Marco
"Tapi apa kau akan membiarkanku minum sendirian?" Agnez menawarkan segelas wine kepada Marco.
"Aku tidak minum." tolak Marco, meskipun anggur merah itu menggoda tenggorokannya.
"Ayolah, temani aku minum. Tidak seru kalau aku minum sendirian."
Akhirnya Marco terpaksa menerima segelas wine dari tangan Agnez sampai dia lupa dengan prinsipnya. Mereka pun akhirnya minum cukup banyak sampai mereka mabuk. Marco yang mulai kehilangan kesadaran diri, dia mengangkat tubuh Agnez dan menghempaskannya keatas ranjang. Marco memandang Agnez dengan seringai licik di bibirnya, matanya menelusuri seluruh lekuk tubuh Agnez dari atas sampai ke bawah. Tanpa berlama-lama lagi, dia melepas pakaiannya sendiri dan melemparnya ke lantai. Dengan cepat, Marco menindih tubuh Agnez yang tidak berdaya karena minum alkohol terlalu banyak.
Bersambung
__ADS_1